
°°°~Happy Reading~°°°
Membuat sosok di seberang itu sontak tergelak. "Bukannya bagus? Dengan begitu kalian bisa merajut asmara di atas ranjang tanpa takut terganggu dengan kurcaci kalian, kan?"
"Ck. Apa kau gila, huh. Hubunganku dengan Ana belum sejauh itu dan kau menyuruhku meminta hak ku? Aku cukup sadar diri, Vell."
"Kau bisa menahannya untuk tidak menyentuhnya? Saat pagi hari adalah saat yang paling menyiksa." Celetuk Marvell.
Laki-laki itu menjambak rambutnya frustasi. "Aku menahannya mati-matian, bodoh."
"Itu penderitaan mu kawan."
"Kau menertawakan ku, huh."
"Sudah, aku mau berduaan dulu dengan istriku. Bye."
Tut.
Sambungan telepon itu tertutup, membuat Marcus seketika itu dibuat geram. Awas saja saat mereka bertemu nanti, akan ia buat perhitungan dengan laki-laki yang tidak tau diri itu.
"Mas... ."
Membuat Marcus seketika itu tersentak. Buru-buru laki-laki itu berbalik, menatap pada Ana yang sudah bergerak memasuki ruang kamar. Sejak kapan perempuan itu ada disitu. Apa Ana mendengar percakapannya dengan Marvell?
"I-iya, ada apa?"
"Maurin tadi ngajak main ke rumah mama. Mas gimana, bisa tidak. Atau mas lagi sibuk?"
Marcus menghela nafas lega. Sepertinya Ana tidak mendengar percakapan absurd nya dengan Marvell.
"Baiklah. Nanti malam kita berangkat ke rumah mama."
Malam itu, sesuai dengan keinginan si kecil Maurin. Keluarga kecil itu akhirnya bertandang ke rumah besar mama Elena. Perempuan yang sudah tidak lagi muda itupun menyambut kedatangan menantu juga cucu-cucunya dengan penuh antusias.
"Kita makan malam dulu yuk... ."
Mama Elena menggiring keluarga kecil itu untuk makan malam bersama. Rumah yang biasanya terasa sepi itu seketika riuh akan canda tawa juga celotehan Maurin yang sungguh menguras kesabaran.
"Keumallin Ashi shuttolli shama Mollin, kallau Ashi beullhasil keulljain Asha. Ashi tium-tium Asha banak ollang waktu pellgi taman beullmain. Tellush Asha mallah-mallah deh. Hihihi... Ashi hebat sheukalli bisha buat Asha shungut-shungut. Ahahaha..." Gelak Maurin membayangkan wajah kesal Arsha yang pasti tidak jauh beda dengan sang kembaran, Mallfin.
"Granny tidak tau? Dia juga sama." Komentar Mallfin, membuat gadis kecil itu sontak mendelik.
"Eundak. Mollin eundak ushill kok. Mollin kan anak baik, shuka meunabung lajin goshok gigi." Serunya berapi-api. Membuat mama Elena seketika itu tergelak.
"Ahahaha, memang apa hubungannya menabung dengan sikat gigi, sayang... ."
"Eundak ada. Eundak hubung-hubung. Pokok na Mollin shuka meunabung lajin goshok gigi. Apin yang ushil shuka ganggu Mollin beullmain." Gadis kecil itu bahkan berkacak pinggang dengan wajah kesalnya. Membuatnya jauh semakin menggemaskan.
"Sudah sayang. Lanjutkan makannya." Ana menuntun sang putri untuk kembali memegang sendoknya.
"Tapi Apin nakall shama Mollin myh..." Serunya meminta pembelaan.
"Tidak. Mallfin hanya bercanda, sayang. Sekarang lanjutkan makannya ya. Nanti makanannya menangis karena Maurin tidak kunjung memakannya. Makannya nanti sedih."
Membuat gadis kecil itu akhirnya menurut.
Makan malam telah usai. Mereka kemudian menepi ke ruang televisi dan berkumpul bersama disana sembari menemani anak-anak bermain. Eits, salah, tepatnya menemani si kecil Maurin bermain. Pasalnya Mallfin hanya sibuk membaca sejak tadi. Bocah laki-laki itu benar-benar jarang bermain seperti anak-anak sebayanya.
Jingga jarum jam kini menunjukkan pukul sembilan malam. Ana bingung karena sang suami tak kunjung mengajaknya pulang. Anak-anak pasti sudah mengantuk. Apa mereka akan menginap disini?
"Mas?"
Marcus yang tengah sibuk berkirim pesan dengan seseorang itupun dibuat terkejut.
"Ya?"
"Sudah malam. Anak-anak pasti sudah mengantuk. Kita pulang atau menginap disini?"
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕