Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Mallfin Akan Memukul Daddy


°°°~Happy Reading~°°°


"Ada apa daddy? Kenapa mommy menangis?" Mallfin yang mendapati lirih rintihan sang mommy sontak saja dibuat khawatir.


"Tidak apa-apa, boy. Mommy hanya terharu karena kita bisa berlibur bersama." Seru Marcus harap-harap cemas. Pasalnya, putranya itu pasti tidak akan percaya hanya dengan alasan kekanakan seperti ini.


"Daddy berbohong. Apa daddy menyakiti mommy hingga membuat mommy menangis kali ini?" Seru Mallfin curiga.


"Tentu saja tidak, boy. Untuk apa daddy menyakiti mommy, heummm... ."


"Benarkah?" Mallfin memicing, menatap sang daddy tak percaya.


"Mommy? Mommy tidak apa-apa? Apa daddy menyakiti mommy? Mallfin akan memukul daddy jika daddy sampai menyakiti mommy." Seru Mallfin memastikan. Membuat Marcus seketika itu mendelik. Putranya itu berani memukul dirinya?


"Tidak, sayang. Mommy tidak apa-apa." Timpal Ana sembari mengusap wajahnya yang basah dengan jemari tangannya. Ini benar-benar memalukan. Tapi entah mengapa Ana benar-benar cengeng bahkan di depan anak-anaknya.


"Apa mommy yakin? Apa perlu kita bertukar tempat duduk? Biar daddy duduk bersama Maurin saja."


"Ya, Mollin tudjuh. Duduk beullshama Apin, shangat boshan-boshan." Timpal Maurin tak ingin kalah.


"Tidak, sayang. Mommy baik-baik saja."


Woahhh... .


Pekikan itu membuat ketiganya menatap pada sosok Maurin yang kini menatap keluar jendela dengan manik maya berbinar.


"Daddy daddy. Lihat, ada awan beushall. Pashti atash shana ada peulli awan. Bishakah kita keushana sheubentall, daddy?" Tanya gadis kecil itu menunjuk pada gumpalan awan besar.


"Tidak girl. Pesawat punya lintasannya sendiri."


Membuat gadis kecil itu mendes*h kecewa. "Shayang sheukalli. Padahal kata Ashi peulli awan bisha bawa kita lihat shullga."


Membuat Marcus seketika itu memicing. "Surga?"


"Yesh daddy. Kata Ashi, peulli awan bisha bawa kita lihat shullga. Mollin ingin lihat shullga shebeuntall, daddy."


Membuat Marcus seketika itu mendelik. "Jangan bicara seperti itu lagi, girl." Peringat Marcus.


"Keunnapa, daddy?"


"Tidak apa-apa. Turuti saja apa kata daddy jika kamu ingin kita tetap pergi berlibur." Putus Marcus tak ingin dibantah kali ini.


"Baiklah, shuka shuka daddy shaja. Mollin hanna bisha tullut-tullut." Cebiknya menahan kesal.


Angguk Ana. " Maaf, Ana sangat cengeng."


"Tidak apa-apa. Kata dokter itu wajar."


"Tapi waktu dulu Ana hamil anak-anak, Ana tidak seperti ini, mas."


"Mungkin baby hanya sedang ingin manja dengan mommy dan daddy nya. Tidak apa-apa. Toh ini wajar bukan?"


Setengah jam perjalanan terlewati, Marcus yang awalnya baik-baik saja kini mendadak merasakan perutnya mulai bergejolak. Apa mual itu kembali hadir bahkan di saat ia berada di atas ketinggian sekalipun.


"Mas kenapa?" Seru Ana penuh khawatir saat mendapati laki-laki itu terlihat gelisah dalam duduknya.


"Mas--"


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, laki-laki itu sudah lebih dulu beranjak dari duduknya, melangkah cepat menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


Membuat Ana seketika itu beranjak menyusul Marcus yang sudah hilang dari pandangannya. Membantu memijat tengkuk itu, berharap mual itu akan segera mereda.


Huhhh... .


Deru nafas itu saling berkejaran saat Marcus selesai dengan ritual mual muntahnya. Keningnya bahkan kini banjir oleh keringat. Membuat Ana seketika itu dibuat tak tega.


"Ana papah, kita kembali ke kursi agar mas bisa beristirahat."


Perempuan itu kemudian membantu sang suami kembali ke kursinya. Marcus terlihat sangat pucat. Tak tega Ana melihat sang suami tersiksa akan mual muntahnya.


"Daddy keunnapa mommy? Daddy uwek uwek egin?"


*Egin : again / lagi


"Ya, sayang. Maurin duduk yang baik. Mommy harus membantu daddy dulu." Peringat Ana saat mendapati sang putri hendak beranjak menyusul dirinya.


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading semua


Saranghaja 💕💕💕