Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Mollin Eundak Dapat Tium


°°°~Happy Reading~°°°


Esok itu semilir angin berhembus dengan syahdu, sepasang sumi istri itu terlihat masih meringkuk di bawah selimut tebalnya. Saling merengkuh satu sama lain memberikan kehangatan.


Ana tampak mengerjap, pemandangan pertama itu jatuh pada sosok sang suami yang kini menatap lembut kearahnya.


"Morning, honey."


Cup... .


Satu kecupan itu mendarat di bibirnya, Membuat Ana seketika itu merona. "Mas sudah bangun dari tadi?"


"Heummm, mas menunggumu bangun sejak tadi. Sepertinya kamu nyenyak sekali tidurnya?" Kerlingan itu nyatanya membuat Ana semakin merona. Ia tau betul apa maksud suaminya yang sebenarnya.


"Iya, Ana semalam mimpi indah, mas." Angguk Ana. Perempuan itu kemudian menyandarkan kepalanya di dada bidang itu. Terasa sangat nyaman hingga membuat perempuan itu kembali memejam, meresapi setiap kenyamanan yang disuguhkan suaminya.


"Mau mengulangnya lagi?" Tawar Marcus.


Kelopak mata itu membuka seketika. Kepalanya yang tadi bersandar pada dada bidang itu segera ia jauhkan dari sana. Ana buru-buru bangkit dari ranjangnya.


"Kita harus segera mandi mas." Seru Ana penuh alasan. Ini tidak akan berlangsung cepat. Anak-anak harus berangkat sekolah pagi ini. Ia khawatir kegiatan mereka nanti akan membuat anak-anak terlambat.


"Sekali saja, mari bermain cepat. Apa kamu tidak kasian dengan mas?"


Membuat Ana seketika itu menghela nafas dalam. "Baiklah."


Kandungan Ana sudah memasuki minggu ke 21. Perut yang awalnya rata itu kini sudah mulai membuncit menunjukkan jika di dalam sana ada kehidupan lain.


Selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi, Ana harus segera menuju kamar anak-anak. Kemungkinan anak-anak sudah selesai membersihkan diri dibantu dengan pelayan disana. Baru beranjak dari kursi riasnya, pergerakannya tiba-tiba terhenti. Membuat Marcus sontak diliputi khawatir saat menatap pada wajah terkejut sang istri.


"Kenapa sayang? Apa ada yang sakit, heummm... Dimana sakitnya? Disini?" Lihat saja, sekarang Marcus jadi over protektif terhadap istrinya. Tangan besarnya itu bahkan sudah mengusap-usap perut itu agar bayi kecil itu tak sampai melukai Ana.


"Tidak mas. Ana baik-baik saja. Tadi Ana hanya kaget karena adek tiba-tiba saja menendang." Seru Ana apa adanya, membuat Marcus seketika itu menghembuskan nafas lega. "Untunglah, mas pikir tadi kamu kenapa-napa, Sayang... ."


Sejenak laki-laki itu terdiam. "Sebentar. Tadi kamu bilang kenapa, Sayang?"


Membuat laki-laki itu sontak mendelik. "B-baby-- menendang?" Bahkan suaranya kini naik beberapa oktaf saking terkejutnya akan penuturan Ana.


"Iya, adek menendang mas... Coba mas rasain tendangan adek."


Ana membawa tangan besar Marcus ke dalam pakaiannya, menyentuh perut buncitnya hingga sensasi hangat itu terasa menjalar pada tubuhnya. Di detik kemudian, Marcus merasakan kedutan kecil di perut buncit sang istri, membuat laki-laki itu dibuat takjub seketika itu.


"S-sayang. Ini--tendangan baby?" Seru Marcus penuh tak percaya.


"Ya, mas merasakannya kan?"


Laki-laki itu mengangguk penuh haru. Bahkan manik matanya kini tampak berair dibuatnya. "Ya, rasanya luar biasa."


Laki-laki itu menatap perut membuncit itu dengan perasaan campur aduk. Haru bahagia itu menjadi satu. "Oke, come on baby. Menendang lagi. Kasih tau daddy jika kamu mendengarkan daddy, heummm... ."


Satu tendangan kecil kembali Ana rasakan, membuat senyum itu semakin lebar. "I-ini benar-benar menakjubkan, sayang. Dia mendengarkan mas. Ahahaha. Baby sepertinya tau kalau mas ini adalah Daddy nya. Hahaha... ."


"Adek sepertinya sudah tidak sabar mau bertemu dengan mas. Iya kan dek..." Seru Ana ikut mengusap perutnya sendiri.


"Terimakasih, sayang. Terimakasih."


Cup... .


"Daddy shama mommy Mollin tunggu long-long mallah shini tium-tium beulldua. Mollin eundak dapat tium!!!"


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading


Saranghaja 💕💕💕