
°°°~Happy Reading~°°°
Rapat kali itu berlangsung seperti biasa, menegangkan dan penuh akan intimidasi dari sosok berwajah nyalang. Ketegangan itupun semakin menjadi, kala Marcus terlihat tak puas akan kinerja pegawainya.
"Hanya sebatas ini kemampuan kalian?!" Sorot mata itu menyorot tajam pada setiap insan yang tertunduk tak berdaya. "Aku membayar mahal kalian bukan untuk bermain-main di perusahaan ku. Aku tidak mau tau, minggu depan, semua harus sesuai dengan kemauan ku!"
Menciptakan hela nafas dari setiap insan yang tak punya kuasa membangkang. Pekerjaan mereka akan semakin berat dengan tuntutan yang Marcus layangkan.
Di tengah ketegangan itu, Felix mendekat. Laki-laki itu berbisik pelan hingga menciptakan gurat nyalang di wajah Marcus.
"Sial*n." Umpatnya, membuat seluruh anggota rapat itu sontak menegang. Sebenarnya, apa yang dilaporkan Felix hingga membuat laki-laki itu sampai mengumpat keras di tengah rapat.
Tanpa permisi, laki-laki itu beranjak meninggalkan ruang rapat. Langkah kakinya mengalun cepat, nafasnya memburu hebat, menahan amarah yang hendak meledak saat itu juga.
"Batalkan pertemuan hari ini."
"Baik, Tuan."
"Kau sudah menyelidikinya?" Mengingatnya, membuat Marcus mengepalkan tangannya. Awas saja jika anak-anaknya sampai terluka, habis mereka di tangannya.
"Sudah, Tuan. Saya akan segera membereskannya."
"Selesaikan hari ini juga. Aku tidak mau tau."
"Baik, Tuan."
Mobil menepi di sebuah rumah sederhana milik Anastasia. Begitu menginjakkan kaki, Marcus langsung disambut dengan isakan lirih dari dalam sana, membuat laki-laki itu semakin mengepalkan tangan.
Tanpa permisi laki-laki itu menerobos masuk ke dalam rumah, terlihat sosok kecil itu tengah menangis sesenggukan di dalam rengkuhan sang mommy yang tak henti menenangkannya. Juga sang putra yang hanya bisa terduduk di kursinya dengan tatapan nyalangnya.
"Mommy tidak apa-apa, Sayang. Lihat, mommy baik-baik saja. Mommy sekarang tersenyum, kan?" Perempuan itu menampilkan senyum lebarnya.
Gadis kecil itu menggeleng penuh. "Mollin beullshallah. Nenek shihil itu pukull mommy banak-banak. Ini pashti shakit. Hiks..." Diusapnya wajah yang tadi terkena pukulan itu dengan penuh isak. Maurin benar-benar terluka atas apa yang terjadi pada sang mommy. Ini kesalahannya, karena dirinya, mommy kesayangannya itu harus mendapatkan tamparan bertubi diwajahnya.
Ana menangkup tangan mungil itu, kemudian mengecupnya. "Sudah, sekarang sudah sembuh karena putri kesayangan mommy sudah mengusapnya."
Berharap sang putri akan segera menghentikan tangisnya, namun nyatanya tangis itu kian luruh membasahi wajah mungilnya. Membuat Marcus akhirnya maju.
"Biar aku saja."
"Daddy, hiks... ."
Maurin sontak menghambur dalam rengkuhan sang daddy, tangisnya pecah, isak itu semakin kencang menggema seolah meluapkan sedih yang membelenggu jiwa.
"Calm down, Girl. Tidak apa-apa. Siapa yang nakal, heummm... Biar Daddy yang marahin." Tangan besar itu tak henti mengusap punggung kecil itu menenangkan.
Maurin menguarkan rengkuhannya. Dengan nafas penuh sesenggukan, gadis kecil itu mulai membuka suara. "Daddyhh... Tadih, nene shihill datang shini, hiks. Nene shihill itu mallahin mommy keullash-keullash, tullush pukull mommy banak-banak. Mollin beullshallah. Hiks... ."
"Tidak apa-apa, Girl. Nanti Daddy akan marahin nenek sihir jelek itu biar dia kapok dan tidak pukul mommy lagi, heummm... ."
"Daddy hallush pukull nene shihill dullek banak-banak, tullush lempall ke laut, biall makan hiu lashasha, hiks... ."
"Baiklah. Nanti akan daddy lempar dia ke laut biar dia tidak bisa nakal lagi. Apa putri daddy sudah puas sekarang?"
Gadis kecil itu manggut-manggut dengan sisa isak yang masih menggantung di wajahnya. Puas dia setelah daddy nya itu mendukung penuh atas aksi balas dendamnya.
"Baiklah. Sekarang putri daddy tidak boleh menangis lagi, heummm..." Seru Marcus sembari mengusap bekas isak yang masih tercetak jelas di wajah sang putri.
Isakan pun terhenti, si kecil Maurin yang awalnya terisak berpuluh menit lamanya, kini berakhir di rengkuhan sang daddy. Gadis kecil itu begitu manja hingga tak ingin terlepas dari rengkuhan hangat sang daddy.
"Terimakasih." Ana yang sedari tadi terdiam mengamati interaksi ayah dan anak itu akhirnya membuka suara.
"Maaf, aku datang terlambat." Seru Marcus penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa. Anda bisa menenangkan Maurin saja saya sudah sangat berterimakasih."
Ctarrr... .
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Maapken othor ya menghilang Berhari-hari, ehehehe
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕