
°°°~Happy Reading~°°°
"Sudah malam. Anak-anak pasti sudah mengantuk. Kita pulang atau menginap disini, mas?"
"Eummm, aku coba ajak anak-anak pulang dulu." Laki-laki itu pun segera beranjak, mendekat pada sang putri yang masih saja asik bermain.
"Girl, ayo kita pulang."
Bukannya menjawab, gadis kecil itu malah mengernyit. "Tadi kan Mollin dah shuppik-shuppik kallau mau bobok lumah glanny, daddy." Seru Maurin geram sendiri karena sang daddy seolah-olah melupakan permintaannya.
Oke. Fix. Sepertinya gadis kecil itu masih tetap keukeh dengan permintaan absurd nya.
"Sudah malam, Marc. Lebih baik kalian tidur disini saja." Seru mama Elena. Membuat gadis kecil itu sontak menggeleng tak terima.
"No no glanny. Daddy shama mommy hallush pullang. Eundak bolleh bobok shini. Daddy shama mommy hush hush shanna. Eundak bolleh bobok shini. Daddy dah plomish. Daddy hush hush shanna!!!"
Dengan tenaganya yang tak seberapa, gadis kecil itu terus mendorong tubuh jangkung Marcus agar laki-laki itu segera angkat kaki dari sini dan segera membuatkan dia adik bayi. Tekatnya sudah bulat. Pokoknya ia harus mendapatkan adik sesegera mungkin.
"Sayang, tidak boleh begitu." Ana yang melihat sang putri terus mendorong tubuh Marcus akhirnya menegur. Tidak sopan. Sang putri terlalu lancang. Membuat gadis kecil itu sontak saja menangis histeris.
"Hwa... Mommy mallahin Mollin... ."
Nyaring suara tangisan itu menggema. Membuat Marcus seketika itu membawa sang putri ke dalam gendongannya. Menepuk lembut bahu kecil itu, menenangkannya agar segera menghentikan tangisannya.
Ana menghela nafas dalam. Sepertinya sang putri tengah merajuk kali ini. Membuat ia mau tak mau harus segera membujuk gadis kecil itu. "Sini, gendong mommy?"
Gadis kecil itu mengangguk kecil. Membuat Ana kemudian bergerak mengambil alih sang putri dalam gendongannya.
"Maafkan mommy, sayang. Mommy tidak marah dengan Maurin. Apa Maurin memaafkan mommy?"
Maurin yang tengah merengkuh erat sang mommy hanya mengangguk kecil. Hihihi, sepertinya rencananya berhasil. Ternyata aktingnya tidak buruk-buruk juga. Hahaha... .
Kan... Kalau dia menangis pasti sang mommy akan menawarkan sesuatu. Hihihi... .
Dengan wajah pura-pura sedihnya, gadis kecil itu menatap pada wajah sang mommy. "Mommy shama Daddy pullang shaja. Mollin mau shini shama Apin aja. Eundak mau shama mommy shama Daddy, sruk... ."
Untuk ingus itu, Maurin tidak sedang berakting. Nyatanya cairan bening itu memang luruh bersamaan dengan tangis pura-puranya.
Ana menghela nafas dalam.
"Baiklah. Tapi Maurin tidak boleh nakal, tidak boleh merepotkan granny dan grandpa, heummm... ."
Gadis kecil itu mengganggu mantap. "Iya mommy, Mollin plomish eundak nakall-nakall nanti."
Dengan terpaksa, Ana bersama Marcus kini akhirnya kembali ke kediaman tanpa kedua anaknya. Perjalanan yang biasanya riuh akan celotehan sang putri kini terasa berbeda, hanya deru mesin mobil yang mendengung halus ditelinga.
Hingga keheningan itu terbawa sampai di kediaman. Ana yang hafal jika sang suami terbiasa mandi setelah keluar rumah pun segera menyiapkan air hangat untuk suaminya.
"Mas, airnya sudah siap." Seru Ana. Membuat Marcus kemudian mengangguk dan berlalu tanpa sepatah kata.
Dalam kebingungan itu Ana hanya bisa bertanya-tanya dalam benaknya. Ada apa sebenarnya. Kenapa sang suami seperti berbeda hari ini. Apa ada yang tengah disembunyikannya.
Ahhh, tidak tidak. Mungkin ini hanya perasaannya saja.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕