
°°°~Happy Reading~°°°
Kediaman mewah yang biasanya selalu riuh itu kini semakin riuh kala ada tambahan personil baru. Siapa lagi kalau bukan Maura dan Arshi.
Ketiga gadis kecil itu pun tampak begitu asik menikmati permainannya bersama dengan bayi-bayi kecil mereka. Maurin yang sebelumnya meminta dibelikan dua boneka bayi pada sang daddy, kini dengan tangan terbuka memberikan satu bonekanya pada sang sahabat, Maura. Membuat ketiganya kini kompak bermain peran sebagai ibu bagi bayi-bayi mereka.
"Tup tup tup, anak tantik eundak bolleh meunangish, nanti gigit hiyyu..." Seru si kecil Arshi sembari memasukkan dot susu itu ke dalam mulut bonekanya dengan sedikit brutal.
"Nahhh, udah belleshh. CiMollin udah tantik shekallang..." Timpal Maurin setelah berhasil menggantikan baju pada bayinya. Penampilan boneka bayi itu terlihat sangat mengenaskan dengan baju yang compang-camping tidak tertata rapi.
Sedang Maura, gadis kecil itu tampak begitu telaten menimang bayi kecilnya dalam gendongannya. Wajahnya yang tampak tenang membuat gadis kecil itu tampak begitu cocok akan peran ibu yang kini tengah dimainkannya. Tidak seperti dua gadis kecil disebelahnya yang terlihat rusuh sendiri entah karena apa.
"Shhhut, Ashi shama Mollin teunnang dullu. Cimmy ini mau bobok dulu ya..." Peringat Maura, membuat kedua gadis kecil itu akhirnya menyerah dan tak lagi membuat keriuhan.
"Lihat, jika mereka disatukan, rumah jadi seperti pasar dadakan. Ahahaha..." Gelak Anelis setelah memperhatikan kegaduhan yang telah diciptakan ketiganya.
"Tidak disatukan pun, mereka sudah ribut sendiri An kalau di rumah." Timpal Hanna yang kini turut serta menemani sang putri mengunjungi rumah sahabatnya. Digendongannya, terlihat bayi laki-laki yang sangat menggemaskan itu tengah meminum susu dalam botolnya.
"Ya, kalian benar. Tapi kalau tidak ada mereka di rumah, bukankah rumah terasa sangat sepi? Itu jauh lebih membosankan." Seru Ana menimpali.
"Iya iya, benar sekali. Anak-anak bagaikan nyawa rumah itu sendiri. Ya, walaupun terkadang suka dibikin pusing dengan pertanyaan mereka yang terkadang di luar nalar, tapi itu menjadi tantangan tersendiri, bukan?"
"Saat kita tidak bisa menjawabnya, habislah kita, ahahaha..." Gelak Ana.
"Oh iya Han, sebenarnya sudah dari kemarin aku ingin memperkenalkan kalian, tapi kamu malah tidak ikut mengantar putrimu. Kudengar suamimu tengah sakit?"
"Ohhh... iya, akhir-akhir ini mas David sering mengeluh pusing dan mual muntah. Jadi makin manja dianya. Pengen ditemenin terus. Udah ngalahin anaknya sendiri sekarang." Keluh Hanna.
Sejenak Anelis menimbang. "Itu-- bukan ciri-ciri dari sindrom couvade kan, Han?"
Dan kini, ketika ia mendengar satu kemungkinan itu, Hanna tak dapat menjabarkan perasaannya. Ada ketakutan di tengah kabar gembira yang didapatkannya kali ini.
Bagaimana jika ia benar-benar tengah hamil?
Ohhh tidak.
Bagaimana ini? Sang putra bahkan baru genap berusia 6 bulan. Bagaimana bisa ia hamil lagi?
"Apa itu benar? Melihat dari ekspresimu, sepertinya--"
Seketika itu Hanna memucat. "Bukannya aku ingin menolak. Tapi, ku harap Allah menundanya dulu, setidaknya nanti ketika Lucien sudah tidak membutuhkan ASI ku lagi. Lucien bahkan masih 6 bulan dan masih membutuhkan ASI ku. Kalau aku sampai hamil lagi, aku takut akan membuatnya kekurangan kasih sayang dariku karena aku sendiri terlalu fokus dengan kehamilan ini."
"Kamu coba periksakan dulu saja Han untuk memastikannya. Dan jika benar kalau kamu memang tengah hamil, kalian harus membicarakannya terlebih dulu. Itu adalah kehamilan yang tidak mudah, apalagi putramu masih kecil, kan." Seru Ana ikut memberikan masukan.
"Ya, pulang dari sini aku akan coba langsung tes saja. Jujur, aku takut."
"Tidak apa-apa. Allah lebih tau mana yang terbaik untuk kalian. Aku mendoakanmu."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕