
°°°~Happy Reading~°°°
Kelopak mata itu perlahan mengerjap, Ana akhirnya terbangun dari tidurnya setelah hampir satu jam lamanya tenggelam dalam mimpi indahnya.
Dilihatnya ke sisi kiri kanannya. Anak-anak masih terlelap, mungkin karena kelelahan bermain membuat keduanya begitu lelap dalam tidurnya.
Perempuan itu memilih bangkit dari ranjangnya. Rasa bersalah kini menelusup dalam relung hatinya, disaat sang suami tengah sibuk bekerja, ia malah terlelap dengan nyamannya. Padahal niatnya tadi hanya ingin merebahkan tubuhnya sembari menunggu anak-anaknya terlelap. Tidak taunya ia malah ikut terlelap nyenyak bersama dengan anak-anaknya.
Dibukanya pintu kamar itu perlahan, membuat beberapa pasang mata itu seketika menatap ke arahnya.
Ana yang masih setengah sadar itu hanya bisa terpaku di tempatnya. Kelopak mata itu tampak mengerjap kasar kala mendapati sorotan dari banyak pasang mata yang kini menatapnya penuh kebingungan.
Hingga akhirnya rengkuhan itu berhasil menyadarkan Ana dari keterkejutannya. Perempuan itu mendongak, menatap pada sang suami yang kini menenggelamkan tubuhnya ke dalam rengkuhannya.
"Mas..." Seru Ana penuh tanya. Mengapa sang suami tiba-tiba merengkuhnya bahkan di depan orang-orang itu.
"Sebaiknya kamu masuk lagi, kamu belum memakai hijabmu."
Masuk? Hijab?
Membuat Ana seketika itu membeliak. Tangannya spontan menyentuh kepalanya yang sedikitpun tak tertutupi hijab.
Apa yang terjadi. Kenapa ia tak memakai hijabnya. Sejak kapan hijab itu tertanggal dari kepalanya.
Membuat perempuan itu sontak melepaskan rengkuhan suaminya. Secepat kilat Ana kembali memasuki ruangannya, kemudian menutup pintu itu rapat-rapat. Ana bersandar di daun pintu dengan jantung berdegup hebat.
Ada apa ini?
Mengapa banyak orang-orang di luar sana? Dan lagi, mengapa ia keluar ruangan tanpa hijab yang menggantung di kepalanya.
Ahhh, tidak.
Apa mereka semua tadi melihat dirinya?
Ahhh tidak. Mereka pasti melihatnya.
Marcus kembali mendudukkan diri di kursi sofa. Laki-laki itu terlihat membenahi dasinya kemudian berdeham cukup keras.
Ekhem... .
Membuat manusia-manusia di depannya kembali menfokuskan pikirannya. Kehadiran perempuan di kamar istirahat milik sang CEO cukup membuat mereka terkejut luar biasa. Wajahnya yang polos tanpa make up itu terlihat cantik alami dengan rambut yang di gerai indah.
Apa perempuan itu adalah sosok yang telah berhasil meluluhkan hati dingin CEO arogan itu?
Seratus persen mereka menebak demikian.
Anggapan bahwa laki-laki itu tak berselera pada seorang perempuan seketika itu sirna. Anggapan sikap arogan yang selama ini telah melekat di dirinya perlahan memudar terganti dengan sikapnya yang menghangat. Laki-laki itu bahkan tak segan melindungi wanitanya dari pandangan laki-laki lain. Apa sebesar itu cinta yang dimiliki laki-laki itu untuk perempuan misterius yang tengah bersembunyi di balik kamar rahasianya?
Perempuan-perempuan yang turut mendiami ruangan itu seketika dibuat iri pada sosok Ana yang begitu beruntung mendapatkan sosok Marcus yang penuh akan pesona.
Selesai mengadakan pertemuan dengan para manajer perusahaan, Marcus kemudian memasuki ruangan dimana tengah ditempati sang istri dan anak-anaknya.
Dibukanya pintu itu perlahan, terlihat Ana yang kini juga tengah menatap kearahnya. Perempuan itu segera bangkit dari duduknya kemudian mendekat ke arahnya dengan tergesa.
"Mas, A-Ana tadi tidak sengaja. Ana tidak tau kalau ada orang lain di luar sana. Ana juga tidak sadar kalau sedang tidak memakai hijab. A-Ana benar-benar tidak tau. Padahal seingat Ana, Ana tidak melepaskannya saat tertidur. Ana minta maaf. A-Apa mereka tadi memarahi mas? Ana benar-benar minta maaf."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading semua
Saranghaja 💕💕💕