Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Membahagiakan Anak-anak Bersama


°°°~Happy Reading~°°°


"Vell. Please tell me. What should I do."


Marvell terdiam sejenak. "Aku tidak yakin bisa memberikan solusi untukmu. But, i just want to say--kau harus mengambil simpati dari ibunya lebih dulu. Putramu mungkin seperti putraku, dia membenciku karena telah menyakiti mommy nya dulu. Begitu kau mendapatkan simpati dari perempuan itu, perempuan itu mungkin akan memberikan pengertian pada putramu. Dan--ya, kau juga harus tetap memperhatikan putramu. Tunjukkan perhatian terbesarmu. Perjuanganmu mungkin tidak akan mudah. But, enjoy it."


Marcus mengusap wajah frustasi. "Bagaimana aku bisa mengambil simpatinya jika dia saja mengacuhkan ku."


Marvell mengernyit. "Apa kau pernah merendahkannya dulu? Atau menghinanya?"


Sejenak Marcus terdiam, ingatannya kembali saat dimana dulu laki-laki itu pernah melempar cek pada Ana dengan ribuan makian. Padahal, nyatanya uang itupun digunakan Ana untuk biaya pengobatan sang putra yang tengah sakit parah. Membuat laki-laki itu sontak mengumpat frustasi. "Shhhht... ."


"Umpatan mu jelas menunjukkan jika kau telah melakukan kesalahan besar itu, Marc." sindir Marvell.


"Lalu aku harus apa, huh." Geram Marcus, Marvell benar-benar menyebalkan, sangat bertele-tele dan membuatnya semakin pusing saja.


"Luluhkan hatinya, maka kau akan mendapatkan anak-anaknya. Beli satu, gratis dua."


"Brengs*k."


6


🍁🍁🍁


Langkah kaki itu mengalun ragu. Bagaimanapun ia berusaha untuk tetap tenang seperti biasa, namun nyatanya debaran itu tak bisa ia sembunyikan begitu saja.


Menemui mereka, nyatanya membuat Marcus merasakan gugup luar biasa. Apalagi dengan tatapan Mallfin yang seolah ingin menerkamnya.


"Uncle Hillo... ."


Seperti biasa, gadis kecil itu akan langsung menyambutnya dengan menghambur ke dalam rengkuhannya. Membuat Marcus sontak merentang, menyambut rengkuhan sang putri yang berlari cepat ke arahnya.


"Kamu sudah menunggu uncle?" Senyum itu mengembang indah, tak sekaku tadi saat manik mata itu menatapnya tajam.


"Ya uncle. Mollin dah tunggu uncle lamma sheukalli. Uncle halli ini teullambat lamma-lamma. Uncle hallush di hukum."


"Benarkah? Coba katakan, uncle dapat hukuman apa dari gadis cantik ini." Gemas, tangannya kini bergerak menoel hidung kecil milik si kecil Maurin.


"Uncle hallush tium Mollin banak-banak."


Membuat laki-laki itu sontak menghamburkan ciuma*nya. "Kenapa kau sangat menggemaskan, heummm... ."


"Kalluna Mollin putelli tantik na mommy Sya-Sya, hihihi... ."


Namun ia pun tak dapat memaksakan kehendaknya. Ana masih enggan untuk mengatakannya. Perempuan itu takut, kenyataan itu akan membuat keadaan sang putra kembali ke titik terendahnya.


'kau juga putri kesayangan daddy, girl.'


Tangannya bergerak mengusap lembut helai rambut itu. Manik matanya jelas memperlihatkan betapa laki-laki itu menyayangi gadis kecil itu.


Bisakah ia melewati hari-harinya bersama mereka saja? Sungguh, rasanya begitu nyaman. Marcus merasakan kedamaian yang bahkan tak pernah ia rasakan sebelumnya.


"Maurin harus makan siang dulu."


Intrupsi itu memaksa Marcus menurunkan Maurin dari gendongannya.


"Uncle mamam shama-shama Mollin yuk." Ajak Maurin menggandeng tangan besarnya.


Laki-laki itu menggeleng. "Tidak. Uncle sudah makan tadi. Kamu saja." Tolaknya.


Membuat gadis kecil itu sontak berlari mendekati sang mommy untuk menyantap makan siangnya.


Sedang Marcus, laki-laki itu memilih memisahkan diri di sofa yang terletak agak jauh dari keluarga kecil itu. Manik matanya yang tajam kini tak lepas dari sosok Ana. Perempuan itu begitu penuh akan kasih sayang, bahkan kini tak segan menyuapi kedua anaknya bergantian tanpa sedikitpun rasa enggan.


Selesai menyantap makan siangnya, sepasang kembar itu tertidur pulas menikmati waktu tidur siangnya. Membuat Marcus kini mendekat.


"Bisakah kita bicara sebentar?"


Ana sontak bangkit. "Kita bicara di luar saja." Tak ingin pembicaraan mereka sampai bocor ke telinga Mallfin yang belum sepenuhnya terlelap, Ana memilih berbicara diluar.


Keduanya pun melangkah keluar meninggalkan sepasang kembaran yang masih asik menikmati waktu tidurnya. Duduk bersebelahan di kursi tunggu, mereka mulai berbicara.


"Aku tau mungkin apa yang selama ini kulakukan padamu sangat keterlaluan. Tapi, tolong beri aku satu kesempatan untuk bisa menebusnya."


"Menikahlah denganku. Mari membahagiakan anak-anak bersama."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading semua


Saranghaja 💕💕💕