Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Dia Laki-laki, Maurin


°°°~Happy Reading~°°°


"Woahhhh, adek bayi gemoyi sheukalli ya mommy. Shepeulti bellbi, hihihi. Tantik sheukalli." Seru Maurin tiba-tiba. Membuat semua orang sontak membeliak. Mereka menelan ludah kasar. Gadis kecil itu masih belum menyadari jika adik bayinya kini adalah sosok adik laki-laki. Maurin kecil masihlah berharap akan mendapatkan adik perempuan dari mommy dan daddy nya.


"Dia laki-laki, Maurin." Timpal Mallfin tanpa aba-aba. Membuat semua orang sontak menatap horor pada bocah kecil itu. Mulut pedas Mallfin benar-benar sama dengan sang daddy, Marcus.


"Boyi? No Apin. adik bayi oek-oek na Mollin gull!!!" Sungut Maurin tak terima. "Apin eundak look-look?! Adik bayi oek-oek na Mollin tantik shepeulti Mollin shama mommy. Beunnall kan mommy?"


"Sayang--" belum selesai Ana menginterupsi, gadis kecil itu kembali merutuk.


"Mommy hallush mallah Apin, Apin kallau shuppik-shuppik eundak peullnah pikill. Kan kashihan adik bayi oek-oek na Mollin di killa boyi, iya kan adik bayi..." Seru Maurin meminta pembelaan pada sang adek bayi yang bahkan masih saja terpejam.


"Mommy harus menjelaskannya, jika tidak dia bisa mendandaninya seperti Barbie. Sangat kekanakan." Seru Mallfin. Membuat Marcus memijat keningnya frustasi. Apa tidak ada hal lain yang diwariskan putranya itu darinya selain kalimat pedas yang meluncur dari mulutnya?


"Boy, kau akan membuatnya menangis nanti. Biarkan mommy beristirahat dan jangan membuatnya sibuk dengan tangisan Maurin." Seru Marcus tentu dengan bahasa yang tak Ana mengerti.


"Yes, daddy. Im sorry."


"Mommy teupat mallahin Apin itu mommy." Seru Maurin sekali lagi meminta pembelaan.


"Sayang, dengarkan mommy."


"Ya mommy?"


"Bukankah dulu Maurin sudah berjanji akan menyayangi adik bayi, baik itu laki-laki maupun perempuan?"


"Okklosh mommy, Mollin limembell. Mollin shayang banak-banak shama adek bayi oek-oek. Shayang tumpah-tumpah kalluna adek bayi oek-oek na Mollin gull. Hihihi..." Kikik Maurin.


"Kalau mommy bilang adek bayinya Maurin laki-laki, Maurin marah?"


Gadis kecil itu mengernyit.


"Keunnapa Mollin mallah? Kan adek bayinya Mollin gull, mommy?"


"Sayang, adek bayinya Maurin laki-laki."


Membuat gadis kecil itu sontak mengernyit bingung.


"Boyi? Mommy shius? eundak kibull-kibull?"


Perlahan manik mata itu mulai berair. Maurin siap menumpahkan tangis.


"Tapi-- tapi Mollin mau na gull mommy. Hiks..." Isak Maurin pada akhirnya.


"Bukankah adiknya Maura dan Arshi laki-laki semua? Maurin tidak mau seperti Maura dan Arshi yang punya adek laki-laki? Jika memiliki adik perempuan sendiri, bukankah nanti tidak seru?" Seru Ana memberi pengertian.


"Hwehwehwe... ."


Gadis kecil itu hanya bisa menangis lirih tanpa pemberontakan. Benar juga yang dikatakan mommy nya. Tapi jujur saja kalau ia masih menginginkan adik perempuan. Akan sangat menyenangkan jika bisa bermain masak-masakan bersama.


Puas menumpahkan tangis, si kecil Maurin akhirnya terlelap. Sedang Mallfin, bocah laki-laki itu tengah menikmati bukunya, duduk di sebelah sang grandpa agar bisa langsung bertanya jika tidak memahaminya.


"Kalian sudah memberikannya nama?" Seru tuan Regar pada akhirnya.


"Belum pa."


"Pikirkan dari sekarang. Agar kami tidak bingung ingin memanggilnya apa."


"Sayang, bagaimana? Apa kamu memiliki nama yang bagus untuk putra kita?"


"Mas saja yang memberikannya nama. Ana ikut saja bagaimana baiknya." Seru Ana dengan tatapannya yang teduh.


"Eummm, apa ya sayang. Mas tidak ada." Laki-laki itu garuk-garuk kepala. Jujur, ia bingung dengan nama apa yang cocok untuk putra kecilnya.


"Pikirkan saja dulu mas. Tidak perlu tergesa."


"Jangan aneh-aneh Marc. Mama tau isi otak kamu. Jangan sampai namanya jadi Tukimin apalagi Parimin."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading


Saranghaja 💕💕💕