
°°°~Happy Reading~°°°
"Mollin? Mollin keunnapa glanny? Keunnapa glanny tawa-tawa sheundilli?" Sedari tadi fokus dengan es krim ditangannya, gadis kecil itu sampai tak sadar jika tengah menjadi pusat pembicaraan.
"Ahahaha, tidak apa-apa sayang. Tadi ada kecoak nungg*ing di sana." Membuat gadis kecil itu sontak bergerak cepat menaiki kursi sofa meski dengan sepatu yang masih melekat di kakinya.
"Toa manna toa. Hush hush shanna. Dangan deukat-deukat Mollin tantik." Heboh Maurin meringsek pada tubuh mama Elena. Wajahnya sudah memucat penuh ketakutan, namun mama Elena dengan tidak ada akhlaknya kini malah tergelak.
"Tidak apa-apa sayang. Itu kecoa nya lucu kok... ."
"No no glanny. Toa dullek shuka teullbang tullush tium-tium anak tantik. Mollin eundak mau, Mollin eundak mau. Hwaaa... Mommy..." Tangis Maurin pecah, gadis kecil itu teringat akan cerita absurd dari si kecil Arshi yang sungguh di luar akal pikiran.
Memaksa Ana bangkit dari duduknya, tangannya bergerak membawa sang putri dalam gendongannya.
"An, kamu sedang hamil." Peringat mama Elena.
Marcus yang ikut khawatir itupun ikut beranjak dan mendekat pada istrinya. "Iya sayang. Sini, biar aku yang gendong saja." Tawar Marcus. Namun rengkuhan erat sang putri membuat Ana tak tega.
"Tidak apa-apa ma, mas. Hanya sebentar saja kok." Timpalnya sembari mencoba menenangkan sang putri yang tiba-tiba saja terisak. Entah cerita apa yang telah ia dengar tentang kecoa hingga kini terlihat begitu ketakutan disini.
"Duduk saja kalau begitu." Titah Marcus sembari menggiring sang istri duduk di kursinya kembali.
"Sudah dong, putri cantik mommy kenapa?"
"Shulluh peullgi toa na myh. Mollin eundak mau. Eundak mau. Hwaaa... ."
"Iya, kecoa nya udah pergi sayang. Tadi sudah dibuang daddy keluar."
Membuat tangis itu perlahan mereda.
Srukkk... .
"Mommy shius eundak ada toa dullek lagi?" Menatap sekitar penuh kewaspadaan.
Angguk Ana. "Iya sayang. Lihat tidak ada kecoa lagi kan disini?"
Maurin menatap sekitar. Tidak ada. Tadi pun ia tidak melihat kecoa sebenarnya. Tapi ucapan sang granny itu cukup membuatnya ketakutan. "Mau ekim lagi." Seru Maurin seolah lupa akan kejadian barusan. Membuat semua orang tercengang. Apa secepat itu perubahan mood seorang Maurin? Apa es krim itu terlalu menggoda untuk dibiarkan begitu saja.
"Kenapa Maurin takut kecoa?" Seru Stephanie tiba-tiba.
" Ashi shuppik-shuppik, kallo toa dullek shuka teullbang-teulbang tium anak tantik. Nanti kallau kita keunna tium ketoa, kita jadi ketoa onty. Sheullam sheukalli. Mollin takut... ."
"Mamang Arshi kata siapa?"
"Glanny na Ashi."
Membuat mama Elena sontak berdecak. "Clara benar-benar tidak ada akhlak. Bisa-bisanya ngajarin yang nggak-nggak sama cucunya. Mana sekarang diajarinnya ke Maurin pula."
"Kan sebelas dua belas sama mama?"
Membuat perempuan itu menatap putrinya tajam. "Nggak yah. Jangan ngawur kamu."
"Ya, apa Maurin nakal? Kalau iya, mau sekalian onty suntik?" Canda Stephanie. Membuat gadis kecil itu sontak menggeleng cepat. "No no no onty. Mollin anak baik lajin meunabung. Halli-halli daddy kashih uang banak-banak buat Mollin jadi Mollin meunabung banak sheukalli uang. Kallau shudah banak-banak nanti Mollin mau naik bullung shawat shepeulti Molla shama Ashi, hihihi... ."
"Kamu ingin naik pesawat?"
Angguk Maurin. "Iya onty. Kata Ashi naik bullung shawat shellu sheukalli. Bullung na beushall sheukalli. Kita bisha mashuk shama-shama shana. Kellen... ."
Baiklah, tidak diragukan lagi, ini ajaran sesat dari si kecil Arshi.
"Kamu tidak perlu menabung dulu kalau mau baik pesawat, daddy kamu kan punya pesawat sendiri?"
Membuat gadis kecil itu sontak membeliak. "Daddy puna bullung shawat? Onty eundak bohong-bohong?"
Marcus yang tengah sibuk menjelaskan isi buku yang tengah di baca sang putra kala itu pun tak langsung menimpali, membuat Ana menyenggol lengan sang suami sebelum sang putri murka nanti. "Mas... ."
"Iya, kenapa sayang."
"Itu di tanya Maurin."
"Huh? Kenapa, girl?"
"Daddy puna bullung shawat? Kata onty daddy puna bullung shawat sheundilli."
Laki-laki itu garuk-garuk kepala. "Burung sawat apa, sayang?" Lirihnya, tak ingin sang putri murka karena dirinya yang tak bisa memahami ucapan sang putri tercinta.
"Pesawat terbang, mas... ."
Membuat laki-laki itu sontak mengernyit. "Kok jadi burung sawat?"
Lama, membuat gadis kecil itu pun akhirnya murka. "Daddy keunnapa mallah shuppik-shuppik shama mommy sheundilli. Daddy bullum dawab peultanaan na Mollin." Cebik Maurin tak terima.
"Yes girl. Daddy ada pesawat terbang. Kenapa? Kamu ingin naik pesawat?"
"Yesh daddy. Kummon naik bullung shawat. Mollin mau mashuk pullut na bullung shawat, pashti shellu sheukalli, hihihi... ."
"Baiklah. Nanti saat akhir pekan, saat kalian libur, bagaimana?"
"Yesh, daddy. Mollin tuduh. Hihihi... Tullima kashih daddy na Mollin yang tampan, hahaha... ."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Bab ini agak ngga jelas ya, huhu
Tapi yang penting up deh, nanti kalian neror othor lagi
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕