Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Jangan Memaksakan Diri


°°°~Happy Reading~°°°


Bulir air itu serentak turun membasahi tubuh polos itu. Tangannya bergerak menyugar rambutnya yang basah.


Mengingat keinginan sang putri, rasanya Marcus tak sanggup mengutarakannya pada sang istri. Bukan karena ketidakberanian. Namun laki-laki itu takut, jika membahas hal itu, membuat sang istri menjadi tidak nyaman nantinya. Takut jika kejadian masa lalu itu masih menyisakan trauma yang belum sepenuhnya tersembuhkan.


Baiklah. Untuk kali ini simpan saja permintaan sang putri. Jika putri kecilnya itu menagihnya lagi, ia akan mencari alasan lain.


"Ana sudah menyiapkan pakaian untuk mas. Ana letakkan di tempat biasa." Seru Ana kala mendapati sang suami telah selesai dengan acara mandinya.


"Terimakasih."


Laki-laki itu kemudian berlalu ke ruang walk in closet dan mengganti pakaiannya disana. Setelahnya, ia pun segera menyusul sang istri yang masih duduk di atas ranjang. Sepertinya perempuan itu tengah menunggunya untuk tidur bersama.


"Mas... Apa mas tau, kenapa tiba-tiba Maurin minta tidur di rumah mama. Ana sebenarnya tidak apa-apa. Tapi aneh saja. Maurin kan nempel banget sama mas... ."


Di tanya seperti itu, Marcus jelas panas dingin. Apa ia katakan saja yang sebenarnya. Kalau pun malam ini ia menyembunyikannya, pasti dikemudian hari akan terbongkar juga.


"Mas?" Seru Ana saat mendapati sang suami terlihat melamun tanpa sedikitpun menimpali pembicaraannya. Membuat laki-laki itu seketika tersentak. "Iya?"


"Mas kenapa?"


Marcus menggelengkan kepalanya. Oke. Mau tidak mau ia harus membicarakan hal penting ini dengan istrinya. Apapun respon Ana nantinya, pikirkan nanti saja.


Hufffft.... .


Laki-laki itu mengambil nafas dalam-dalam. Membuat Ana seketika itu mengernyit. Bingung akan kelakuan sang suami yang sedikit agak lain.


"Eummm... Itu, sebenarnya--"


"Sebenarnya, Maurin minta tidur di rumah mama, karena dia-- minta dibuatkan adek."


Membuat Ana seketika itu mendelik. Apa? Adek? Gadis kecil itu minta di buatkan adek? Adek yang bernyawa? Adek bayi maksudnya?


"Kamu, jangan salah paham dulu. Bukan aku yang mengajarinya. Tapi Arshi. Kemarin Maurin bilang, dia ingin tidur di rumah mama agar kita bisa buatkan baby untuk dia. Kamu-- tidak salah paham padaku kan?"


Keterkejutan itu membuat Ana tak sedikitpun menimpali pertanyaan sang suami, membuat laki-laki itu sontak saja berpikir yang tidak-tidak.


Ana keberatan.


"Aku tau, mungkin kamu masih butuh waktu. Aku tidak akan memaksa. Aku nanti akan memberikan pengertian pada Maurin."


Ana menatap laki-laki itu dengan tatapan tak biasa. Percakapan Marcus sore itu kembali mengusik pikirannya. Jadi mereka tengah membicarakan hal ini.


"Aku menahannya mati-matian, bodoh."


Tidakkah ia akan sangat keterlaluan jika membiarkan laki-laki itu terus menunggu dirinya yang hanya terpaku pada kejadian masa lalu? Laki-laki itu bahkan begitu menjaga hatinya dengan tidak pernah mengungkit perihal kewajibannya yang harus melayani sang suami di atas ranjang. Padahal jika laki-laki itu meminta pun, itu tidak salah. Itu memang haknya.


"Lebih baik kita tidur saja. Tidak perlu di pikirkan."


Baru saja hendak merebahkan diri, perempuan itu kembali menginterupsi. "Mas... ."


Membuat laki-laki itu kembali menatap pada sosok sang istri.


"A-apa mas tidak ingin meminta hak mas?"


Hela nafas itu terdengar berat. "Aku akan menunggumu sampai kamu siap. Saat itulah aku akan memintanya."


"Kalau-- kalau Ana bilang Ana sudah siap?"


"Ana, tidak perlu memaksakan diri. Aku tau mungkin kejadian itu membuatmu trauma. Aku akan menunggu sampai kamu siap. Tidak perlu memaksakan diri."


Perempuan itu menghela nafas dalam. "Jika malam ini mas meminta hak mas, Ana izinkan."


"Ana, bukankah sudah ku katakan. Jangan memaksakan diri."


Ana menggeleng kuat. "Tidak. Ana tidak terpaksa. Ana benar-benar sudah siap untuk melayani mas."


Ragu laki-laki itu membuka mulutnya. "Benarkah?" Serunya memastikan.


Ana mengangguk. "Iya, mas."


"Apa kamu serius?"


Dengan senyum menyungging di bibirnya perempuan itu mengangguk. "Iya. Lakukan mas."


Dan malam itu, kedua insan itu akhirnya menyatu.


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Siapa yang mengharapkan malam kedua mereka nih othor kabulin, hihihi


Happy reading semua


Saranghaja 💕💕💕