
°°°~Happy Reading~°°°
"Daddy daddy, Mollin buat mamam untuk daddy. Daddy hallush coba." Seru gadis kecil itu menyodorkan piring mini lengkap dengan makanan di atasnya. Membuat Marcus mengernyitkan dahi, tak mengerti akan interupsi sang putri. Apa ia harus memakan piring itu ke dalam mulutnya?
"Daddy, aaaaa... Buka mullut na daddy. Mollin mau shuap-shuap daddy."
Membuat Marcus mau tak mau membuka lebar mulutnya. Apa ini akhir hidupnya karena memakan plastik yang disodorkan sang putri tercinta. Baru sampai di gerbang mulutnya, gadis kecil itu sudah menarik lagi sendoknya. Bola mata bulat itu menatap Marcus penuh harap. "Mamam buatan Mollin ennak kan daddy?"
Seketika itu Marcus tercengang. Ouhhh, jadi ini semacam pura-pura memasak, kemudian pura-pura menyantap hidangannya? Marcus jadi tertawa sendiri. Baru tau jika permainan anak kecil akan seperti ini.
Laki-laki itu kemudian mengangguk mantap. "Iya, girl. Enak sekali. Putri daddy memang hebat."
"Teullima kashih, daddy."
Cup... .
Marcus menyunggingkan senyum saat gadis kecil itu mencium pipinya dengan centilnya. Gadis kecil itu benar-benar penuh kejutan.
Tak lama terlihat Felix memasuki ruangan. "Tuan, rapat sudah siap di mulai."
Marcus menilik pada kedua buah hatinya yang tengah disibukkan dengan urusannya masing-masing. Mallfin dengan bukunya. Dan Maurin tentu dengan mainannya yang kini berserakan dimana-mana.
"Twins. Kemari sebentar." Interupsi itu sukses membuat keduanya sontak beranjak mendekat pada sang daddy.
"Ya, daddy?"
"Daddy ada rapat sebentar. Kalian bermain disini dulu ditemani uncle Felix, oke?"
"Shiap daddy." Gadis kecil itu paling bersemangat, ia akan mencoba bermain dengan asisten daddy nya itu.
"Good, twins."
"Kalau begitu daddy tinggal sebentar. Tidak lama. Daddy akan segera kembali kesini."
Laki-laki itu menyempatkan diri mencium kedua buah hatinya, sebelum akhirnya meninggalkan keduanya untuk melakukan pertemuan dengan karyawannya.
Meeting kali itu berlangsung seperti biasa, menegangkan dan penuh akan intimidasi dari sosok berwajah nyalang. Setengah jam berlalu, namun pertemuan kali itu tak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir karena Marcus yang lagi-lagi merasa tak puas akan kinerja bawahannya.
Hingga pintu ruang meeting itu tiba-tiba saja terbuka, menampilkan sosok gadis kecil yang terlihat melongokkan kepalanya ke dalam pintu yang sedikit terbuka.
"Daddy?"
"Daddy shini?"
"Uncle shama onty lihat daddy na Mollin?"
Membuat semua orang seketika itu mengernyitkan dahi. Sejak kapan perusahaan ini membuka taman bermain. Mengapa ada anak kecil berkeliaran di tempat penting ini. Apa orang tuanya ingin cari mati? Bahkan kini mereka tengah berada dalam pertemuan penting.
"Daddy... ."
Tak ayal semua orang dibuat ternganga tak percaya saat menatap pada sosok kecil yang tengah merengkuh bos mereka yang terkenal dingin. Lebih mengejutkan lagi, saat mereka dapati laki-laki itu malah membalas rengkuhan itu.
Apa maksud semua ini.
"Kenapa kamu kesini, Girl?" Seru Marcus sembari membawa sang putri ke dalam pangkuannya.
"Mollin boshan, daddy. Daddy lamma sheukalli."
"Sorry girl. Sebentar lagi akan selesai. Kamu tidak bermain dengan uncle Felix?"
"Shudah, kita tadi main shallon-shallon. Tullush Mollin boshan, Mollin mau shini aja shama daddy."
"Heummm, baiklah."
Sikap hangat yang ditampilkan Marcus saat itu sontak membuat para peserta rapat seketika itu tercengang. Jadi rumor yang merebak esok tadi benar adanya? Bahkan kini mereka dapat melihat secara langsung bagaimana laki-laki yang biasanya bersikap dingin itu berubah menghangat di depan gadis kecil yang memanggilnya dengan sebutan "daddy" itu.
Jadi, apa benar gadis kecil itu anak kandung dari sang atasan?
Meeting telah usai, semua peserta rapat berangsur kembali ke ruangan masing-masing, tak terkecuali Marcus. Melangkah memasuki ruangannya, Marcus dibuat tercengang dengan penampilan baru Felix.
"Fel?! What's happen?"
Laki-laki itu garuk-garuk kepala. "Ini hasil karya nona muda, tuan." Seru Felix dengan wajah nelangsa.
Marcus menoleh menatap pada sang putri yang kini meringis memperlihatkan deretan gigi kecilnya. "What's happen, girl?"
"Hihihi, tadi Mollin main shallon-shallon shama uncle Hwelish, Daddy."
Marcus menepuk jidatnya. Laki-laki itu kemudian melempar pandang pada Felix yang kini terlihat sangat mengenaskan dengan dandanan menor di wajahnya.
Maurin, kamu benar-benar membuat onar hari ini.
"Terimakasih, Fel. Bulan ini bonusmu dua kali lipat."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕