Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Rencana


°°°~Happy Reading~°°°


Setelah perjuangannya mendekati si kecil Maurin, si kecil Arshi pun tampak menikmati waktunya bermain bersama dengan si kecil Maurin. Keduanya tampak begitu asik bermain bersama tanpa memperdulikan sekeliling. Membuat Marvell seketika itu geleng-geleng kepala.


"Secepat ini? Apa mereka sudah akrab sekarang?"


"Mereka pandai mengakrabkan diri, mas. Jadi tidak sulit melakukan itu," timpal Anelis.


Tak mendapatkan respon lebih dari Marcus, membuat Marvell sontak menoleh. "Hei, kenapa kau menekuk muka terus heummm... Apa kau terintimidasi di sini? Padahal aku disini hanya ingin menjenguk put--"


Tepukan keras di paha itu membuat Marvell seketika itu terbungkam. Sadar jika fakta itu tak dapat ia katakan saat ini, membuat Marvell kemudian mengoreksi. "No. i mean-- Ummm, i mean-- kenalanmu."


"Watch your mouth, dammit." Geram Marcus menatap nyalang pada sang sepupu.


(Jaga bicaramu, sial*n)


"Ouhhh, sorry Marc. Glad you reminded me."


(Maaf Marc, untung kamu mengingatkanku."


Shhhit... .


Marcus rasanya ingin menonjok wajah menyebalkan yang kini tersenyum tanpa merasa berdosa itu.


Ekhm... .


Anelis berdeham, berusaha meredam kecanggungan yang tiba-tiba menyeruak. "Ana, bagaimana keadaan Mallfin, apa sudah lebih baik? Kapan diperbolehkan pulang?"


"Kemungkinan beberapa hari lagi dokter sudah memperbolehkannya pulang Ne."


"Syukurlah kalau begitu."


"Ku harap setelah ini anak-anak bisa lebih akrab. Benarkan, Sayang?" Seru Anelis meminta pendapat pada sang putra. Sedari menginjakkan kaki di sini, wajah itu hanya di tekuk saja. Persis seperti Marvell saat pertaman kali bertemu dengannya dulu. Bagaimanapun buah jatuh tak jauh dari pohonnya.


"Yes, mommy." Arsha tak ragu untuk mengangguk. Permintaan Anelis bagaikan titah yang harus ia patuhi.


🍁🍁🍁


"Sebenarnya ada apa ini, kenapa kau memaksaku keluar, huh..." Gerutu Marcus saat sepupunya itu tiba-tiba memaksanya keluar dari ruangan. Bukannya menemani sang putra yang tengah sakit, kini ia malah di culik ke sebuah kafe depan rumah sakit.


"Tenanglah. Minum saja kopi mu dan biarkan istriku beraksi," sahut Marvell dengan santainya sembari menyeruput minumannya.


"Apa maksudmu, huh?!" Geram Marcus tak dapat menahan keingintahuannya.


Membuat Marcus sontak semakin geram. "Vel!!!" Sepupunya itu benar-benar suka sekali membuatnya kesal. Entah dalam urusan keluarga atau pun pekerjaan, laki-laki itu benar-benar menyebalkan.


"Ck, kau berisik sekali, Marc." Decak Marvell.


"Katakan atau akan aku ratakan mall yang baru kau resmikan seminggu lalu." ancam Marcus tak main-main.


"Ck, bisanya hanya mengancam. Meluluhkan satu wanita saja sudah mau menyerah."


"Oke. Aku akan menghubungi Felix dan menyuruhnya meratakan mall jelek itu." Laki-laki itu serius dengan ucapannya. Tangan kanan itu bahkan sudah merogoh ponsel yang ada di saku celananya.


"Oke oke baiklah. Simpan dulu ponselmu."


Marcus menurut, dengan hati dongkol laki-laki itu kembali memasukkan ponselnya ke saku celana. "Jadi apa maksudmu, huh... ."


"Istriku, dia akan mencoba membujuk wanitamu agar mau menikah denganmu."


"Seriously? apa kau hanya ingin membodohiku?"


Membuat Marvell sontak berdecak kesal. "Ck. Kau tidak percaya denganku? Apa aku harus menelpon istriku dan membatalkan rencana itu?"


"Oke, stop it. I believe it. Tapi, apa ini akan berhasil?"


"Entahlah, ku pikir itu akan berhasil. Bagaimanapun mereka pernah berada di situasi yang sama. Mereka akan saling memahami. Maka dari itu, aku memanfaatkan istriku."


"Ck, kau suami yang sangat buruk sampai-sampai memanfaatkan istri sendiri."


"Ini juga demi dirimu, bodoh."


"Ck. Tidak berkaca. Kau dulu juga sangat bodoh sampai-sampai hampir gila hanya demi wanita."


"Sial*n."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading semua


Saranghaja 💕💕💕