Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Makan Siang Bersama


°°°~Happy Reading~°°°


Selagi menunggu Marcus juga sang putri kembali ke kediaman, Ana memutuskan pergi ke warung untuk membeli telur sebagai menu makan siang kali ini.


Meski mendapatkan tawaran dari supir kepercayaan Marcus, namun Ana menolaknya, perempuan itu memilih berjalan kaki saja karena warung itu terletak tak jauh dari kediamannya.


"Oh ini yang namanya pelakor itu... Gimana perasaannya didatangi istri sahnya An? Pasti bangga banget ya karena bisa merusak rumah tangga orang lain."


Inilah yang namanya the power of ngerumpi. Belum tau duduk permasalahannya, bagaimana situasi sebenarnya, berita menyebar dengan li*rnya. Menciptakan kesalahpahaman yang jelas tak termaafkan.


Ana memilih tak meladeninya. Jika ia menimpali, mereka akan semakin menjadi. Pasti mereka akan capek sendiri nantinya.


"Oh... dasar, nggak punya malu. Lihat saja, pasti sebentar lagi dia di buang sama om-om simpanannya. Terus ngemis-ngemis minta pinjaman deh bu ibu."


Ana terus saja berlalu, tak memperdulikan sedikitpun umpatan sosok yang selama ini membencinya. Siapa lagi kalau bukan mommy nya Bobby, bocah laki-laki yang selalu saja mengganggu buah hatinya.


Sesampainya di rumah, Ana segera membuatkan telur ceplok untuk sang putri, juga bubur untuk sang putra.


Hingga suara decitan pintu terdengar, ia yakin jika itu adalah Marcus dan sang putri yang baru saja pulang entah habis dari mana.


"Dari mana saja?"


Baru saja kaki itu melangkah masuk ke dalam rumah, perempuan itu sudah menodong Marcus dengan pertanyaannya. Untung saja Marcus telah menyiapkan jawabannya, juga mempengaruhi sang putri untuk mengikuti kebohongannya.


"Dari taman. Tadi Maurin bosan bermain disini."


"Iya mommy, Mollin boshan-boshan sheukalli beullmain shini, jadi Mollin ajak uncle beullmain di taman beullmain. Lamai sheukalli myh, Mollin sheunang sheukalli."


Membuat Ana sontak menghela nafas dalam. "Kalau mau keluar, bilang saya dulu, jadi saya tidak bingung mencarinya," tegur Ana tak suka pada Marcus yang suka menghilang seenaknya, apalagi membawa sang putri seenak jidatnya.


"Baiklah, maafkan aku."


Ana mengangguk kemudian mengalihkan pandang pada sang putri. "Sekarang waktunya Maurin makan, sayang. Mommy sudah buatkan telur untuk Maurin."


"Holleee, mamam tullull. Mollin shuka shuka shuka... ."


Gadis kecil itu langsung merosot dari rengkuhan Marcus, berlari terbirit ke dalam rumah meninggalkan Marcus juga sang mommy.


"Kita makan siang bersama saja."


Laki-laki itu mengekor pada Ana yang kini menyusul sang putri yang telah duduk manis di kursinya.


"Mommy, teupat-teupat. Mollin shudah lapall banak-banak."


Gadis kecil itu sangat antusias meski di atas meja itu hanya terhidang nasi juga telur ceplok, juga kecap hitam yang sedikitpun Marcus tak mengerti mengapa bahan dapur itu ada disini.


Membuat Marcus sontak miris melihatnya. Apa hanya makanan itu yang selama ini dimakan oleh anak-anaknya? Di saat ia bergelimang harta, apa anak-anaknya hidup kesusahan dengan hanya memakan makanan seperti ini?


"Da-Eummm... Uncle, ayo mamam shini shini. Mommy buat telull na banak-banak, hihihi..." Hampir saja gadis kecil itu keceplosan, untung saja ia masih bisa menahannya.


Memaksa Marcus untuk duduk di kursi kayu depan sang putri.


"Mommy, Mollin bolleh ambil tellull na dua? Dua shaja, eundak banak-banak. Mommy kan mashak banak tullull, kallau eundak ada yang mamam, nanti bandill... ."


Biasanya ia akan makan hanya satu telur, tapi karena mommy nya membuat banyak, ia akan memakan dua. Sayang nanti kalau terbuang. Mubadzir jatuhnya.


"Baiklah, ambil sesukamu sayang."


Ana kemudian mengajak sang putra untuk makan bersama. Meski Mallfin hanya menyantap semangkuk bubur, bocah laki-laki itu terlihat menikmati makanannya tanpa harus merepotkan sang mommy dengan menyuapinya.


Sedang Marcus, ia menelan makanannya dengan penuh kegetiran. Bagaimana selama ini anak-anaknya hanya makan berlauk telur ceplok seadanya. Rasanya hanya asin dan manis dari kecap yang tadi dituangkan oleh putri kecilnya.


"Tullull na ennak sheukalli kan uncle? Tellull na mommy teullbaik. Mollin shuka..." Gadis kecil itu menggerak-gerakkan kepalanya tanda menikmati makanannya, membuat bocah itu berdecak.


"Jangan berisik Maurin, makan saja makananmu." Sengak Mallfin, manik matanya menatap tajam pada Marcus yang terlihat menatapnya dengan sendu. Sungguh bocah laki-laki itu tidak suka dengan kehadiran laki-laki itu di rumahnya. Jika bisa, ingin ia usir saja laki-laki itu dari kediamannya.


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading semua


Saranghaja 💕💕💕