Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Mas Keluar


°°°~Happy Reading~°°°


Matahari mulai merangkak naik. Jarum jam kala itu menunjukkan waktu pukul sepuluh siang. Kelopak mata itu perlahan mengerjap kala rasa lapar itu tiba-tiba menyeruak. Rasanya lapar sekali, tapi untuk sekedar bangkit dari ranjangnya, Ana tak sanggup. Malas begitu menggelayut. Juga tubuhnya terasa begitu lemas pagi ini. Ana benar-benar kehilangan semangatnya. Membuat perempuan itu hanya bisa menggeliat dalam tidurnya.


Hingga kecupan basah itu terasa menjalar di bibirnya. "Bangunlah. Kamu harus sarapan."


Memaksa perempuan itu untuk segera membuka mata. Pandangannya kini terjatuh pada sosok sang suami yang juga tengah menatapnya. Wajahnya terlihat begitu cerah dengan sebaris senyum mengukir di bibirnya, sungguh sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang tampak begitu lesu dan kuyu.


Dengan tak bersemangat perempuan itu akhirnya mendudukkan tubuhnya, selimut yang melorot dan memperlihatkan tubuh bagian atasnya seketika itu menyadarkan Ana sepenuhnya.


Ana tak memakai selembar pakaian pun di tubuhnya. Ia lupa, setelah melayani suaminya ia langsung tertidur tanpa memakai kembali pakaiannya, karena saking lelahnya. Membuat Ana sontak meraup selimut itu dan menumpukkannya di depan dada.


"Tidak apa-apa. Aku sudah pernah melihatnya." Seru Marcus dengan entengnya. Membuat Ana seketika membeliak. Pipinya merona. Bagaimana laki-laki itu mengatakan hal semacam itu dengan entengnya. Bagaimana laki-laki itu tak memikirkan dirinya. Bukankah itu sangat memalukan untuknya?


"Duduk saja di situ. Pelayan sudah membawakan makanannya kesini." Seru Marcus menginterupsi. Memaksa Ana untuk tetap berada di posisinya. Malu juga jika ia harus berganti pakaian saat ada suaminya. Ia masih memiliki cukup urat malu.


"Biar aku suapi." Laki-laki itu mendudukkan diri di bibir ranjang dengan sepiring makanan di tangannya.


"Tidak usah mas, biar Ana saja." Jawab Ana kikuk. Ia jadi malu sendiri atas perlakuan sang suami usai penyatuan mereka semalam.


"Tidak tidak. Kamu masih lelah kan. Biar aku saja."


Ana yang sudah sangat lapar itupun terpaksa meraup sendok yang disodorkan di depan mulutnya. Sangat lahap, sampai makanan itupun lenyap dalam sekejap.


"Mau tidur lagi atau mandi dulu?" Tawar Marcus.


"Mau mandi aja mas, badan Ana udah lengket. Tapi mas keluar dulu." Pinta Ana dengan wajah bersemu merah.


"Kenapa?"


"Kan ini kamarku."


"Iya, sebentar aja." Masalahnya, jika ia bangkit dari ranjang itu dengan selimut yang menempel di tubuhnya, ia harus membenahinya lebih dulu, dan Ana takut saat harus membenahinya, kain tebal itu malah melorot tanpa bisa di cegah.


"Tidak apa-apa. Keluarlah dari persembunyian mu. Toh aku sudah melihatnya." Seru Marcus dengan entengnya. Membuat Ana seketika itu mendelik. Laki-laki itu benar-benar seenak jidatnya sendiri kalau berbicara.


"Ya udah Ana tidur lagi aja." Ancamnya kembali merebahkan tubuhnya, toh dia juga masih mengantuk saat ini.


Baru saja kelopak mata itu memejam, Ana merasakan tubuhnya melayang di udara, membuat perempuan itu meraup apa saja untuk menjadi pegangannya.


Terkejut, Ana membulatkan matanya lebar saat ia mendapati tengah berada di gendongan sang suami.


"Mas... ."


"Katanya mau mandi... ."


"T-tapi Ana mau sendiri."


Laki-laki itu tak menimpali dan segera berlalu menuju kamar mandi. Perlahan laki-laki itu mendudukkan sang istri di atas bibir bathtub. Membuat Ana sontaj mengeratkan selimutnya agar tak sampai terlepas dari tubuhnya. Lihatlah, wajah panik Ana begitu kentara membuat laki-laki itu ingin meledakkan tawa.


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading


Saranghaja 💕💕💕