
°°°~Happy Reading~°°°
"Bagaimana kalau daddy belikan Maurin boneka bayi? Sebelum bermain dengan adek bayi sungguhan, Maurin harus berlatih dulu dengan boneka mainan." Tawar Marcus.
"Bayi bonneka itu shepeulti apa?"
"Seperti adek bayi sungguhan, sayang. Nanti Maurin bisa bermain dengan boneka bayinya sepuas Maurin. Nanti, bonekanya bisa Maurin kasih mamam, terus dimandiin juga bisa, terus apalagi ya, eummm..." Ana mengetuk-ngetukkan kepalanya dengan jari telunjuk.
"Bisha Mollin kashih cucu, mommy?"
"Ya, semuanya. Nanti Maurin bisa bermain dengan boneka bayinya sesuka Maurin. Maurin setuju kan, Sayang? Kita beli boneka bayi untuk Maurin?"
"Mollin tudjuh Mollin tudjuh. Nanti beulli bonneka bayi oek-oek na dua ya daddy. Biall nanti kita bisha main shama-shama. Hihihi... ."
"Baiklah, apapun untukmu, girl."
Gadis kecil itupun berlari menyusul Mallfin dan grandpa dengan wajah berbinar indah. Tidak dapat adik bayi, dapat boneka bayinya pun tidak apa-apa. Hehehe, tidak buruk juga.
"Lihat, betapa sulitnya membujuknya. Mama mungkin tidak akan sanggup, An." Keluh mama Elena.
"Sebenarnya tidak terlalu sulit ma, asal kita bisa menjelaskannya pelan-pelan, Maurin masih bisa menerimanya. Tapi ya tantangannya, pikiran Maurin tidak sesederhana yang kita bayangkan. Jadi kita harus ekstra sabar saat menjelaskannya." Seru Ana menimpali. Memang, otak kecil Maurin terkadang terlalu rumit dibandingkan otak manusia dewasa pada umumnya. Jadi kita harus bisa menyesuaikannya sendiri.
"Kamu hebat An. Kalau mama ada di posisi kamu, mungkin mama sudah menyerah. Pusing sama kelakuan Maurin yang agak lain itu. Ahahaha... ."
"Mama juga hebat, bisa membesarkan dan mendidik anak-anak mama menjadi orang-orang hebat." Balas Ana ikut memuji.
"Maksud kamu laki-laki itu?" Seru tuan Regar ikut menimbrung. Dagunya menunjuk Marcus dengan tatapan yang meremehkan. Wajah yang penuh bedak itu pun sudah terlebih dulu dibersihkan.
"Papa meragukan aku?"
"Ya, tampang aja sangar, tapi belum bisa kasih kami cucu lagi, iya kan Ma?" Decak tuan Regar mulai memprovokasi.
"Iya tuh pa, bener banget. Masa badan segede itu ngga bisa hamilin Ana, ck. Cemen kamu, Marc."
"Mama nantangin ya?" Kan, laki-laki itu mulai tersulut.
Terus saja di provokasi seperti itu, membuat jiwa pesaingnya semakin bergejolak. "Oke, Marcus ambil tantangan mama sama papa. Bulan depan, istri Marcus pasti akan hamil."
Membuat Ana seketika itu mendelik. "Mas?" Bagaimana bisa laki-laki itu tanpa malu membicarakan hal setabu ini di depan orangtuanya.
"Mari bekerja keras, Sayang." Seru Marcus melemparkan senyum manisnya pada sang istri. Membuat perempuan itu seketika bergidik.
🍁🍁🍁
"Ashi Ashi... ."
Awal pekan itu, pagi-pagi sekali sebelum kelas dimulai, si kecil Maurin berlari menghampiri Arshi dan juga Maura untuk mendiskusikan sesuatu hal yang penting. Sangat penting hingga membuat gadis kecil itu berlari saat menuju kelasnya kala itu.
"Iya Mollin, keunnapa Mollin tellshedak-shedak?"
*tellshedak-shedak : tersedak-sedak, tapi maksudnya Arshi terengah-engah.
"Ashi, ini ulgent. Keumallin, Mollin dah minta mommy shama daddy buatin Mollin adek bayi oek-oek, tapi kata mommy eundak bisha teupat-teupat Ashi. Mollin tuma dapat bonneka oek-oek. Mollin jadi sheuball."
*ulgent : urgent / gawat
Mendengar hal itu, gadis kecil itu sontak terbahak. "Ahahaha, Mollin ini eundak deshten sih. Dedek bayi oek-oek itu eundak bisha langshung mullutush Mollin. Kita hallush tunggu banak-banak halli shampe dedek bayi oek-oek na beullkeumbang. Halli-halli kita hallush kashih kish di pullut mommy biall dedek bayi oek-oek na teupat-teupat beullkeumbang. Iya kan Molla?"
*deshten : understand/ tau
Angguk Maura. "Iya Mollin, Ashi betull betull. Dullu waktu dedek Lucin mashih dalam pullut mommy na Molla, Molla duga shelling kashih kiss biall dedek Lucin teupat-teupat mullutush. Tullush Dedek Lucin beullgellak-beullgellak gitu, hihihi. Lutu sheukalli Mollin. Pullut na mommy beullguntang. Ahahaha... Shepeulti ada gempa."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕