Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Jangan Mengusik Kami


°°°~Happy Reading~°°°


Tak lama pintu terdengar dibuka, menampilkan sosok laki-laki bertubuh jangkung dengan setelan jas yang tersemat di tubuhnya.


Seketika Ana membeku.


Laki-laki itu-- Bagaimana laki-laki itu menemukan ruangan ini? Apa ia telah mengetahui perihal putra-putrinya saat ini?


Seketika Ana memucat, bagaimana ini? Bagaimana jika laki-laki kejam itu akan mengambil anak-anaknya nanti?


Tidak.


Buru-buru Ana bangkit dari duduknya, meski dengan tubuh yang gemetar, langkah kaki itu tetap mengalun menyusul Marcus yang masih mematung di depan pintu.


"Untuk apa anda datang kesini?"


Ana menatap Marcus penuh khawatir, apalagi saat manik biru itu mulai menelisik keberadaan sang buah hati.


Membuat Ana yakin, mungkin laki-laki itu telah mengetahui perihal keberadaan anak-anaknya saat ini.


Tidak. Tidak boleh seperti ini.


Bisa saja laki-laki itu membawa mereka pergi.


Ana tidak ingin itu terjadi.


"Tolong anda pergi dari sini. Jangan mengusik kami."


Tangan itu mengulur hendak mendorong dada bidang itu sebelum akhirnya Marcus berhasil mencekalnya.


"Ana--"


"Apa anda tuli? Saya ingin anda pergi dari sini." Suaranya lirih, namun jelas terdengar nada bergetar di dalamnya. Meski sekuat hati perempuan itu berusaha menyembunyikan semua ketakutannya, namun nyatanya Ana tak sekuat yang terlihat.


Pertahanan itu runtuh, air mata itu luruh begitu saja, Ana tak mampu menyembunyikan segala ketakutannya.


"Tolong pergi dari sini, tuan."


Bagaimana jika nanti ia kehilangan kedua buah hatinya. "Tolong, menjauh dari kami."


Di tengah isak itu, sepasang tangan itu mengulur merangkum bahunya yang kini bergetar.


"Kita bicara di luar." putus mama Elena. Pertengkaran ini tak baik untuk anak-anak.


"Uncle Hillo..." Gadis kecil itu sontak menghambur ke dalam rengkuhan Marcus, membuat laki-laki itu sontak menurunkan badannya, merengkuh gadis kecil itu dengan rasa yang berbeda. Sebuah rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


"Uncle Hillo kok ballu shini? Mollin calli-calli uncle Hillo, tapi eundak ketemu. Mollin jadi sheuball."


"Aku sibuk." Laki-laki itu tak banyak mengeluarkan kata, jemarinya kini mengulur mengusap wajah si kecil Maurin yang berbinar menyambutnya.


"Mollin tantik kan uncle Hillo, hihihi... ."


Membuat senyum itu menyungging. "Ya. Kamu sangat cantik."


"Tantik shepeulti mommy, hihihi... ."


Ana semakin memucat, kedekatan sang putri entah kenapa membuat Ana semakin ketakutan. Takut jika sang putri dengan mudahnya berpaling pada laki-laki kejam yang telah menghancurkan hidupnya.


"Sayang, Maurin harus ganti baju dulu, heummm... ."


Ana mengambil Maurin dengan lembut, ia tak ingin bertindak gegabah, apalagi didepan anak-anaknya.


"Shiap mommy."


"Uncle Hillo tunggu Mollin ya, Mollin mau bellubah jadi plinsess dulu... ."


"Heummm, baiklah."


"Ayo sayang. Maurin harus ganti baju." Ana mengulurkan tangannya, membuat Maurin sontak menyaut tangan itu. Keduanya kemudian berlalu menjauh, Meninggalkan keluarga kecil yang tengah di guncang prahara itu.


"Kamu sudah memutuskan?" Sarkas tuan Regar. Sampai dirinya bertandang ke ruangan sang cucu, nyatanya Marcus masih belum bisa mengambil keputusan.


"Ya. Maka dari itu aku kesini."


"Apa kau melihatnya? Kau sudah menghancurkan perempuan itu, Marc," seru tuan Regar sembari melempar pandang pada kesibukan Ana yang kini silih berganti memberikan perhatiannya kepada kedua buah hatinya.


Marcus diam tak menimpali, manik matanya hanya menatap tajam pada kesibukan Ana bersama anak-anaknya.


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading semua


Saranghaja 💕💕💕