
°°°~Happy Reading~°°°
Malam kian merangkak naik. Para tamu undangan satu persatu telah meninggalkan kediaman mewah itu untuk kembali ke kediamannya masing-masing.
Di ruang tengah itu, keluarga kecil itu tengah menghabiskan waktu bersama. Maurin tak henti menggelayut manja di pangkuan Marcus yang sedikitpun tak merasa terusik. Sedang Mallfin, bocah laki-laki itu terlihat duduk di apit oleh kedua orangtuanya dengan sebuah buku ditangannya. Buku yang ia ambil dari salah satu lemari baca sang daddy.
"Pishi na beushall sheukalli ya daddy. Butak na ipin jadi tambah beushall, hihihi... ."
Gadis kecil itu cekikikan sendiri kala menatap pada layar datar didepannya yang tengah menampilkan serial kartun kesukaannya, Upin Ipin.
Marcus yang setengah tak paham dengan celotehan sang putri, hanya menyahut. "Kamu menyukainya?"
"Ya, Mollin shuka banak-banak, Daddy. Dulu Mollin puna pishi keucill. Tapi llushak, eundak bisha teullang lagi, Mollin jadi sheudih. Mollin eundak bisha lihat ipin-ipin lagi. Kallau mau lihat ipin-ipin, hallush lumah na teuman. Tapi mommy teuman na Mollin eundak baik, jadi Apin eundak bolleh Mollin shana lagi." Jemari kecil itu bergerak memainkan kancing kemeja sang daddy dengan wajah murung.
Marcus menatap iba sang putri. Sungguh, tak pernah terlintas dalam pikirannya jika kehidupan mereka akan serumit ini. Hal sederhana yang mungkin ia anggap remeh sekalipun, pada kenyataannya menjadi hal terindah bagi sang putri.
Ana. Laki-laki itu menatap perempuan itu dengan hati berkecamuk. Cerita hidup Ana tak sesederhana yang ia bayangkan. Perjuangannya tak semudah yang ia perkirakan. Bagaimana perempuan itu begitu tangguh menghidupi kedua anaknya hanya dengan gaji di bawah rata-rata. Sedangkan dirinya, ia bahkan terkesan menghamburkan kekayaannya disaat perempuan itu bahkan diliputi oleh kekurangan.
"Sayang, sudah malam. Kalian harus tidur." Di tengah kekalutan itu, Ana menyela. Membuat Marcus menarik pandangannya.
"Tapi Mollin bullum mau bobok, Mommy."
"Kita tinggalkan Maurin saja, myh. Mallfin sudah sangat mengantuk. Mallfin tidak ingin terlambat bangun gara-gara Maurin." Sela Mallfin. Tangan kecilnya bergerak menutup buku tebal yang ada di pangkuannya. Buku bisnis milik David itu bahkan tak bergambar, hanya dipenuhi tulisan-tulisan dari awal sampai akhir halaman. Ana sampai geleng-geleng kepala saat putra kecilnya itu memaksa untuk membacanya.
"Iya sayang. Sudah malam. Nanti Maurin akan bangun terlambat."
"Kita bobok na beullempat?"
Pertanyaan itu sukses membuat Ana termangu. Refleks perempuan itu menatap pada Marcus yang kini juga tengah menatap ke arahnya. "Maurin coba tanya daddy." Seru Ana melempar jawabannya. Membuat Marcus memicing, kemudian menyunggingkan senyum samar. Sangat samar hingga Ana tak menyadarinya.
"Daddy, kita bobok na beullempat?"
Senyum itu menyungging lebar. Diusapnya helai rambut sang putri. "Baiklah. Apapun untukmu, Girl."
"Kashull na daddy bisha bobok beullempat? Nanti eundak shumpit-shumpit?" Seru Maurin ragu. Ranjang barunya saja mungkin hanya muat bertiga.
"Ya, tentu saja, Girl."
"Yippi yippi. Bobok shama daddy shama mommy, hihihi... Ashik ashik ashik... ."
Marcus kemudian melempar pandangannya pada Ana. "Tidak apa-apa kan kalau kita tidur bersama anak-anak?"
Ana mengernyit bingung. Memangnya kenapa jika mereka tidur bersama anak-anak?
Membuat Ana seketika itu mendelik. Kenapa laki-laki itu bisa berpikiran seperti itu? Kenapa juga suaminya itu sampai berasumsi jika ia akan keberatan jika harus tidur bersama anak-anak hanya karena malam ini adalah malam pengantin mereka.
Ana dibuat tak habis pikir.
"Kenapa? Apa kamu keberatan?" Cecar Marcus.
Membuat rona merah itu semakin menyeruak.
"Tidak apa-apa. Sebaiknya kita tidur sekarang."
"Ayo, Sayang." Perempuan itu segera menyaut tangan sang putra. Melarikan diri jauh lebih baik dari pada menghadapi laki-laki itu.
Apa kepalanya tak sengaja terbentur meja hingga kini mengalami amnesia? Kenapa laki-laki garang itu berubah seperti ini hanya dalam waktu sekejap?
Ahhh... Sudahlah Ana.
Jangan berpikir yang tidak-tidak.
Perempuan itu terus menggumam dalam setiap langkahnya.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Minal Aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir batin ya semuanya
Maaf kalo othor banyak salah sama kalian, kalo othor sering buat kalian kaya jemuran, ihihihi....
Shudah kaka otholl, dangan lamma-lamma, gantian Mollin tantik
Hallo tingu-tingu. Ini Mollin. Mollin mau utapin minal idjin, lahil batin shemua na ya. Ihihihi. Maafin Mollin kalluna Mollin tomell udah lamma eundak shapa-shapa tingu shemua na. Otholl na dahat, kantongin Mollin lamma-lamma. Eundak bagi-bagi shama tingu shemua. Tingu dangan maafin otholl ya...
MAURIN... .
Hihihi, kaboooll. otholl na ngamok, ahahaha... .
Awas ya... .
Happy reading semua
Saranghaja 💕💕💕