Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Boshan


°°°~Happy Reading~°°°


"Mas, anak-anak dimana? Bukannya seharusnya sudah pulang sejak 2 jam lalu?" Seru Ana mulai di landa khawatir. Anak-anak belum ada mengunjunginya bahkan setelah ia melahirkan dan kini sudah dipindahkan ke ruangannya.


"Entahlah, sayang. Katanya mama sama papa yang menjemput anak-anak tadi. Tapi kenapa sampai sekarang belum muncul juga mereka? Coba mas telpon dulu."


Baru hitungan ketiga, sambungan telepon itu sudah terhubung. "Bagaimana, Marc? Apa Ana sudah melahirkan?" Terdengar suara mama Elena setengah berbisik.


"Alhamdulillah sudah ma. Mama sudah menjemput anak-anak? Dimana mereka sekarang?"


"Glanny, lumah shakit mashih dauh? Keunnapa dalli tadi eundak shampai-shampai? Mollin dah boshan dallam shini mullullu..." Lirih terdengar rengekan dari si kecil Maurin.


"Iya, sayang. Sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit."


"Ya sudah Marc. Kita akan segera kesana."


Tut.


Panggilan telepon itu terputus begitu saja, membuat Marcus sontak menatap layar ponselnya sedikit memicing.


"Bagaimana mas? Anak-anak baik-baik saja? Dimana mereka?" Tanya Ana tak sabar.


"Mereka akan segera kesini." Timpal Marcus berangsur duduk di bangku sebelah ranjang rawat Ana. Tangannya kini bergerak mengusap wajah Ana. Mengapa setelah melahirkan, istrinya itu malah semakin cantik di matanya. Apa karena ia telah melihat secara langsung bagaimana perjuangan Ana untuk bisa melahirkan anak-anaknya?


"Bagaimana Maurin. Apa dia rewel?"


"Tidak perlu memikirkan hal itu. Maurin baik-baik saja, Sayang." Timpal Marcus menghamburkan kecupan di bibir itu. Namun Ana tak memprotes. Anak-anak jauh menjadi beban pikirannya saat ini. Apalagi Maurin. Ia takut gadis kecil itu akan menangis karena dirinya yang tak dapat menemani gadis manja itu.


Selang lima belas menit, rombongan itu akhirnya sampai di ruangan Ana. Maurin yang sudah sejak tadi merindukan sosok sang mama sontak merengkuh Ana yang masih terlentang di ranjangnya.


"Mommy, Mollin lindu mommy." Rengek gadis kecil itu ingin mendapat perhatian lebih.


"Oh, sayangnya mommy. Kenapa cemberut sayang?" Tangan itu bergerak membelai wajah cantik sang putri.


"Keunnapa lumah shakit dauh sheukalli mommy? Mollin boshan sheukalli duduk lamma-lamma dallam kall... ."


"Jauh? Tidak sayang. Mungkin itu hanya pikiran Maurin saja. Bukankah kita sudah biasa pergi ke rumah sakit ini untuk melihat adek bayi?" Ana memicing. Ini adalah rumah sakit keluarga yang letaknya saja tidak kurang dari 20 menit dari kediaman Marcus.


"No mommy. Lumah shakit yang ini dauh sheukalli. Eundak shama shepeulti lumah shakit yang dullu-dullu. Tadi Mollin shampai tidull banak-banak tapi eundak shampai-shampai duga. Mollin boshan-boshan. Glanny shuppik-shuppik shebeuntall tullush tapi eundak shampai-shampai. Glanny kibull-kibull Mollin."


"Bisakah kamu menjelaskannya pada Daddy boy?"


"Granny membawa kita berputar-putar agar Maurin tidak merusuh saat di rumah sakit, dad. Benar-benar membosankan. Mallfin tidak membawa buku karena Mallfin pikir itu akan cepat sampai."


"Berapa lama?"


"Mungkin ada 2 jam lebih."


Membuat Marcus sontak mendelik. "Dua jam?!"


"Ma, apa kau ingin membuat anak-anak mabuk perjalanan?" Sindir Marcus pada sang mama yang kini menatap kagum putra kecilnya. Membuat mama Elena yang sedari masuk langsung melenggang ke arah box bayi itu sontak dibuat tak terima.


"Kamu nggak terima? Padahal mama sudah menjaga anak-anak kamu loh, Marc. Seharusnya kamu berterimakasih pada mama."


Marcus tau arah pembicaraan mama Elena. Perempuan itu pasti meminta imbalannya. Bukan tak ikhlas menjaga buah hatinya, mama Elena hanya memanfaatkan kesempatan yang ada.


"Baiklah. Nanti Marc belikan kapal pesiar. Kalian berliburlah berdua."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Maaf ya othor baru muncul, hihihi


Happy reading


Saranghaja 💕💕💕