
°°°~Happy Reading~°°°
"Tuan, ada paket dari tuan Marcus."
Laki-laki yang tengah merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan paha sang istri sebagai bantalannya itu seketika mengernyitkan dahi.
"Marc? Kenapa tiba-tiba dia mengirimkan paket segala. Apa isinya bom?"
Membuat satu pukulan itu melayang tepat di lengan kekarnya. "Kamu tuh jangan suka suudzon ya mas. Siapa tau itu penting." Peringat Anelis. Memaksa laki-laki itu untuk beranjak dari tidurnya. Mengganggu sekali, padahal ia tengah menikmati waktu berdua dengan sang istri. Mumpung anak-anak tengah bermain di taman belakang.
Menyaut kotak berukuran sedang itu dengan setengah malas, kemudian mengocoknya. Membuat Anelis menghela nafas dalam. "Jangan digituin, mas. Gimana nanti kalau isinya hancur?"
Membuat Marvell seketika itu menyengir. "Test drive, Sayang... Siapa tau isinya bener bom."
Anelis hanya bisa geleng-geleng kepalanya. Suaminya itu benar-benar kekanakan, lebih parah dari pada anak-anaknya sendiri.
"Ada apa bocah itu tiba-tiba mengirimkan beginian segala. Ck, merepotkan sekali." Rutuk Marvell. Tangannya bergerak membuka kotak itu dengan sedikit kasar. Begitu terbuka, manik mata itu seketika membeliak, tangannya refleks bergerak membuang kotak itu menjauh dari tubuhnya.
Membuat Ana sontak kebingungan. "Kenapa, mas?"
Buru-buru perempuan itu mendekat pada sang suami yang terlihat terkejut luar biasa.
"Sial*n kau, Marc." Desis laki-laki menahan kesal. Marcus benar-benar keterlaluan kali ini.
"Kenapa, mas. Memang apa isinya?"
Memaksa Anelis untuk segera memeriksa kotak yang sudah teronggok di lantai itu penuh keingintahuan.
"Jangan di buka sayang. Si Marc udah gila sepertinya. Bisa-bisanya dia kirim mayat bayi kesini. Minta di bangkrutin apa perusahaannya?!" Peringat Marvell pada sang istri.
Anelis tak mengindahkan permintaan suaminya, perempuan itu tetap bergerak memeriksa kotak itu dengan rasa takut yang membuncah.
Perlahan, kotak itu pun terbuka, menampilkan sosok boneka bayi yang begitu cantik dan menggemaskan. Membuat Anelis sontak menghela nafas dalam. Ini akibat suaminya tidak membuka kotak itu dengan sempurna. Mungkin tadi yang terlihat hanya matanya saja yang terlihat seperti bayi sungguhan.
"Astaghfirullah. Mas ini suka ngaco. Ini bukan mayat bayi mas. Lihat, ini hanya boneka bayi..." Seru Anelis menyodorkan boneka menggemaskan itu pada sang suami. Membuat Marcus seketika mendengus.
"Ck. Ku kira tadi benar-benar mayat. Kalau benar dia mengirimkan mayat kesini. Habis perusahaannya aku bikin gulung tikar."
"Iya iya. Memang ngapain sih dia ngirim beginian kesini. Dikiranya kita ngga ada bayi ya di rumah. Padahal Arshell jauh lebih menggemaskan dari pada ini." Dengusnya mencubit hidung boneka bayi perempuan itu dengan gemas.
"Mommy mommy, itu apa myh... ."
Gadis kecil itu berlarian masuk ke dalam kediaman saat menatap pada sang mommy yang terlihat membawa boneka di tangannya.
"Woahhh, tantik sheukalli mommy. Ini buat Ashi?"
Tanpa insterupsi, gadis kecil itupun menyaut boneka bayi itu dari tangan sang mommy. Menimangnya layaknya bayi sungguhan.
"Woahhh... Ini kullen sheukalli myh. Boneka na tantik sheukalli. Shepeulti dedek bayi oek-oek ashulli ya myh." Seru gadis kecil itu tak dapat menyembunyikan kekagumannya.
Hingga tangan mungil itu tanpa sengaja menjatuhkan sepucuk surat yang sebelumnya tertempel di badan bonekanya.
"Woahhh, ada shullaat na."
Merasa sudah sangat mahir dalam hal baca tulis, gadis kecil itu pun mencoba mengeja tulisan dalam kertas itu. Membacanya sejenak, tiba-tiba dahinya mengernyit.
"Tulishan na dullek sheukalli. Ashi eundak bisha baca myh. Mommy toba baca ini myh. Ashi pushing-pushing lihat tullishan dullek itu."
"Sini, mommy bacakan." Anelis pun mengambil alih surat itu dan mulai membacakannya pada sang putri.
"Ini hadiahku untuk Arshi. Sampaikan terimakasih ku pada putri cantikmu. Karena ceramahnya pada putriku, akhirnya aku sekarang bisa--" kalimat Anelis tiba-tiba terhenti. Membuat gadis kecil itu seketika mengernyit.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Melipir ke keluarga Marvell dulu ya bentar, hehehe
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕