
°°°~Happy Reading~°°°
Ana tercekat saat tangan kekar itu melingkar erat di tubuhnya. Jantungnya berdebar hebat. Nafasnya tercekat. Mendadak tubuhnya kaku tak mampu digerakkan.
Apa yang harus ia lakukan?
Ana seolah lumpuh di tempatnya.
Mencoba bangkit namun tangan itu terlalu erat melingkar di tubuhnya.
Ana menyimpan rambutnya di belakang telinga saat helai rambut itu berhasil menerpa wajah Marcus. Perempuan itu menjauhkan wajahnya. Manik matanya menatap lekat pada wajah Marcus yang sedikitpun tak merasa terusik akibat rambutnya yang tadi berjatuhan di wajahnya.
Ana dibuat gelisah.
Bagaimana ini.
Apa ia bangunkan saja sosok itu agar segera melepaskan rengkuhannya?
"Mas, bangun." Lirihnya, bahkan sangat lirih hingga denting jam saja masih lebih keras dari gumamannya.
"Mas..." Ulangnya, sedikit mengeraskan suaranya. Bukannya melepaskan belitannya, sosok itu malah semakin mengeratkan rengkuhannya.
Duh, apa yang harus ia lakukan. Ana kebingungan. Ia takut jika laki-laki itu terbangun dengan keadaan seperti ini. Tapi jika tak membangunkan, lalu sampai kapan ia harus bertahan seperti ini. Belitannya saja terasa begitu kuat dirasakannya saat ini.
"Mas, tolong bangunlah."
Kelopak mata itu perlahan mengerjap. Setengah sadar Marcus menatap pada sosok didepannya. "Ana, kenapa kau disini?"
Ana tergagap. Bukankah mereka sudah menikah? Lalu, dimana seharusnya ia berada? "Semalam mas yang suruh Ana tidur disini."
"Aku masih mengantuk." Mengeratkan rengkuhannya. Wajahnya bahkan kini mendusel pada leher jenjang Ana yang polos tanpa kerudung yang biasa dikenakannya.
Membuat Ana bergidik geli, ia tak pernah di perlakukan seperti ini, selain pada malam itu. Malam saat ia dan Marcus menyatu.
"Mas, sudah subuh. Mas sebaiknya bangun."
"Heummm... ." Laki-laki itu hanya menggeram tanpa berniat membuka matanya atau bahkan melepaskan rengkuhannya.
Di tengah debaran hebat itu, Ana menghela nafas dalam.
"Mas, sholat subuh dulu." Perempuan itu sedikit mengguncang lengan kekar itu dengan guncangan kecil.
Terusik. Perlahan Marcus mengerjap. Manik matanya menatap pada sosok di atasnya. Dahinya mengernyit saat manik mata itu bersitatap dengan manik indah itu.
"Mas bisa lepasin Ana?"
"Apanya?" Setengah sadar Marcus menimpali.
"Tangan mas."
Marcus menurunkan pandangannya, menatap pada tangan kekarnya yang kini melingkar erat di tubuh itu. Membuat laki-laki itu sontak melepaskan rengkuhannya.
"Ouh, emmm... maaf."
Ana segera menegakkan tubuhnya. Tangannya bergerak kasar membenarkan helai rambutnya yang berantakan. Ana tengah salah tingkah.
"Eummm. Sudah subuh, mas. Kita sekalian sholat berjamaah." Bahkan perempuan itu tak sedikitpun menatap ke arah Marcus yang terlihat kebingungan.
"I-iya. Kamu duluan saja. Aku akan menyusul."
Ana segera melarikan diri masuk ke dalam kamar mandi. Sedang Marcus kini mengacak wajah frustasi. Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa tiba-tiba ia memeluk Ana bahkan di dalam tidurnya.
Laki-laki itu menjambak rambutnya frustasi. Pagi-pagi di suguhkan tampilan Ana yang tak lagi mengenakan hijabnya, siapa yang tak akan terg*da. Apalagi dengan wajah cantiknya.
Sial.
Marcus bahkan tak dapat berbuat banyak di saat-saat seperti ini. Padahal ia sendiri adalah pengantin baru yang baru saja selesai ijab kabul hari kemarin.
Setengah malas Marcus kemudian beranjak saat Ana telah selesai dengan urusannya di kamar mandi. Laki-laki itu bukan tipikal laki-laki yang taat akan ibadah. Marcus bahkan sering meninggalkan sholatnya dengan ribuan alasan. Entah karena lelah bekerja atau bahkan kantuk yang masih mendera seperti sekarang. Malas pun dapat ia jadikan sebagai alasan untuk meninggalkan kewajibannya.
Untuk pertama kalinya, mereka akhirnya menjalankan ibadan sholat bersama sebagai pasangan suami istri yang telah sah dimata hukum dan agama.
Seusai ritual sembahyang itu terlaksana, Ana mengulurkan tangannya, menyaut tangan itu kemudian menciumnya penuh khidmat.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕