
°°°~Happy Reading~°°°
"Apa uangku saat itu masih belum cukup?" decih Marcus to the point, seolah mengerti apa yang Ana inginkan saat ini.
Uang.
Tidak diragukan lagi.
Semua perempuan menganggap uang segalanya. Bahkan merelakan segala cara hanya untuk sepeser uang yang tak berharga.
Laki-laki itu berdecak.
Semua perempuan sama saja.
Ting... .
Suara lift itu menandakan jika mereka telah sampai di lantai dasar. Pintu lift pun terbuka. Membuat Ana sontak gugup. Ia bisa saja kehilangan kesempatan emasnya.
"Ya. Maka kita harus bicara di tempat lain untuk menyelesaikan pembicaraan ini." Perempuan itu berbicara cepat, takut laki-laki itu terburu-buru meninggalkannya.
"Lain kali saja. Aku tidak bisa." Sembari melirik arlojinya. Ia harus kembali ke perusahaan sesegera.
"Sekarang atau saya akan laporkan anda ke pihak berwajib. Saat itu, anda memaksa saya. Itu bisa dikatakan sebagai pelecehan." ancam Ana. Mungkin ini kesempatan terakhirnya. Ia tak boleh menyia-nyiakan kesempatan emasnya. Uang itu bisa ia gunakan untuk biaya pengobatan sang putra.
Marcus menarik senyum sinis. "Apa aku akan takut?!"
Ana benar-benar tak mengerti. Apa kekuasaan akan mampu membeli hukum di negara ini?
"Saya tak pernah menyangka jika anda akan sepengecut ini," tantang Ana.
Membuat emosi Marcus sontak tersulut, laki-laki itu merasa diremehkan.
"Kau tetap wanita murahan," umpatnya kemudian segera berlalu mempercepat langkah kakinya.
Ana menarik nafas dalam sebelum akhirnya mengekor membuntuti Marcus, dibelakangnya Felix melangkah perlahan. Tak masalah jika laki-laki itu akan mengusirnya atau bahkan kembali memakinya habis-habisan.
Ia tak perduli. Ini adalah kesempatan terakhirnya agar sang putra bisa segera dioperasi.
Sekali ini saja, biarkan ia mempermalukan diri sendiri atau bahkan merendahkan dirinya, hanya demi sang putra.
Mobil melaju dengan Ana duduk di samping kemudi. Felix yang biasa duduk disebelah supir kini harus beralih duduk di sebelah Marcus. Laki-laki itu tak sedikitpun sudi untuk duduk berdekatan dengan Ana-sosok perempuan yang dianggapnya wanita murahan yang tak segan menjual tubuhnya hanya untuk uang semata.
🍁🍁🍁
Di sebuah ruang VVIP sebuah restoran terkenal, dua sosok yang pernah menjalin cinta satu malam itu tengah duduk berhadapan. Marcus dengan wajah kelamnya, sedang Ana, entah apa ekspresi yang kini ditampilkannya. Hanya menatap kosong pada sosok didepannya.
"Katakan. Berapa uang yang harus ku bayar untuk malam panas itu?" ucap Marcus frontal. Laki-laki itu sungguh menganggap Ana seperti seorang pelac*r.
Mendengar itu, Markus sontak tersenyum sarkas.
"Jadi, hanya sebesar itu-- harga dirimu?"
Ana diam tak menimpali. Namun di bawah meja itu jemarinya saling bertaut. Rasa sakit itu semakin dalam terasa. Ana semakin terluka. Hatinya semakin berdenyut atas segala hinaan yang menerpa.
"Kurasa nominal itu terlalu tinggi untukmu. Kau terlalu murahan. Kau bahkan tidak pantas mendapatkannya."
Jangan ditanya bagaimana perasaan Ana saat ini.
Sakit?
Tentu saja. Namun ia bisa apa?
Sekuat hati Ana berusaha tetap bertahan. Ini semua untuk putra kesayangannya. Ini demi kesembuhan Mallfin atau semuanya akan benar-benar terlambat.
"Baiklah. Jika anda merasa tidak mampu, maka bayar saja 120 juta."
Ya, 120 juta mungkin sudah cukup jika di tambah dengan uang simpanan dan hasil pemberian madam Roselina. Biaya setelah operasi, ia bisa pikirkan nanti.
"Kau meremehkanku?!" Laki-laki itu berdecak, benar-benar tak suka pada Ana yang suka sekali merendahkan dirinya.
"Lalu berikan saja apa yang saya minta, dan urusan kita selesai. Saya tidak akan mengusik anda lagi sampai kapanpun."
Mendengar itu Marcus berdecak kesal, 'memuakkan'.
Tangan kanannya kemudian bergerak membubuhkan tinta pena di atas lembar cek. Selesai menuliskannya, dengan arogansi yang tinggi laki-laki itu melemparnya dengan kasar di hadapan Ana.
Dengan harga diri yang sudah hancur lebur, Ana bergerak mengambil lembar cek itu. Perempuan itu kemudian memeriksanya.
300 juta. Ini lebih dari cukup untuk biaya operasi sang putra. Membuat senyum itu akhirnya menyungging di bibirnya. Ana menarik nafas lega. Akhirnya biaya operasi sang putra akan bisa dilunasi sesegera.
"Sepertinya kau puas dengan nominal yang ku berikan? Kau benar-benar memuakkan."
Laki-laki itu kemudian bangkit dari duduknya. Jemari tangannya bergerak membenahi kancing jas yang membalut tubuhnya.
"Urusan kita sudah selesai. Sampai kau berani menggangguku lagi, aku tak akan melepaskanmu."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕