Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Jangan Melihat Harganya


°°°~Happy Reading~°°°


"Apin Apin, ayo main lain lagih. Mollin mau toba shemua na." Seru Maurin begitu keluar dari wahana bermain itu dengan bantuan sang bodyguard.


"Tullima kashih uncle." Gadis kecil itu tak lupa mengucapkan terima kasihnya pada sang bodyguard yang telah membantunya menuruni jajaran anak tangga.


"Terimakasih kembali, nona kecil."


"Nama Mollin, Mollin uncle. Eundak nona keutil. Mollin dah beushall, eundak keutill lagi."


Penjelajahan pun di mulai. Satu per satu, wahana permainan itu mereka naiki dengan penuh antusias. Hingga tanpa terasa, jarum jam telah menunjukkan waktu pukul satu siang. Sudah lewat jam makan siang, namun gadis kecil itu masih enggan meninggalkan permainannya.


"Sayang, bermainnya sudah dulu ya. Kapan-kapan lagi kita main kesini, heummm... Kasian daddy sama Mallfin, mereka sudah capek..." Seru Ana mengusap keringat yang membanjiri kening gadis kecil itu.


"Tapi Mollin mashih ingin beullmain shini mommy." Ini sudah hampir 5 jam gadis kecil itu bermain disini, apa masih belum puas juga?


"Girl, bagaimana kalau kita ke mall? Kita harus belanja keperluan sekolah kamu dan Mallfin. Bukankah kalian akan mulai sekolah dua hari lagi?"


Sebelumnya, mereka telah menyepakati jika anak-anak akan mulai sekolah awal pekan depan. Ana pun menyetujuinya, pun dengan anak-anak yang sudah sangat antusias untuk menikmati bangku sekolah yang sudah lama mereka impikan.


"Ohhh iya, daddy. Mollin shuttudju. Ayo kita beullanja banak-banak. Hihihi... ."


Mereka menyempatkan diri makan siang di restoran sebelum akhirnya menepi ke salah satu pusat perbelanjaan. Sesampainya di mall mewah itu, mereka segera melenggang ke sebuah toko tas branded ternama. Tas-tas edisi terbatas itupun terlihat menghiasi beberapa etalase toko dengan perlakuan istimewanya.


"Coba kalian lihat-lihat terlebih dulu. Pilih yang kalian suka, Twins."


"Shiap, Daddy."


Gadis kecil itupun memulai perburuan itu dengan semangat empat lima. Berbeda sekali dengan sosok Mallfin yang tampak santai dan tak seheboh sang kembaran.


"Kamu juga pilihlah. Pilih yang kamu suka." Seru Marcus menahan langkah Ana yang hendak mengikuti kemana langkah anak-anak terarah.


"Tidak perlu mas. Di rumah kan sudah ada banyak tas... ."


"Itu berbeda Ana. Tas itu kan sebagai seserahan saat kita menikah dulu. Yang menyiapkan semuanya juga mama. Sekarang, aku sendiri yang ingin membelikan mu."


Ana tampak ragu.


"Apa aku sendiri yang harus memilihkannya?" Tantang Marcus. Laki-laki itu sudah melenggang pergi meninggalkan Ana yang masih dilanda keraguan. Membuat Ana mau tak mau mengikuti langkah lebar sang suami.


"Mas... Sebaiknya tidak usah dulu, Ana belum terlalu membutuhkannya. Lebih baik di pakai buat beli yang lain dulu." Dengan gaji kecil, Ana sudah terbiasa memprioritaskan segala kebutuhan anak-anaknya. Barang-barang yang selayaknya tidak dibutuhkan, ia tak akan membelinya.


"Lihat, ini sepertinya bagus untuk kamu?" Laki-laki itu menyodorkan tas berwarna hitam di hadapan istrinya. Terlihat sangat elegan. Begitu Ana menilik harga yang harus di bandrol, bola mata itu seketika membeliak.


"Mas? I-ini, tidak salah?"


"Jangan melihat harganya, Ana."


"T-tapi--" Ana panas dingin saat di sodori tas berharga ratusan juta itu. Bahkan tangannya kini gemetar saat sang suami memberikan paksa tas itu di genggamannya.


"Shhht... Sudah. Ambil saja."


"Nona bisa memberikannya pada saya terlebih dulu dan memilih yang lain lagi." Seru seorang pelayan yang bertugas melayani dirinya. Suaminya adalah tamu VVIP, jelas mereka dilayani sebaik mungkin.


"Tidak, saya tidak berniat membeli yang lain lagi." Perempuan itu meringis. Membeli tas ini saja rasanya sayang. Apalagi menambah satu tas lagi. Tidak tidak. Sudah cukup. Ia menerima ini hanya karena menghormati sang suami.


"Baiklah. Anda bisa memberikannya kepada saya dan menemani anak-anak anda memilih tas mereka."


"Baiklah. Terimakasih."


Ana kemudian memberikan tas itu pada pelayan dan bergerak menyusul anak-anaknya. Terlihat gadis kecil itu tengah dikelilingi sang suami juga putra kecilnya.


"Tas nya sudah dapat sayang?"


"Mommy, Mollin pushing-pushing." Keluh gadis kecil itu, membuat Ana sontak dibuat khawatir.


"Pusing kenapa, Sayang. Maurin mau di gendong aja sama mommy?"


"No no mommy. Bukan pushing-pushing itu. Mollin pushing-pushing mau bulli tash yang mana. Ini badush shemua, mommy."


"Kalau begitu beli dua-duanya saja, Girl." Seru Marcus seenak jidatnya. Membuat Ana sontak mendelik.


"Mas, jangan aneh-aneh deh. Jangan boros." Peringat Ana. Mendadak perempuan itu jadi istri yang sangat protektif pada sang suami yang suka menghambur-hamburkan kekayaannya.


"Yesh daddy. Shepeulti itu shaja. Mollin shuttudju."


"Sayang, tidak. Pilih satu!" Tegas Ana.


"Tapi Mollin shudah pushing-pushing mommy."


"Tidak apa-apa sayang. Mau mommy pilihkan saja?'


Angguk gadis kecil itu menurut pada sang mommy.


"Kalau menurut mommy, ini lebih bagus. Warnanya merah muda seperti kesukaan Maurin. Terus ada bunga-bunganya, cantik sekali, seperti Maurin."


Senyum itu merekah. Gadis kecil itu sangat menyukai pujian. "Baiklah mommy, Mollin shuttudju. Tullima kashih mommy tantik. Mommy teullbaik."


Muachhh... .


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Nih othor tambahin satu ya buat hari ini, ehehehe


Happy reading semua


Saranghaja 💕💕💕