
°°°~Happy Reading~°°°
"Mallfin di rumah saja bersama mommy, Daddy." Celetuk Mallfin, tak ingin sang mommy kesepian sendiri di rumah sebesar ini.
"Mallfin tidak ingin ikut daddy?" Tawar Marcus. Tidak mungkin ia membawa salah satu anaknya, kemudian meninggalkan yang lainnya. Akan sangat tidak adil nantinya.
Bocah laki-laki itu menggeleng yakin. "Tidak, daddy. Mallfin di rumah saja." Tangan kecil itu menggenggam jemari sang mommy, yakin akan keputusannya.
"Tidak apa-apa sayang. Ikutlah bersama daddy. Mommy akan menunggu di rumah. Nikmati waktu kalian bersama daddy." Seru Ana. Ia tau, Mallfin hanya tak tega meninggalkannya sendiri disini. Lebih jauh lagi, bocah laki-laki itu bahkan tak ingin sang mommy sampai merasa tersisih karena kedua anaknya lebih dekat dengan sang daddy. Setidaknya, jika Maurin lebih menempel dengan Marcus, Mallfin lah yang ada di samping sang mommy.
Bocah laki-laki itu mulai dilanda keraguan. Jujur saja, ia pun ingin melihat tempat kerja sang daddy. "Nanti mommy kesepian di rumah."
"Tidak, siapa bilang mommy akan kesepian. Di rumah kan ada banyak orang, nanti mommy akan menghabiskan waktu dengan mereka."
"Mommy-- serius?" Tanya Mallfin memastikan.
"Ya, tentu saja. Sekarang Mallfin ikut saja dengan Daddy dan Maurin. Nikmati waktu kalian, sayang."
"Terimakasih, mommy." Bocah laki-laki itu kemudian menghambur ke dalam rengkuhan sang mommy.
Seusai sarapan pagi. Ketiganya kemudian pamit untuk bertolak ke perusahaan. Ana terlihat mengantar ketiganya sampai di teras rumah. Perempuan itu kemudian mencium tangan sang suami penuh takdzim.
"Semoga semua urusan mas dilancarkan."
"Aamiin. Terimakasih."
"Mommy, Mollin peullgi bekeullja dullu ya. Mommy hati-hati lumah. Dangan lindu Mollin. Mollin tomell nanti pullang teupat-teupat. Hihihi..." Pamit Maurin mencium tangan sang mommy.
Ana menyunggingkan senyumnya, putrinya itu memang ada-ada saja. Sangat menggemaskan.
"Baiklah sayang, kalian hati-hati. Tidak boleh nakal, tidak boleh mengganggu pekerjaan daddy. Kalian mengerti?"
"Siap mommy." Seru sepasang kembaran itu serempak.
"Kami pamit, mommy. Mommy hati-hati." Seru Mallfin mencium tangan sang mommy sebelum akhirnya melenggang masuk ke dalam mobil.
Mobil mewah itu perlahan menghentikan lajunya tepat di pelataran gedung pencakar langit itu. Maurin yang baru melihat bagaimana kokohnya bangunan 30 lantai itu, sontak memekik takjub.
"Uwahhh, ini tumpat kullja na daddy?" Tanya Maurin dengan wajah berbinar. Manik matanya tak henti menatap takjub pada bangunan itu. Wajahnya bahkan kini menempel erat di kaca mobil demi bisa mengintip megahnya bangunan 30 lantai itu.
Marcus bergerak menuruni badan mobil, kemudian berbalik membantu kedua buah hatinya untuk turut melepaskan diri dari badan mobil.
"Daddy, beushall sheukalli." Decak si kecil Maurin mendongak menatap bangunan itu penuh kekaguman. Sedang si kecil Mallfin, bocah laki-laki itu hanya menatap dingin pada bangunan di depannya.
"Kamu menyukainya?"
Angguk Maurin. "Huum. Shuka banak-banak. Mollin mau shini halli-halli." Dengar, gadis kecil itu malah merajuk ingin kesini setiap hari.
"Baiklah. Kita masuk sekarang."
Kedua tangan itu menggandeng tangan mungil kedua buah hatinya, melangkah memasuki perusahaan dengan wajah dingin yang biasa ia tampilkan. Marcus terlihat semakin mempesona dengan sepasang kembaran di sisinya.
Pemandangan itu sontak berhasil mengambil alih seluruh perhatian. Bagaimana laki-laki berwajah dingin itu terlihat begitu hangat ketika menggandeng dua anak kecil di sisinya.
Dan, siapa itu. Bocah laki-laki yang kini berjalan di sisi Marcus dengan wajah dinginnya. Meski dengan tampang dingin sekalipun, bocah laki-laki itu berhasil menyedot perhatian.
Tapi, tunggu. Bukankah wajah itu terlihat tidak asing.
"Tidakkah kamu merasa anak laki-laki itu memilih kemiripan dengan tuan Marcus?"
"Aku juga berpikir seperti itu. Tapi, bagaimana bisa?"
"Jangan-jangan mereka-- anak tuan Marcus?"
Ahhh, rasanya tidak mungkin. Bagaimana laki-laki dingin itu memiliki anak jika laki-laki itu saja tak pernah dekat dengan perempuan manapun. Bahkan para model juga artis papan atas yang berusaha mendekatinya saja kerap menelan kekecewaan karena penolakan Marcus yang terkesan sarkas tanpa perasaan.
Dan pagi itu, lobi perusahaan besar itu pun riuh akan bisik-bisik mengenai sosok dua anak kecil yang kini berhasil mengambil alih seluruh perhatian. Juga Marcus yang kini terlihat begitu hangat dengan menggandeng sosok kecil di sisinya. Persepsi akan laki-laki arogan tanpa perasaan kini seketika melebur, Marcus tak sedingin biasanya.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕