
°°°~Happy Reading~°°°
Marcus memilih tetap tinggal, sedang mama Elena dan tuan Regar memilih kembali ke kediaman karena ada urusan yang tak dapat di tinggal.
Ana yang harus mengurus sang putra kini terpaksa meninggalkan gadis kecilnya bersama Marcus yang notabenenya adalah ayah kandung dari kedua buah hatinya. Mendapatkan kesempatan itu, tentu Marcus tak akan menyia-nyiakannya, laki-laki itu terlihat begitu menikmati waktu berharganya bersama putri kecilnya.
"Kamu terlihat senang sekali," tutur Marcus saat mengingat sang putri yang merengek tak ingin di tinggal. Padahal ia sudah berencana untuk tetap disini sampai malam tiba.
"Ya, kalluna uncle mau teumani Mollin shini. Mollin sheunang sheukalli. Apin mashih tatit. Jadi eundak bisha main shama Mollin," timpal Maurin dengan polosnya.
"Kamu tidak keluar, tidak bermain dengan temanmu?"
Maurin menggeleng dengan wajah yang menekuk sedih. "Eundak uncle. Teuman-teuman nakall sheukalli shama Mollin. Melleka shuka ejek Mollin eundak puna daddy. Melleka shuka sheukalli buat Mollin meunangish, jadi Apin shuka lallang Mollin main shama teuman-teuman. Kallau Mollin meunangish nanti mommy jadi beullshedih. Mollin eundak mau mommy beullshedih."
Marcus tercekat. Tak mengerti jika kehidupan kedua buah hatinya akan sesulit ini. Akan se-menderita ini.
Jika bisa, ia akan langsung membawa mereka ke kediamannya. Memberikan mereka segalanya. Mengganti semua kesulitan yang dulu pernah mereka alami dengan kemewahan yang tak ada habisnya.
Namun, Mallfin. Putranya bahkan masih membencinya. Ia bahkan belum bisa mengambil hati putranya dengan segala pendekatan yang ia usahakan.
Sesulit inikah mengambil hati anak-anak?
Marcus menghela nafas dalam.
Ia tak pernah dekat dengan anak-anak. Ia bahkan cenderung memusuhi mereka karena berisik dan suka membuat ulah. Seperti Arshi. Gadis kecil itu sangat menyebalkan. Ia berisik dan suka membuat ulah. Cerewet dan ingin tau urusan orang lain.
"Mana teman-teman mu itu, biar aku yang memarahi mereka," seru Marcus tersulut emosi.
"Melleka shuka main di taman beulmain, uncle. Tapi uncle eundak bolleh shana, nanti Bobby lapoll shama daddy na, shulluh daddy na tembak uncle. Daddy na Bobby shuka tembak ollang-ollang. Menyellamkan sheukalli."
"Tidak apa-apa. Nanti uncle akan lawan mereka." Emosinya tiba-tiba meluap. Awas saja kalau anak-anak itu berani menyakiti putrinya lagi, habis mereka di tangannya.
"Uncle shius? Uncle beullani shama daddy na Bobby?"
"Ya. Untuk apa takut dengan mereka."
Membuat gadis kecil itu sontak bangkit dari duduknya. "Oke uncle. Ayo kita lawan Bobby shama daddy na Bobby. Biall melleka kapok, eundak beullani ganggu Mollin lagi."
Keduanya kemudian meninggalkan rumah itu dengan semangat membara. Sang supir yang tengah menikmati kopi hitam buatan Ana sontak terperanjat dari duduknya saat mendapati laki-laki itu keluar dari rumah dengan Maurin di gendongannya.
"Anda akan kembali sekarang tuan?"
"Tidak. Aku akan pergi balas dendam dulu." Membuat sang sopir sontak kebingungan, apalagi saat gadis kecil itu menimpali perkataan Marcus yang membingungkan.
"Ayo uncle. Kita sheullang melleka."
"Loh dimana mereka?" Ana yang baru saja keluar dari kamar sang putra sontak kebingungan saat mainan-mainan itu berserakan tanpa sosok yang memainkannya. Perempuan itu lantas keluar dari kediamannya.
"Pak... Bapak melihat tuan Marcus dan putri saya? Kok mereka tidak ada di dalam?"
Supir itu garuk-garuk kepala. "Eummm... Katanya keluar sebentar, Non. Saya juga tidak tau tuan Marcus sama non Maurin kemana."
"Ya sudah terimakasih, pak."
"Itu uncle. Melleka shana." Tunjuk Maurin pada segerombol anak-anak yang tengah asik memainkan permainannya. Hari weekend kala itu memang sangat ramai oleh anak-anak meski terik mulai membumbung.
"Baiklah. Kita serang mereka." Marcus menatap sang putri yang juga tengah menatap ke arahnya, keduanya kompak mengangguk seolah tak sabar menumpahkan darah di medan peperangan.
"Bobby Bubu Bebbo!!!" Teriak Maurin akhirnya mengeluarkan cemoohannya pada sosok yang sangat dibencinya itu.
Membuat sosok itu sontak menoleh. Bobby kemudian tersenyum remeh. "Heh, bocah pembawa sial. Kau disini? Masih tidak kapok juga? Apa kembaranmu yang sangat nakal itu sekarang sudah mati?"
"Bobby dahat nanti Mollin lapoll shama uncle pollishi biall Bobby di hukum."
"Tidak akan. Daddy ku kan polisi, mereka tidak akan berani. Justru kamu yang nanti akan di hukum."
Membuat gadis kecil itu sontak mengernyit takut. "Uncle, shepeulti na kita shudah kallah," bisik Maurin dengan wajah masam menahan ketakutan.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Maaf ya kemarin tidak update beberapa hari
Maaf karena mengecewakan kalian yang sudah setia menunggu author sampe jamuran, ehehehe
Insyaallah othor akan berusaha lebih baik lagi untuk kedepannya
Makasih buat kalian yang sudah memberikan kritik dan saran, karena tanpa kalian apalah othor ini
Happy reading semua
Saranghaja 💕💕💕