
°°°~Happy Reading~°°°
Lantunan adzan subuh itu menggema di kejauhan, mengusik tidur nyenyak sosok perempuan yang masih terlelap di atas ranjangnya.
Ana mengerjap. Tubuh yang dibelit kuat itu membuatnya tak bisa banyak bergerak. Memaksanya untuk mengusik tidur lelap sosok yang senantiasa merengkuhnya erat.
"Mas..." Ana mengguncang tubuh itu perlahan. Namun sosok itu seolah tak terusik dan kian mengeratkan rengkuhannya. Ana memaklumi. Mereka baru tidur beberapa jam lalu. Mungkin tengah malam mereka baru bisa terlelap nyenyak setelah semalaman memadu kasih di atas ranjang.
"Mas, sudah subuh. Bangun yuk... ."
Setelah perjuangannya mengguncang tubuh itu, Marcus akhirnya mengerjap. Pemandangan pertama itu jatuh pada sosok berwajah cantik itu. Apalagi dengan rambut yang dibiarkan tergerai dengan sedikit berantakan itu. Begitu cantiknya sosok itu membuat laki-laki itu sampai termangu.
"Mas..." Ana kembali mengguncang tubuh itu saat laki-laki itu hanya melongo menatapnya.
"Heummm... ."
"Sudah subuh. Ayo sholat berjamaah."
Setengah sadar laki-laki itu akhirnya beranjak. Marcus berjalan ke kamar mandi dengan tubuh sedikit sempoyongan. Ia masih sangat mengantuk, tapi istrinya itu tidak akan membiarkannya tertidur sebelum ia menunaikan sholat saat itu juga. Inilah keuntungannya menikah dengan Ana. Ia jadi lebih rajin sholat. Tidak bolong-bolong seperti dulu.
Selesai mengambil air wudhu, laki-laki itu kemudian bergerak memakai sarung miliknya. Membuat perempuan itu seketika mengernyitkan dahi.
"Mas tidak mandi?"
Pertanyaan itu membuat Marcus seketika itu mengernyit. "Mandi? Untuk apa? Ini masih subuh, Ana." Seru Marcus tak habis pikir.
Dengan wajah memerah perempuan itu akhirnya membuka suara. "Kan semalam kita habis melakukan sunnah rosul, mas."
Laki-laki itu mengernyit. "Sunnah rosul? Sunnah rosul apa Ana? Jangan membuatku pusing. Aku masih sangat mengantuk." Lihat, muka bantal itu bahkan sangat kentara. Marcus benar-benar masih mengantuk dan perempuan itu malah mengajaknya main teka-teki di tengah fajar.
Wajah itu semakin merona. "Semalam kita habis melakukan hubungan suami istri, mas... ."
Membuat Marcus seketika itu tersadar. Laki-laki itu menatap perempuan itu dengan tatapan tak biasa.
"M-mas sebaiknya sana mandi dulu." Usir Ana. Tatapan itu sangat tidak bersahabat. Membuat wajahnya semakin merona. Apalagi saat laki-laki itu mulai melangkah mendekat ke arahnya. Membuat perempuan itu semakin gugup tak terkira.
"Mas mau ap--"
Suaranya tertelan saat laki-laki itu bergerak merengkuhnya. Ana terpaku. "Mas???"
"Iya, itu sudah kewajiban Ana mas... ."
"Sekarang mas mandi dulu, habis itu kita sholat berjamaah." Sambungnya.
"Baiklah."
Cup
Laki-laki itu menyempatkan diri mencium kening itu sebelum akhirnya berlalu memasuki kamar mandi.
Seusai ritual sholat berjamaah itu berlangsung, Ana memutuskan untuk kembali merebahkan tubuhnya. Rasanya sangat lelah sekali dan ia pun masih sangat mengantuk. Membuatnya kini memutus untuk kembali memejam.
Baru saja ingin memejamkan mata, sosok itu tiba-tiba sudah berada di atas tubuhnya, membuat Ana sontak mendelik. "Mas... ."
"Satu kali lagi, ya?"
Ana pasrah, saat laki-laki itu kembali menjalankan aksinya. Sungguh, laki-laki itu seperti tidak pernah puas.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Akak akak jangan suruh othor buat yang nggak-nggak
Kan othor masih bocil 😳
Nggak paham yang begitu-begituan
Othor anak polos kok 🤪
Chingu percaya kan sama othor
Othor kan anak baik-baik
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕