Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Get Out


°°°~Happy Reading~°°°


Seperti biasa, Marcus akan langsung bertandang ke rumah sakit sepulangnya dari perusahaan. Ini menjadi rutinitas baru bagi laki-laki itu, mengingat sang putra yang masih harus melakukan serangkaian pemeriksaan pasca operasi dua minggu lalu.


Tak banyak yang bisa ia lakukan, hanya sesekali berbincang dengan Ana, kemudian sisanya ia akan bermain dengan sang putri tercinta. Sedang Mallfin, Marcus masih belum bisa meluluhkan hati bocah kecil itu.


Hingga ditengah permainannya bersama sang putri, pintu terdengar dibuka, menampilkan sosok tinggi yang tengah menggandeng sosok bocah laki-laki di sisinya.


"Vell?!" Laki-laki itu terperanjat tak percaya saat ia mendapati Marvell tengah berdiri menjulang di depan pintu.


Membuat Marcus sontak beranjak. Dalam hati merutuk. Mengapa laki-laki itu tak mengabarinya lebih dulu. Setidaknya ia harus meminta izin pada Ana. Bagaimana jika perempuan itu sampai tak terima karena kelancangannya membawa teman tanpa meminta izinnya.


"Apa yang kau lakukan disini, Vell?!" Decak Marcus menahan geram. Wajahnya sudah mengeras. Jelas Marcus marah akan tindakan Marvell yang terkesan semena-mena.


"Calm down, Marc," seru Marvell dengan santainya.


"Tenang? Kau bilang tenang? Bahkan hubungan kami tidak lebih baik dari kemarin. Mengapa kamu membuatnya semakin runyam, heummm..." cicit Marcus menahan geram.


Membuat tawa itu seketika menggelegar. "Maka aku harus segera membereskannya. Calm down, please."


"Stop Vell. Get out!!!"


Baru saja mengatupkan mulut, dua sosok perempuan berbeda usia kini kembali memasuki ruangan itu. Membuat Marcus semakin dibuat kalang kabut. Apalagi saat menatap pada gadis perusuh itu.


"Kenapa kau membawa mereka semua kesini, huh!!!"


"Daddy. Mana teuman ballu buat Ashi. Daddy shudah plomish."


*plomish: janji.


Marvell menyunggingkan senyumnya. Putrinya benar-benar tidak sabaran. "Calm down, Girl."


"Daddy kondon-kondon mulullu. Ashi sheuball." cebik gadis kecil itu tak terima.


"Oke baiklah. Lihat, itu teman baru Arshi. Cepat kau kesana. Ajak dia bermain, girl." Tunjuk Marvell pada si kecil Maurin yang tampak kebingungan menatap kericuhan di sore hari itu.


Membuat Marcus seketika itu mendelik. "Hey, stop! Aku sudah memperingatkan kamu, Vell."


Marvell berdecak. "Ck. Kau tenang saja, Marc. Serahkan semua padaku. It's so easy."


Marcus melempar pandang pada Anelis, seolah meminta pertolongan untuk segera menyeret suaminya keluar dari sana secepatnya. "Maaf Marc, kau tau bagaimana suamiku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa." Cengir Anelis tampak begitu akrab dengan saudara sepupu dari suaminya itu.


"Ana, maaf. Aku juga tidak tau jika sepupuku akan berkunjung. Apa tidak apa-apa? Kalau kau keberatan, aku akan menyuruhnya pergi sekarang."


Ana menangkap ketulusan dari wajah itu. Wajah yang dulu penuh akan keangkuhan dan arogansi, kini lenyap terganti oleh rasa sesal yang menyeruak.


Perempuan itu lantas menyunggingkan senyum. "Tidak apa. Itu adalah tamu anda."


"Maafkan aku."


"Ya. Tidak apa. Bolehkah aku menyapanya. Tidak pantas jika aku hanya berdiam diri di sini." pinta Ana.


"Heummm. Lakukanlah."


Ana kemudian bangkit dari duduknya, melangkah perlahan, mendekati Anelis yang juga tengah berjalan ke arahnya.


"Maaf karena baru menyapa anda sekarang."


"Tidak apa. Maaf kedatangan kami pasti mengagetkanmu. Putriku sangat tidak sabar bertemu dengan putrimu. Oh ya, panggil saja Ane." Perempuan itu mengulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh Ana. "Ana."


Di sisi lain, tampak si kecil Arshi yang mulai terang-terangan mendekati si kecil Maurin. Gadis kecil itu bahkan tak ragu untuk mengulurkan tangannya, berkenalan dengan Maurin.


"Hellow. Mau beulteman shama Ashi eundak? Ashi baik loh, shuka meunabung. Ashi duga tantik. Nanti kita main shama-shama... shama teuman na Ashi, nama na Molla. Nanti kita main beultiga yah... ."


Maurin mematung, gadis kecil itu tak lantas menerima uluran tangan itu, rasa takut akan tak diterima dalam hubungan pertemanan, membuat gadis kecil itu meragu.


"Kamu eundak pappa? Keunnapa bungong? Ashi tanti sheukalli yah?" Gadis kecil itu tak segan menunjukkan kenarsisannya.


"Kamu mau cucu tobelli? Ashi bawa banak-banak sheukalli loh... ."


Gadis kecil itu tak segan mengeluarkan susu stroberi dari dalam tas kecil miliknya. Membuat Maurin sontak mengikuti pergerakan gadis kecil itu. Mengambil sesuatu dari dalam tas miliknya. "Mollin duga puna cucu tokullat."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading


Saranghaja 💕💕💕