
°°°~Happy Reading~°°°
Di sisi lain, Marcus kini tengah berbincang bersama dengan Marvell dengan sebuah minuman di tangannya. Bukan minuman beralkohol, hanya minuman biasa yang tersedia di pesta-pesta kalangan elit.
"Akhirnya kau berhasil juga." Seru Marvell setengah mengejek.
"Yes, of course. Kau masih meragukan ku?" Timpal Marcus menyombongkan diri.
"Heummm, kau sedikit pengecut."
"Pengecut? What do you mean?!" Laki-laki itu tersulut, tak terima dibilang pengecut. Padahal nyatanya ia bahkan memilih bertanggungjawab pada Ana, alih-alih memberikannya uang kompensasi.
"Kau pengecut kalau kau sampai tidak bisa membahagiakan keluargamu. Especially your'e wife. She has been through many things that are not easy."
(Dia telah melalui banyak hal yang tidak mudah.)
Laki-laki itu menunduk menunjukkan betapa besar penyesalannya kala itu. Mengingat saat-saat dimana orang-orang tidak tau diri itu menghina juga mencemooh perempuan itu tanpa henti, hatinya terasa nyeri. Apalagi saat menilik pada kehidupan Ana juga anak-anaknya dulu yang penuh akan kekurangan. Marcus merasa amat bersalah. Andaikan saja ia tau lebih cepat, pasti semua ini tidak akan terjadi.
"Yes, i know." Sesalnya.
"It's oke. Kau pasti bisa memperbaikinya nanti. Do the best. Perempuan itu telah memberikanmu kesempatan. Jangan pernah menyia-nyiakan nya." Tangan itu menepuk bahu kekar itu memberikannya semangat. Ia tau ini tidak mudah, ia pun pernah mengalaminya dulu.
"Oh ya, bagaimana kau bisa meluluhkan putramu huemmm... ."
"Waktu itu, ada orang-orang tidak tau diri mendatangi rumah Ana dan memakinya habis-habisan. Aku tidak terima dan langsung membuat pembalasan saat itu juga. Dan ya, putraku melihat semuanya."
"Kau menggusurnya?"
"Yeahh, of course."
"Good job. Dulu aku pun seperti itu. Orang-orang seperti itu tidak pantas diberikan tempat."
"Heummm, i see." Sembari menyeruput minuman di tangannya, merasa lega karena perjuangannya kini telah berada di atas satu tingkat. Tinggal bagaimana ia akan membahagiakan keluarganya nanti.
"Kau tak ingin meminta kiat-kiat padaku?"
Laki-laki itu mengernyit bingung. "Maksudmu?"
"Ayolah, come on. Kita sama-sama lelaki."
"Enyah. Aku tidak ingin mendengarkan bualanmu itu."
"Kau akan menyesal karena tidak mendengarkan ku."
"Terserah." Memalingkan wajahnya. Wajah tengil itu sangat-sangat mengganggunya. Marvell benar-benar menguji kesabarannya.
"Ku beri tau." Laki-laki itu mendekat kemudian berbisik. "I'm sure she still feels like a virgin."
Membuat Marcus membeliak sebelum akhirnya menatap nyalang pada sosok Marvell yang kini tertawa terbahak. "Shhhht. Aku benar-benar akan menghancurkan perusahaanmu." Pekik Marcus, membuat semua orang sontak menatap kedua laki-laki yang tengah berdebat itu penuh tanya.
"Jangan mengganggunya di hari bahagianya, mas." Peringat Anelis pada sang suami bersama Ana di sisinya.
Meski Anelis tak mengerti apa yang membuat kedua laki-laki itu berdebat, tapi sudah dapat dipastikan, suaminya lah yang lebih dulu berulah. Marvell terlalu tengil, apalagi setelah menikah dengan Anelis. Wajah dinginnya dulu telah sedikit luntur meski dengan ke-tengilan yang lebih mendominasi.
"Tidak sayang, aku hanya memberikan Marc informasi penting."
Anelis memicing penuh tanya, menatap penuh curiga pada sang suami yang terlihat tak seperti biasa.
"Ini tidak untuk dibicarakan dengan perempuan sayang. Hanya lelaki saja yang boleh membicarakannya. Oke?!"
Membuat Ana menggeleng menatap pada tingkah sang suami yang selalu saja di luar ekspektasinya. "Sudah, apapun itu mas jangan mengganggu Marc lagi." Peringat Anelis sekali lagi.
Marvell mengangguk patuh kemudian segera mendekat pada sang istri. "Baiklah, aku hanya akan mengganggumu saja, heummm..." Kerlingan itu membuat Anelis mengangkat tangannya kemudian mendorong halus wajah itu. Tidak boleh begini. Jika ia tak melarikan diri. Ia akan dalam bahaya besar.
"Ck, dasar. Budak cinta." Decak Marcus jengah melihat pemandangan di depannya.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕