Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Buka Saja


°°°~Happy Reading~°°°


Drama perdebatan kembali dimulai saat si kecil Maurin kini mulai memonopoli tubuh sang daddy. Gadis kecil itu benar-benar serakah hingga ingin selalu berada di dekat sang daddy tanpa sedikitpun memberikan kesempatan pada si kecil Mallfin.


"Mollin mau shamping daddy. Apin shamping mommy shaja ya," seru gadis kecil itu seenaknya sendiri.


"Terserah kau saja, Maurin." Timpal Mallfin acuh. Meski sebenarnya ia juga ingin berada dekat di samping sang daddy, namun tidak apa, Maurin lebih merindukan kehadiran sang daddy sejak kecil.


Membuat Ana menghela nafas dalam. Perempuan itu jadi serba salah. Tidak mungkin jika ia membiarkan sang putri terus saja menempel pada Marcus tanpa memberikan kesempatan pada sang putra untuk dekat juga dengan laki-laki berparas rupawan itu.


"Maurin tidak ingin tidur di samping mommy saja?" Tanya Ana pura-pura memasang tampang sedih.


"Eundak mommy, Mollin shamping daddy shaja, Mollin mau puk puk daddy, hihihi... ."


"Kalau begitu, biar daddy saja yang tidur di tengah. Nanti Maurin dan Mallfin bisa peluk daddy sama-sama." Seru Marcus tak ingin pilih kasih.


Mallfin menggeleng. "Tidak usah daddy, seperti ini saja tidak apa-apa. Biar Mallfin di samping mommy saja." Tolak Mallfin. Tidak perlu tidur di samping sang daddy, keluarganya bisa berkumpul seperti ini saja, Mallfin sudah amat bahagia.


"Baiklah. Kalau begitu, biar adil tidurnya gantian. Sehari Maurin sehari Mallfin. Sekarang Maurin yang tidur di samping daddy, besok gantian Mallfin yang tidur di samping daddy." Putus Ana.


Sejenak Maurin menimbang. Kepalanya setengah mendongak, seolah tengah berpikir keras. "Oke, shiap mommy. Mollin tudjuh. Badush badush badush. Mollin shuka."


"Baiklah. Sekarang kita tidur. Sudah malam twins." Seru Marcus menginterupsi.


Perlahan, anak-anak merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size itu. Manik mata itu perlahan terpejam. Anak-anak akhirnya terlelap tak lama setelah sepasang suami istri itu mengusap punggung kecil itu serempak.


"Kamu sebaiknya tidur juga."


Angguk Ana. Perempuan itu kemudian ikut merebahkan tubuhnya. Hari ini benar-benar melelahkan. Apalagi setelah acara pernikahan pagi itu, ia masih harus menyapa para tamu undangan yang seluruhnya berasal dari kalangan kerabat.


"T-tidak, mas." Ana tergagap. Bagaimanapun perempuan itu tak pernah melepaskan hijabnya di depan laki-laki yang bukan mahramnya. Rasanya, Ana sangat malu untuk sekedar memperlihatkan rambut indahnya pada laki-laki yang bahkan kini telah resmi menjadi suaminya.


"Buka saja. Aku tidak akan melihatnya." Seru Marcus kemudian merebahkan tubuhnya memunggungi Ana. Ia sadar, mungkin Ana masih butuh waktu untuk bisa sepenuhnya menerimanya.


Membuat Ana seketika itu mencelos. Apa ia telah menyinggung suaminya tanpa sengaja dengan tidak memperbolehkannya melihat mahkotanya? Apa ia telah salah dalam bersikap tanpa disadarinya?


Rasa bersalah itu seketika menyeruak. Bagaimana ini. Ia bahkan telah berbuat dosa besar di hari pertama pernikahannya dengan penolakannya terhadap suami yang telah meminangnya.


🍁🍁🍁


Ana terbangun kala fajar mulai menyingsing. Perempuan itu perlahan mengerjap. Ruangan yang terasa asing itu berhasil membuat perempuan itu seketika terbangun dari tidurnya.


Menelisik ke sekeliling ruangan. Ahhh... iya. Ini ruang kamar milik Marcus. Bahkan statusnya kini telah berubah menjadi seorang istri dari sosok lelaki yang tengah terlelap di sisi kiri sang putri.


Perempuan itu bangkit dari duduknya. Memutari ranjang. Hingga sampailah Ana di samping sang suami yang masih terlelap nyenyak.


Ana menggeleng. Putrinya benar-benar tak bisa diam bahkan dalam tidurnya sekalipun. Kaki kanannya kini bahkan telah bertengger di atas perut Marcus. Membuat Ana mau tak mau menyingkirkan kaki itu dari atas badan sang suami, khawatir jika laki-laki itu akan merasakan kebas begitu bangun dari tidurnya. Padahal, nyatanya, berat badan sang putri tak ada apa-apanya untuk seorang Marcus yang memiliki tubuh atletis.


Baru tangannya berhasil meletakkan kaki sang putri dengan benar, Marcus terlihat terusik. Laki-laki itu berguling ke kiri kemudian meraup benda apapun di depannya.


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading semua


Saranghaja 💕💕💕