
°°°~Happy Reading~°°°
Waktu mulai merangkak naik, kini keluarga kecil itu harus segera memisahkan diri kembali ke kediamannya. Namun bukan si kecil Arshi namanya jika tidak menciptakan keriuhan, gadis kecil itu terlihat enggan kembali ke kediaman setelah mendapatkan teman baru yang begitu mengasyikkan.
"Daddy, Ashi mashih mau shini. Tadi main na beuntall sheukalli. Ashi mau main lamma-lamma shama Mollin."
Sebentar?
Bermain berjam-jam lamanya gadis kecil itu bilang sebentar? Membuat Arsha sontak berdecak, gadis kecil itu benar-benar pintar berkamuflase.
"Tidak bisa sayang, Ini sudah malam. Kita harus pulang, nanti adek Arshell nangis nyari kakak Arshi, gimana?" seru Anelis berusaha memberi pengertian.
"Daddy shama mommy go home shaja, Ashi shama Asha tidull shini aja ya myh... ."
Membuat Arsha sontak mendelik. "Tidak!!!" Cukup sekali ia menuruti kembarannya untuk tidur di rumah Maura. Tidak lagi. Arsha enggan terjebak dalam ketidaknyamanan untuk kedua kalinya.
"Ayolah Asha, Asha kan anak baik. Lajin meunabung. Nanti Ashi beruldoa banak-banak biall Asha nanti meunikah shama Molla yah?"
"Arshi!!!" Sentak Arsha. Bola matanya bahkan menatap nyalang pada gadis kecil yang kini menyengir itu.
Sedang di sisi lain, Marvell tampak mengangguk-angguk penuh binar. "Yes girl. Good job. Daddy mendukungmu. Kau boleh tidur di sini"
Membuat Arsha sontak mendelik.
"Daddy!!!"
"Mas!!!"
Kedua ibu dan anak itu kompak menolak dengan alasan berbeda. Arsha karena memang enggan, sedang Anelis, perempuan itu tak enak jika harus merepotkan Ana dengan keberadaan putri kecilnya.
"Mas, tidak enak merepotkan Ana. Lebih baik bujuk putrimu agar kita pulang sekarang."
"Daddy, i will punish you."
Ancaman itu membuat Marvell sontak membeliak. Jika sudah seperti ini, putranya tidak akan main-main. Anelis bisa di monopoli oleh bocah laki-laki itu hingga berhari-hari. Masa depannya bisa terancam.
"Sorry boy, i'm just kidding." Cengir Marvell. Tak ingin mencari masalah dengan sang putra, laki-laki itu memilih menyerah saja. "Sekarang kita pulang, Girl."
"Kita pulang."
"Daddy... ."
"Kita pulang, girl."
Siapa bilang Marvell sang penguasa bisnis juga bisa berkuasa di dalam rumahnya. Tentu tidak. Penguasa sebenarnya di sini adalah Arsha. Arsha adalah pemilik tahta tertinggi di dalam keluarga De Enzo. Aura bocah laki-laki itu tak dapat terelakkan.
🍁🍁🍁
Hari ini, si kecil Mallfin akhirnya diperbolehkan untuk kembali ke kediaman setelah hampir sebulan lamanya di rawat di rumah sakit. Tidak hanya Marcus, mama Elena juga tuan Regar bahkan menyempatkan diri untuk menjemput sang cucu yang akan segera kembali ke kediaman.
"Sebaiknya kami kembali ke kediaman saya yang dulu, Nyonya. Bagaimanapun, saya dan tuan Marcus tidak memiliki hubungan apapun." Ana merasa keberatan saat mama Elena menawarkan diri untuk pulang ke kediamannya.
"Tidak apa Ana. Kita akan pulang ke kediamanku, bukan kediaman Marcus. Disana kita bisa memantau keadaan Mallfin. Aku akan menempatkan perawat di sisinya. Mallfin masih harus di pantau dengan intensif."
Ana sadar jika Mallfin masih butuh pemantauan intensif, meski keadaannya sudah lebih baik, namun ia masih saja khawatir dengan kondisi sang putra yang masih belum sepenuhnya pulih. Namun, meski begitu, apa Mallfin akan menerima jika ia meminta menginap disana?
"Mommy... ."
Di tengah percakapan itu, suara Mallfin mengudara. Membuat Ana mendekat.
"Ya, sayang." Di usapnya wajah itu. Tatapannya menghangat, ini yang disukai Mallfin dari sang mommy tercinta.
"Mallfin mau pulang ke rumah saja."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕