Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Karena Dia Mommy Menderita


°°°~Happy Reading~°°°


Malam itu, setelah kepergian Marcus, Ana bersama dengan anak-anaknya tengah menikmati makan malam bersama dengan berbagai olahan kelas atas yang langsung dipesankan oleh Marcus dari chef kepercayaannya.


Berbagai macam olahan makanan itupun memenuhi meja makan itu, membuat si kecil Maurin sontak memekik girang.


"Woahhh, mamam na banak-banak sheukalli ya myh... Mollin bolleh mamam shemua na?"


"Iya sayang, makanlah sesuka Maurin. Tapi kalau sudah kenyang, harus berhenti, heummm... ."


"Shiap mommy... ."


Keluarga kecil itupun menikmati makan malam bersama dengan suasana berbeda, olahan makanan yang sangat lezat itu membuat gadis kecil itu beberapa kali memekik hingga membuat Mallfin lama-lama jengah juga.


"Diamlah Maurin. Kau sangat berisik." Mallfin yang tengah memakan olahan sayur itu sontak jengkel dengan kebisingan yang diciptakan oleh Maurin.


"Inni shangat ennak sheukalli Apin, Mollin shuka sheukalli."


"Ya, tapi tutup mulutmu, dan makanlah dengan tenang."


"Kallau mullut na tulltutup, tullush mamam na gimana? Apin ada ada shaja. Hihihi... ."


Selesai menyantap makan malam bersama, sepasang kembaran itu kembali ke kamarnya, sedang Ana memutuskan untuk membersihkan sisa makan malam yang masih tersisa. Memanaskan makanan yang masih layak makan untuk di makan esok hari.


"Apin Apin, tadi Mollin shama uncle Hillo peullgi taman beullmain loh. Kita balash dundam shama shi Bobby babi gumpall yang shuka lesshek calli galla-galla shama Mollin. Uncle Hillo mallahin itu Bobbi babi gumpall shampe Bobbi babi gempall nullah tullush lalli billit-billit. Hihihi, Bobby babi gumpall itu lutu sheukalli Apin, ahahaha... ."


Mallfin hanya diam tak menimpali. Bocah laki-laki itu seolah tak perduli dan masih setia pada buku digenggamannya.


"Apin tau..." Si kecil Maurin merendah suaranya, berbisik. "Uncle Hillo itu daddy na kita Apin... ."


Membuat Mallfin sontak menoleh menatap pada sang kembaran. Hela nafas terdengar berat, kemudian bocah laki-laki itu kembali fokus pada bukunya. "Jangan bicara sembarangan, Maurin. Kamu bisa di tuntut karena pencemaran nama baik."


"Mollin eundak ada-ada Apin. Mollin shius, eundak beullbohong. Mollin sheundilli yang kashih tau daddy. Tapi Daddy billang eundak bolleh kashih tau mommy. Mommy mashih mallah-mallah shama daddy, daddy hallush minta maaf dullu shama mommy."


Membuat Mallfin terdiam, menatap kosong pada buku bacaan di genggamannya. Saat itu, saat di rumah sakit tempo hari, tak sengaja ia mendengar percakapan sang mommy dengan mama Elena. Di situ ia tahu jika sebenernya laki-laki yang selama ini selalu menjenguknya adalah daddy nya. Daddy yang selalu membuat mommy nya bersedih dan dicemooh orang-orang. Mulai dari saat itulah, Mallfin semakin membenci Marcus.


"Mollin sheunang sheukalli kalluna Mollin puna daddy Apin. Teuman-teuman eundak bisha ejek Mollin eundak puna daddy lagi. Mollin sheunang sheukalli, sheunang banak-banak."


"Cukup Maurin!" Sentak Mallfin muak dengan pembicaraan itu.


"Apin keunnapa?" Gadis kecil itu menatap bingung pada sang kembaran yang tiba-tiba saja kesal. Padahal kan ia hanya bercerita.


"Daddy baik Apin... ."


"Tidak. Dia meninggalkan kita Maurin."


"Eundak, daddy peullgi bekelja, Apin. Daddy Eundak tinggal-tinggal Mollin, Apin shama mommy."


"Terserah, aku tidak ingin memiliki daddy seperti itu." Mallfin menutup bukunya begitu saja kemudian membaringkan badan dan memejamkan mata.


"Apin eundak bolleh shepeulti itu, Apin." bujuk Maurin menggoyangkan tubuh sang kembaran.


"Terserah. Aku ingin tidur, Maurin."


"Apin dahat."


"Terserah."


"Mollin eundak mau main shama Apin lagi."


"Bagus. Sana main sendiri."


"Ihhhh, Apin meneballkan."


Pertengkaran kedua buah hatinya itu sontak membuat Ana mematung di tempatnya. Serumit inikah hubungan diantara mereka.


Kerinduan Maurin akan sang daddy juga kebencian Mallfin pada sosok itu membuat Ana kini dilema. Pilihan mana yang harus ia putuskan nantinya.


Jika menolak, tentu saja itu adalah keinginan Ana, namun bagaimana dengan sang putri. Gadis kecil itu bahkan terlihat sangat bahagia atas kabar yang didapatkannya. Ana tau akan sehancur apa sang putri jika tau mereka tidak akan bersama.


Jika terpaksa harus menerima, ia tak apa, ia bisa mengorbankan hatinya. Namun, bisakah ia mengambil hati sang putra untuk mau menerima Marcus sebagai daddy nya. Kebencian itu telah tumbuh subur dalam hati sang putra. Ana tak menyangkalnya, Mallfin telah membenci sang daddy karena mengerti akan sakit yang Ana rasakan karena laki-laki itu.


Lalu, keputusan apa yang harus dipilih Ana


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading


Saranghaja 💕💕💕