
°°°~Happy Reading~°°°
Di rumah sakit itu, Marcus terus menemani sang istri melewati masa-masa sulit persalinannya. Marcus yang melihat sang istri harus berjuang dalam kesakitan itupun tak henti dibuat terisak. Apalagi dengan Ana yang sesekali menggeram dengan kesakitan yang tak tertahankan.
"Astaghfirullah... Sakit mas..." desis Ana saat kesakitan itu semakin tak tertahankan. Sakit sekali rasanya hingga jemarinya kini mencengkeram lengan suaminya yang sudah memerah akibat ulahnya.
"Sayang. Kamu pasti bisa. Kuat ya sayang..." Seru Marcus dengan isak yang masih luruh dari manik matanya. Sungguh, Marcus tidak tega menatap pada sang istri yang terlihat begitu kesakitan.
"Pembukaan sudah lengkap. Nyonya Ana sudah siap untuk melahirkan."
Dokter bersama beberapa perawat pun membantu Ana melewati proses persalinan yang tentu tidak mudah untuk Ana lalui. Berkali-kali perempuan itu memekik tertahan saat dorongannya lagi-lagi tak membuahkan hasil.
"Sedikit lagi nyonya, dorong sekuat yang anda bisa."
Ana mengambil nafas dalam-dalam sebelum akhirnya perempuan itu mengejan sekuat yang ia bisa. Hingga akhirnya suara tangis itu menggema memecah ketegangan.
Oekkkk... Oekkk... .
Bayi kecil itu telah lahir dengan selamat.
Ana seketika tergolek lemas. Bulir peluh itu bahkan bercucuran di keningnya. Nafasnya memburu. Sungguh, melahirkan bukan suatu proses yang mudah untuk dilalui oleh seorang ibu, termasuk Ana sekalipun.
"Terimakasih sayang, terimakasih. Kamu hebat. I love you so much, honey."
Laki-laki itu tak henti mengecupi wajah istrinya yang penuh akan peluh, merengkuhnya tanpa perduli akan image dingin yang selama ini ia tampilkan.
"Aku berhasil, mas." Lirih Ana dengan nafas yang masih menderu.
"Ya, kamu berhasil, sayang. Kamu hebat. I love you honey."
"Adek bayinya sudah siap di adzani, tuan." Seru dokter menginformasi. Ternyata, saking terharu dengan situasi yang ada, kedua manusia itu bahkan tak sadar ketika dokter mengumumkan jenis kelamin bayi menggemaskan itu.
"Dia-- boy or girl?"
Membuat senyum itu seketika mengukir indah. "Lihat sayang. Setelah ini akan ada satu jagoan lagi yang akan menjagamu." Seru Marcus penuh keharuan.
"Sepertinya Maurin akan sangat kesal karena kamu memberikannya adek laki-laki untuknya, mas." Gurau Ana memecah haru yang tersisa.
"Tidak apa-apa. Mas tinggal bilang saja akan memberikannya bayi perempuan lain kali."
Ana menghela nafas dalam. Belum apa-apa, laki-laki itu sudah berencana menambah momongan saja.
"Sebaiknya mas segera mengadzani adek."
Marcus menurut. Perlahan, laki-laki itu berangsur mendekati bayi kecilnya yang sudah diletakkan di dalam box bayi yang telah disiapkan. Suara berat itupun mengalun menguntai kalimat indah bacaan adzan. Marcus yang tengah mengadzani sang putra pun terlihat begitu khusyuk. Laki-laki itu benar-benar menikmati pengalamannya mengadzani sang buah hati untuk pertama kalinya.
"Suara mas bagus." Puji Ana.
"Maka kita akan membuat adik lagi untuk Maurin agar mas bisa mengadzani anak-anak kita selanjutnya."
Membuat Ana seketika itu memukul lengan itu. "Bahkan jahitannya saja belum mengering, mas sudah ingin menambah lagi?"
Membuat tawa itu akhirnya meledak.
"Mas hanya bercanda sayang. Setelah ini kita tutup pabrik saja. Mas tidak tega melihatmu kesakitan seperti tadi."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Maafin othor ya kalau akhir-akhir ini othor suka hilang timbul, hehehe
Happy reading semua
Saranghaja 💕💕💕