
°°°~Happy Reading~°°°
"Mommy mommy, Mollin udah tantik bellum?" Gadis kecil itu tersenyum sembari memiringkan kepalanya dengan kelopak mata berkedip-kedip manja. Sangat menggemaskan.
"Ya, putri mommy cantik sekali seperti princess. Princess Maurin mau kemana sekarang?" Goda Ana
Membuat gadis kecil itu terkikik. "Hihihi... pllinsess Mollin mau peullgi beullajall dullu mommy. Nanti di shekullah, Mollin tukall nama shama teuman-teuman, tullush kita main shama-shama deh. Hihihi... ."
"Daddy daddy, Mollin tantik sheukalli ya... Tadi Mollin minta mommy kuntill dua. Mollin shuka sheukalli. Gemoyi." Gadis kecil itu menodong sang daddy begitu laki-laki itu memasuki badan mobil. Marcus harus kembali ke ruangannya sebentar, sehingga laki-laki itu meminta Ana membawa anak-anak ke mobil lebih dulu.
"Ya, putri daddy cantik sekali, dan putra daddy juga sangat tampan. Apa kalian sudah siap, twins?"
"Shiap daddy, lesh go... ."
Mobil mulai merayap membelah keramaian jalanan ibukota. Setengah jam berlalu, mereka akhirnya sampai di sebuah sekolah elit untuk kalangan berduit. Bukan bermaksud boros. Tentu Marcus melakukan ini karena ingin memberikan yang terbaik untuk kedua buah hatinya. Apalagi dalam urusan pendidikan.
"Baik-baik kesayangan daddy." Seru Marcus mengecup kening anak-anaknya bergantian.
"Daddy duga baik-baik. Eundak bolleh nakall-nakall ya..." Seru Maurin ikut memperingati.
Marcus terkekeh. "Baiklah. Daddy tidak akan nakal-nakal. Daddy pamit dulu. Kalian belajarlah yang rajin."
Marcus kemudian menegakkan tubuhnya, menatap pada Ana yang sejak di dalam mobil tak bersuara. Sepertinya perempuan itu agak marah setelah dirinya memaksanya membawa segepok uang yang ia ambil dari brankasnya sebelum laki-laki itu memasuki mobil.
Bagaimana lagi, Ana belum bisa menggunakan mesin ATM, uang cash menjadi satu-satunya cara ia bisa memberikan istrinya itu uang jajan. Hanya sepuluh juta, tapi perempuan itu sudah marah-marah enggan membawa semuanya. Padahal di zaman sekarang, semua serba mahal.
"Masih marah?"
Ana menghela nafas dalam. Ia sadar, ia salah. Tak seharusnya ia menolak pemberian dari suaminya. Tapi tetap saja, suaminya itu terlalu pemaksa. Sepuluh juta bukan uang yang sedikit untuknya. Dan laki-laki itu memintanya membawa semua uang itu kemanapun di dalam tas nya?
"Maafin Ana, mas. Ana tidak bermaksud."
Perempuan itu hanya bisa mengangguk patuh. "Mas hati-hati." tangannya kemudian mengulur, mencium tangan sang suami begitu laki-laki itu melepaskan rengkuhannya.
Mobil melaju pergi meninggalkan Ana bersama dengan anak-anaknya. Ketiganya kemudian melenggang memasuki sekolah elit itu lebih dalam.
Baru beberapa langkah kaki itu mengalun, terdengar teriakan yang menggema. Pekikan itu terdengar begitu familiar, membuat gadis kecil itu cepat-cepat menolehkan kepalanya.
"Mollin... ."
"Ashi... ."
Si kecil Maurin sontak berlari mendekat pada sang sahabat. Kedua gadis kecil itu kemudian saling berpelukan erat.
"Mollin ada apa shini? Kok eundak shuppik-shuppik shama Ashi kallau Mollin mau shini. Kallau Ashi tau kalau Mollin shini kan kita bisha beullangkat shama-shama." Cecar Arshi.
"Mollin mau beullajall shini Ashi. Ini Mollin bawa tash ballu na Mollin. Shama pattu ballu, hihihi..." gadis kecil itu memperlihatkan barang-barang miliknya yang kemarin dibeli bersama daddy nya. Sombong khas nya anak-anak.
"Woahhh. Badush sheukalli Mollin.... ."
"Ashi?"
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading semua
Saranghaja 💕💕💕