Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Jangan Bertanya Lagi!


°°°~Happy Reading~°°°


"Ini hadiahku untuk Arshi. Sampaikan terimakasih ku pada putri cantikmu. Karena ceramahnya pada putriku, akhirnya aku sekarang bisa--" kalimat Anelis tiba-tiba terhenti. Membuat gadis kecil itu seketika mengernyit.


"Keunnapa mommy shuttop mundadak bata na?" Gadis kecil itu menatap sang mommy dengan wajah polosnya.


"Ahahaha, tidak apa-apa sayang." Seru Anelis dengan tawa hambarnya. Tangannya bergerak menutup selembar surat itu, bahaya jika sampai sang putri mendengar dan akhirnya menanyakan hal yang tidak-tidak.


"Ayo tullush lanjutkan bata na myh. Ashi mau dungall shullat na." Pintanya.


"Tidak perlu, sayang. Ini tidak penting. Lebih baik Arshi bermain saja dengan bonekanya."


"Eundak mau mommy... Ashi mau dungall shullat na dullu ballu nanti beullmain."


"Shini, toba Ashi bata sheundilli. Mommy long-long sheukalli."


*Long-long: lama-lama


Tanpa diduga, kertas yang ada ditangannya kini sudah berpindah tangan, membuat Anelis seketika itu mendelik. Apa lagi saat sang putri sudah mulai membaca isi surat itu dengan mengeja sesekali.


"Sayang... ."


"Sheubentall mommy. Ashi inni shudang bellushaha... ."


Lama gadis kecil itu mengeja tulisan yang ada ditangannya, membuat Anelis seketika itu ketar-ketir. Memberikan kode pada sang suami pun, Marvell tak cepat tanggap. Membuat Anelis sudah panas dingin.


"Sayang, sudah. Berikan pada mommy dan kamu bermain saja dengan boneka bayinya. Heummm..." Seru Anelis sedikit memaksa, membuat gadis kecil itu akhirnya geram sendiri.


"Mommy shuttop. Ashi eundak mau ganggu-ganggu!"


Oke, baiklah. Sepertinya Anelis tidak bisa berbuat apa-apa disini. Biarkan saja dulu gadis kecil itu membacanya, ia hanya bisa berharap Arshi tak akan menanyakan apapun yang hanya akan mengundang kebingungan.


"Mommy, beulltinta itu appa. Ashi kok eundak mengellti?"


Kan kan.


"Itu, sayang..." Lihatlah wajah pucat Anelis. Percayalah, perempuan itu sedang memeras otak demi bisa menjawab pertanyaan sang putri.


"Ouhhh, shayang pulluk?" Tanya si kecil Arshi dengan wajah polosnya.


"Ya, jika saling berpelukan. Mereka saling menyayangi."


"Ouh ouh ouh, kalluna daddy na Mollin dah baik kashih Ashi boneka oek-oek, nanti Ashi ajak daddy na Mollin beulltinta deh, hihihi... Ashi kan baik."


Membuat Anelis seketika itu mendelik. Bukan begitu konsepnya Arshi. Duh, gawat. Bagaimana jika kesalahpahaman itu berlanjut sampai nanti.


"Tidak sayang. Itu hanya boleh dilakukan dengan keluarga Arshi sendiri."


"Keunnapa mommy."


"Memang begitu. Tidak usah bertanya lagi oke?" Maksudnya Anelis sudah pusing menjawab pertanyaan Arshi yang semakin membuatnya pusing sendiri.


Melirik pada sang suami, laki-laki itu malah terlihat tengah menahan tawanya. Membuat Anelis sontak geram dibuatnya. "Apa!! Mas nih, bukannya bantuin malah senyum-senyum ngga jelas. Lihat kan, anaknya jadi salah paham."


"Kamu kan tau sayang, jika aku membantu menjawab, malah akan semakin memperkeruh suasana."


Iya sih. Benar juga. Bukannya membantu, laki-laki itu akan semakin membuat sang putri bertanya yang tidak-tidak. Sudah betul laki-laki itu memilih diam. Berkaca dari pengalaman sepertinya.


"Myh, ayo ke lumah na Mollin yuk. Ashi mau tullima kashih shama daddy na Mollin." Seru Arshi beralasan. Padahal nyatanya ia hanya ingin bermain dengan si kecil Maurin di akhir pekan ini.


Dengan mengendarai sepeda kecilnya, gadis kecil itu melaju ke rumah si kecil Maurin yang terletak tak jauh dari rumahnya. Meninggalkan Arsha, Arshell, juga Anelis yang tertinggal di belakangnya.


"Molla... ."


"Itu Molla... ."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading


Saranghaja 💕💕💕