Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Daddy Sangat Payah


°°°~Happy Reading~°°°


"Ouhhh, come on Marcell." Pekik Marcus frustasi kala bocah laki-laki itu tak berhenti merangkak dengan tubuh penuh selai coklat. Salah si kecil Maurin yang menaruh asal selai coklat di atas karpet dengan tutup yang tidak tertutup rapat. Membuat si kecil Marcell menemukannya dan bermain-main dengan selai itu hingga sekujur tubuhnya kini kotor akan selai coklat. Dan jangan lupakan dengan wajah cemong nya.


"Ahhahaha... ."


Astaga. Bisa-bisanya bayi itu tertawa lepas di tengah rasa frustasinya.


"Daddy sangat payah." Seru Mallfin mengomentari. Hanya menjaga bayi itu beberapa saat saja, Marcell sudah jadi badut seperti ini. Benar-benar, Marcus tidak dapat diandalkan.


"Bukan daddy yang payah. Adikmu saja yang sulit di atur, boy." Decak Marcus frustasi. Bagaimana caranya menyelesaikan kekacauan ini. Melihat wajah sang putra yang sudah tidak berbentuk lagi, rasanya Marcus ingin menghilang saja. Bagaimana jika istrinya itu mendadak pulang dan mendapati putranya itu telah cemong separah ini. Bisa-bisa ia nanti dapat pinalti. Masa depannya bisa terancam kalau begini.


"Salah daddy kenapa meminta Marcell di rumah saja tidak ikut bersama mommy dan granny. Seperti daddy bisa mengurusnya saja." Gerutu Mallfin. Bocah laki-laki itu tak ubahnya seperti Marcus, sang daddy. Hanya bisa mengolok dan mencaci maki. Dan Marcus pun sadar diri hingga tak dapat memarahi.


"Awas saja kalian." Gerutu Marcus dalam hati.


Jika bukan karena tantangan dari kedua teman laknat itu, ia pun tak akan terjebak dalam masalah ini.


Ternyata mengasuh bayi tak semudah yang ia bayangkan selama ini. Pikirnya ia akan bisa bekerja sembari menemani Marcell yang tertidur lelap setelah asik bermain sendiri. Namun nyatanya, dugaannya salah. Ia bahkan tak bisa melepaskan bayi itu sedetik saja dari pandangannya.


Terbukti, meninggalkannya beberapa menit untuk membuang air kecil, bocah laki-laki itu sudah jadi badut seperti ini. Jangan tanyakan pelayan, semua pelayan ia liburkan sesuai dengan tantangan dari duo laknat itu.


Ahhhh. Sial.


"Daddy harus segera memandikannya atau mommy akan marah nanti." Peringat Mallfin memberi solusi.


"Baiklah. Kamu bantu Daddy, boy." Baiklah. Mari berdamai sebentar. Soal hukuman untuk Marvell dan David, ia bisa pikirkan nanti. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana caranya membuat bayi itu kembali bersih sebelum sang istri pulang nanti.


"Dadadadadada..." Pekik Marcell antusias saat tubuhnya yang berisi itu diangkat oleh sang daddy.


"Bisa-bisanya kamu tertawa setelah membuat daddy frustasi seperti ini, boy?" Gerutu Marcus menatap sang putra tak habis pikir. Membuat bayi laki-laki itu semakin memekik girang. Merasa sang daddy menyukai aksinya kali ini. "Ahhhha... ."


Oh, Astaga. Marcus benar-benar harus memiliki stok sabar yang banyak untuk menghadapi putranya yang satu ini.


Sesampainya di kamar mandi, laki-laki itu terlihat kebingungan menatap seisi kamar mandi. Tak tau apa yang harus ia lakukan, padahal sesekali ia ikut nimbrung memandikan sang bayi bersama sang istri.


Oh Astaga. Mengapa otaknya mendadak lemot di situasi mendebarkan seperti ini.


"Dudukkan saja di situ, dad." Seru Mallfin menunjuk pada sebuah tempat yang biasa digunakan untuk memandikan bayi.


Marcus menurut. Laki-laki itupun meletakkan si kecil Marcell di tempat mandinya. Sejenak hatinya menjadi tenang karena si kecil Mallfin seperti dapat diandalkan, sebelum akhirnya pekikan itu membuat jantungnya kembali berdebar.


"Daddy, Apin... ."


Shhhht.


Rasanya Marcus ingin mengumpat. Mengapa mereka tiba secepat ini. Bukankah mereka akan berbelanja dan pergi ke salon setelahnya.


"Sepertinya daddy tidak akan selamat."


Oh sial. Rasanya Marcus ingin memaki. Bisa-bisanya anak laki-lakinya itu hanya bisa mengolok dirinya tanpa memberikan solusi.


"Woahhhh. Ketemu."


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Apa kabar kalian kesayangan othor, hehehe


Woahhh, baby Marcell udah gede aja ye😅


Happy reading semua


Saranghaja 💕💕💕