Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Sah


°°°~Happy Reading~°°°


Barisan para tamu undangan kini telah menempati posisinya masing-masing, penghulu yang telah lima menit lalu hadir kini telah siap menikahkan dua insan yang sebelumnya saling terasing.


Acara pun segera dilangsungkan.


Marcus dengan balutan jas nya kini telah siap menjabat tangan itu untuk segera melantunkan kalimat ijab kabulnya. Dengan satu tarikan nafas, laki-laki itu melantunkannya tanpa keraguan. Kata sah pun seketika menggaung memecah keheningan. Ana telah resmi dipersunting oleh sosok Marcus yang bahkan tak pernah bermimpi akan melangsungkan pernikahan dalam hidupnya.


Ana yang sedari tadi disembunyikan di bilik kamar kini kemudian di giring untuk bertemu dengan sosok yang kini telah resmi menjadi suaminya. Didudukkannya perempuan itu di sebelah Marcus. Membuat laki-laki itu sejenak terpaku.


Ana. Perempuan itu terlihat begitu cantik dengan riasannya. Senyum tipis yang menyungging di bibirnya bahkan menambah kesan ayu pada parasnya.


Hingga tatapan itu akhirnya terputus saat sang penghulu kembali menginterupsi. Marcus segera memakaikan cincin di jari manis itu sebagai tanda perikatan. Juga Ana yang menyelipkan benda bulat itu di jari Marcus yang berura*t.


Ana kemudian mengulurkan tangannya. Mencium tangan laki-laki yang kini telah resmi menjadi suaminya dengan khidmat, disusul oleh Marcus yang kini mencium keningnya dengan canggung.


Acara begitu sakral dirasa. Haru kini terasa saat anak-anak mulai mendekat memeluk kedua orangtuanya yang lama terpisah.


Waktu semakin bergulir. Usai acara ijab kabul itu, keluarga besar itu pun menikmati hidangannya dengan obrolan-obrolan kecil.


Si kecil Maurin dan si kecil Arshi pun tak menyia-nyiakannya begitu saja saat sajian dissert di hidangkan dengan penuh warna. Kedua piring gadis kecil itu bahkan terlihat penuh tanpa memperdulikan tatapan memicing dari orang-orang. Termasuk tatapan sinis dari dua sosok mungil itu. Siapa lagi kalau bukan Arsha dan Mallfin.


"Lihat, mereka sangat rakus sekali, Fin." Seru Arsha melempar tatapan mengejeknya ke sebrang sana.


"Mereka seperti tidak pernah makan berhari-hari saja. Apa itu akan habis? Aku meragukannya." Timpal Mallfin menatap sinis pada dua sosok gadis kecil yang tengah asik menyantap makanannya.


"Jangan salah. Kau tidak lihat perut buncit itu? Ku kira itu akan muat untuk sepuluh piring lagi."


Tak sadar telah menjadi buah bibir oleh kembarannya sendiri, kedua bocah kecil itu terlihat menikmati hidangannya. Keduanya tak henti memekik, saat kelezatan itu meletup-letup di dalam mulutnya.


"Eummm... Kue na ennak sheukalli ya Mollin. Ashi shuka Ashi shuka." Gadis kecil itu menggeleng-gelengkan kepalanya puas.


"Iya Ashi. Kue na lujat sheukalli. Tapi puna Mollin tinggal shatu." Maurin menunduk lesu menatap pada piringnya yang hanya tersisa satu butir macaron.


Membuat gadis kecil itu mengangguk girang.


"Kita ambil lagi shana yuk. Ashi juga mashih mau. Pullut Ashi mashih lapall banak-banak Mollin. Tadi pagi Ashi bullum mamam shallapan na, kalluna eundak shaball mau ketemu Mollin, hihihi... ."


"Iya Ashi. Ayo kita ambil banak-banak, biall ollang-ollang eundak bagian, ihihihi... ."


Keduanya kembali mengambil olahan dissert itu dengan bantuan pelayan yang ditugaskan. Melewati dua pemuda yang menatap mereka sengit, membuat Arshi seketika itu mencak-mencak.


"Apa?! Keunnapa Asha lihat-lihat bugitu?! Itu mata Asha mau topot tau. Asha dangan banak-banak mollotot. Kallo mata Asha lupash nanti Ashi buang laut biall Asha eundak bisha mollotot-mollotot Ashi lagi. Tau lasha kamu Asha."


"Ck, dasar. Cerewet." Decak Arsha tak perduli pada gerutuan sang kembaran.


"Biallin. Ullushan Ashi. Asha dangan campull-campull."


"Kalian tidak sadar? Perut kalian seperti mau meletus." Timpal Mallfin ikut memanasi. Membuat Maurin sontak tersulut.


"Apin dangan campull-campull juga. Tellshellah kita ya Ashi. Pullut kita, eundak pullut kalian, wllle." Menjulurkan lidahnya, kesal dengan sang kembaran.


"Terserah." Seru keduanya kompak.


"Dasall, kalldush." Kedua gadis kecil itu tak kalah kompak. Bahkan wajahnya sama-sama menekuk menahan marah.


"Ayo Mollin kita pullgi shaja. Dangan dungall ollang-ollang itu. Melleka syillik shama kita."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading


Saranghaja 💕💕💕