
°°°~Happy Reading~°°°
"Apa yang kalian lakukan disini?"
Suara berat itu membuat si kecil Maurin dan si kecil Mallfin sontak saja menoleh.
"Daddy..." Gadis kecil itu berbinar dan segera meringsek mendekati Marcus.
"Mallfin tidak bisa berbuat apa-apa daddy, Maurin sangat keras kepala." Lapor Mallfin tak dapat berbuat banyak.
Oke, baiklah. Jadi Marcus harus turun tangan sendiri demi menarik gadis kecil itu dari sana.
"Daddy. Mollin bolleh main shini? Mollin mau main shawat-shawat, daddy. Shepeulti na shellu sheukalli, hihihi..." Seru Maurin menampilkan wajah menggemaskannya. Siapa tau dengan wajah menggemaskan itu daddy nya akan mengijinkannya. Hehehe... .
Membuat Marcus seketika itu geleng-geleng kepala dibuatnya. Apa gadis kecil itu benar-benar putrinya. Maurin terlalu sulit di tebak pikirannya.
"Oh tidak girl. Itu berbahaya. Sebaiknya kita kembali ke kursi agar bisa segera berangkat, heummm... ."
"Sheubentall shaja daddy."
"Sayang..." Seru Ana memperingati.
"Mommy, shatu dutik shaja. Mollin plomish." Janji Maurin, mengira satu detik itu akan sama dengan satu jam permainan.
"Kamu bahkan sudah berada di dalam sini lima menit lamanya, Maurin." Timpal Mallfin jengah sendiri. Membuat gadis kecil itu sontak kebingungan sendiri.
"Kallau beugitu shepulluh munit shaja. Eundak lamma-lamma, mommy. Mollin plomish." Seru Maurin pada akhirnya.
"Sayang, ini bukan tempat untuk bermain. Lebih baik kita kembali saja dan bermain dengan mainan yang Maurin bawa dari rumah, heummm... ."
"No no no mommy. Mollin mau shini shaja. Mollin boshan shama mainan itu itu shaja. Mollin mau main shawat shawat." Keukeh Maurin, membuat Marcus sontak menghela nafas dalam.
"Kalau Maurin masih ingin disini. Berarti kita tidak jadi berlibur." Tegas Marcus. Membuat gadis kecil itu sontak saja membeliak.
"Kalau begitu Maurin harus menurut."
"Yesh, daddy. Mollin nullut-nullut. Mollin Plomish.Daddy no engli-engli." Angguk gadis kecil itu cepat. Jangan sampai acara liburan itu sampai batal.
Mereka kemudian duduk di kursinya masing-masing. Perlahan pesawat itupun mulai bergerak. Dapat dilihat, anak-anak terlihat begitu antusias dengan pengalaman pertamanya menaiki pesawat pertamanya.
Pekikan kegirangan itu bahkan berkali-kali terdengar dari mulut cadel Maurin yang terlihat sangat antusias menikmati perjalanan pertamanya.
Namun tidak dengan Ana. Perempuan itu terlihat gelisah dalam duduknya. Membuat Marcus seketika menggenggam jemari tangannya. "It's Oke. Anggap saja ini seperti mobil biasa." Seru Marcus berusaha menenangkan. Membuat perempuan itu menampilkan sebaris senyum yang ia paksakan.
"Apa Ana sangat kekanakan?" Lihat, Matanya bahkan sudah berkaca-kaca.
"Tidak. Siapa bilang kamu kekanakan sayang. Itu wajar. Tidak apa-apa. Semua orang juga mengalaminya di penerbangan pertamanya." Laki-laki itu mengeratkan genggaman tangannya. Tangan Ana sangat dingin, perempuan itu benar-benar ketakutan saat ini.
"Ana takut, hiks..." Mendengar sang istri tiba-tiba saja menangis, membuat Marcus sontak meringsek merengkuh Ana yang malah terisak di tempatnya.
"Tidak apa-apa. Tenanglah. Mas disini, sayang... ."
Ana tak sedikitpun berniat untuk meluruhkan tangis, tapi untuk menghentikannya, kenapa seberat ini. Kemana Ana yang tangguh, perempuan itu merasakan sangat cengeng akhir-akhir ini. Ini sangat memalukan. Tangis itu luruh hanya karena ia merasa sangat malu akan ketakutannya sendiri. Apa hanya dirinya yang terisak karena takut naik pesawat sedangkan anak-anaknya bisa menikmatinya.
"Ada apa daddy? Kenapa mommy menangis?"
**🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading semua
Saranghaja 💕💕💕**