Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Dicampakkan


°°°~Happy Reading~°°°


"Aunty keterlaluan!" Sorot mata itu tajam menghunus. Mallfin benar-benar murka. Bocah laki-laki itu tidak akan sedikitpun membiarkan sang mommy di sakiti orang lain seperti dulu mereka menyakiti mommy nya. Mungkin dulu ia hanya bisa diam tanpa sepatah kata, tapi sekarang tidak lagi.


"Maafkan aunty sayang, aunty hanya bercanda tadi." Seru Stephanie dengan wajah pias penuh ketakutan. Mallfin benar-benar menakutkan, persis seperti Marcus saat memarahinya habis-habisan.


"Tapi kenapa mommy bisa sampai menangis?! Pasti aunty keterlaluan!" Sergah Mallfin. Bocah laki-laki itu kemudian berbalik menatap sang mommy penuh kekhawatiran.


"Mommy, apa ada yang sakit? Apa mommy terluka?"


"Tidak sayang. Mommy tidak apa-apa. Aunty Steevy benar, tadi aunty hanya bercanda. Aunty tidak melakukan apapun pada mommy. Mommy baik-baik saja, sayang. Jadi Mallfin jangan marah lagi ya sama aunty Steevy, heummm... ."


"Tapi aunty Steevy sudah buat mommy menangis. Mallfin tidak terima!" Seru bocah laki-laki itu tampak berapi-api. Membuat Marcus menarik bibir tanpa sadar. Melihat Mallfin, Marcus seperti melihat dirinya sendiri. Mallfin benar-benar cerminan dirinya.


"Tadi aunty Steevy hanya ingin bermain-main dengan mommy, Sayang. Aunty Steevy tidak berniat menyakiti mommy sama sekali. Aunty Steevy kan baik. Dokter baik yang dulu bantu sembuhkan Mallfin. Apa Mallfin lupa?"


Mallfin terdiam. Benar, dulu Stephanie sangat baik padanya. Bahkan sangat baik hingga sering memberikan makanan ataupun buah bagi sang adik disaat dirinya di rawat dulu. Tidak hanya itu, dokter Stephanie juga sering mengajak Maurin bermain disaat Ana harus meninggalkan rumah sakit karena ada urusan.


"Aunty Steevy harus meminta maaf dulu pada mommy, baru Mallfin maafin aunty." Seru Mallfin tak ingin tahu. Yang penting ia sudah memberikan kesempatan pada perempuan itu.


Membuat Stephanie mau tidak mau menuruti keponakannya yang kini tengah murka. "Mba Ana. Maafkan aku ya. Aku salah. Aku sudah menyakiti mba tadi." Seru Stephanie sembari menghamburkan rengkuhannya.


"Tidak apa Steevy. Aku baik-baik saja."


Setelah melepaskan rengkuhannya, Stephanie beralih menatap pada Mallfin."Apa sekarang Mallfin sudah bisa memaafkan aunty?"


Angguk Mallfin. "Heummm..." Wajahnya masih masam saja. Persis seperti Marcus ketika sedang mengamuk.


"Kalau begitu peluk aunty." Pinta Stephanie merentangkan tangannya. Membuat Mallfin seketika mengernyit.


Apa ia baru saja dicampakkan oleh seorang bocah kecil?


"Steevy. Maafkan putraku. Kau tau sendiri dia seperti apa..." Seru Ana tak enak hati.


Stephanie garuk-garuk kepala. "Iya. Aku tau. Tapi ku pikir, karena kita keluarga mungkin dia tidak akan menolak ku seperti tadi. Tapi ternyata aku sudah dicampakkan seperti ini, ahahaha..." Tawanya hambar.


Setelah susah payah membujuk si kecil Mallfin, akhirnya bocah laki-laki itu pun mau berdamai dengan Stephanie yang kini hanya bisa terduduk di sofa dengan wajah malang nya. Kemarahan Mallfin benar-benar menakutkan, mirip seperti Marcus saat memarahinya dulu karena diam-diam berpacaran waktu SMA. Padahal apa salahnya pacaran di masa-masa indah bangku SMA. Toh dia sudah besar dan bisa memilah baik buruknya. Mungkin.


"Gimana rasanya kena marah Mallfin. Puas? Atau masih mau lagi?" Sindir Marcus dengan wajah penuh kepuasan.


"Keterlaluan kamu kak." Seru Stephanie bersungut-sungut.


"Kamu yang jauh lebih keterlaluan. Ana sedang hamil tapi kamu malah mengerjainya dengan adegan perselingkuhan. Untuk tadi istriku tidak kenapa-kenapa. Kalau sampai istriku dan bayinya--"


"Mas..." Ana menahan ucapan Marcus. "Tidak baik bicara hal buruk seperti itu." Seru Ana memperingati.


Marcus menghela nafas dalam. "Maaf, sayang."


"Ashshamikum. Mollin kambekkk, ahahaha... ."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy Reading semua


Saranghaja 💕💕💕