Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Tidak Bisa Mengenali


°°°~Happy Reading~°°°


Tanpa terasa liburan singkat itu telah menemui titik akhirnya, satu persatu keluarga kecil itu kembali ke kediaman masing-masing dengan cerita yang berbeda. Tak terkecuali keluarga Marcus. Laki-laki yang biasanya terlihat berwibawa itu kini tampak mengerucutkan bibirnya kala makanan yang dimintanya tak kunjung datang.


"Mas, jangan ngambek gitu dong. Nanti gantengnya hilang gimana?" Perempuan itu berusaha membujuk suaminya yang kini sudah manyun layaknya si kecil Maurin yang tengah merajuk.


"Mau mangga sayang..." Rengek Marcus, membuat Ana menghela nafas dalam. Ini bukan musim mangga, jadi agak susah mencari buah yang selalu jadi idaman orang hamil itu.


"Iya mas, ini kan lagi dicariin. Mas sabar sebentar ya?"


"Lama sayang... Udah setengah jam ini mas nungguin tapi nggak dateng-dateng. Mas ini sampe jadi keriput tau ngga..." Cebiknya kesal.


"Nggak apa-apa... Mas tetep ganteng kok. Sabar sebentar lagi ya..." Bujuk Ana mulai melancarkan rayuan gombalnya. Jika tidak seperti ini, bisa-bisa suaminya itu mengamuk pada semua orang yang ada di mansion.


"Assalamualaikum, yuhuuu... Any body home?"


Terdengar pekikan menggema dari sosok mama Elena, membuat si kecil Maurin yang baru saja keluar dari pintu lift bersama dengan si kecil Mallfin dan seorang pelayan yang menjaganya sontak memekik girang.


"Glanny glanny... Glanny kamming?" Tanpa babibu, gadis kecil itu sontak berlari dan merengkuh sang granny yang sudah beberapa hari ini tak dapat dijumpainya.


"Oh cucu kesayangan granny. Apa liburannya menyenangkan?"


"Yesh glanny. Mollin banak-banak main shana shama Molla shama Ashi. Shullu sheukalli glanny. Mollin shuka Mollin shuka. Nanti libull shekull nanti mau shana lagi, hihihi... ."


"Baiklah baiklah. Nanti kesana lagi kalau Maurin liburan ya."


Membuat gadis kecil itu sontak memekik girang. "Yeayyy... ashik ashik ashik... libullan egin, Mollin shuka libullan. Hihihi... ."


"Dia kenapa An, cemberut gitu mukanya." Seru mama Elena saat mendapati sang putra yang hanya menekuk mulutnya saja sejak tadi. Padahal biasanya laki-laki itu cerewet sekali melarang dirinya ini itu pada Ana juga putrinya.


"Daddy mulladuk glanny, pengen mamam mangga kata na, tapi mangga calli-calli eundak ada. Daddy jadi engli-engli shepeulti matcan, loalllrrr... ." Raung Maurin dengan mulut pelatnya.


"Buat di makan lah ma. Masa buat main bola." Seru Marcus sensi. Membuat Ana seketika itu mencubit lengan kekar itu. Tidak sopan. "Mas... ."


"Sakit, sayang..." Keluh Marcus mengusap-usap lengan tangannya. Padahal sebelum istrinya hamil saja ia tak pernah mengeluh meski sesakit apapun, sekarang jadi tambah alay hanya karena cubitan lembut perempuan itu.


"Kamu beneran Marc kan? Kok jadi lebay banget sekarang? Kena setan di Singapura kamu?"


Membuat laki-laki itu sontak berdecak. "Emang mama udah ngga bisa ngenalin anak mama sendiri?"


"Ya kamu berubah alay begini gimana bisa mama kenalin kamu." Rutuk mama Elena.


Tak lama bawahan Marcus terlihat memasuki ruangan itu dengan satu kantong plastik ditangannya. Membuat Marcus sontak berjingkat. "Ada? Udah ketemu?" Seru Marcus antusias.


"Iya tuan. Ini pesanan anda." Laki-laki itu bergerak meletakkan buah asam itu ke atas meja, membuat Marcus bergerak cepat meraihnya.


"Tolong kupaskan sekarang, sayang." Pinta Marcus. Di depan meja itu bahkan sudah tersedia cobek beserta alat tempur lainnya.


"Omong-omong, kamu mendapatkannya dari mana?" Seru Ana ingin tau.


Laki-laki berbadan kekar itu garuk-garuk kepala. "I-itu, kami mengambilnya dari rumah komplek depan nyonya."


Membuat Ana sontak saja mendelik dibuatnya. "Kalian mencurinya?!"


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading semua


Saranghaja 💕💕💕