Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Ketika Maurin Tidak Berulah


°°°~Happy Reading~°°°


Akhir pekan itu. Sesuai dengan janji Marcus, mereka akan berlibur ke sebuah taman bermain.


Pagi-pagi sekali, gadis kecil itu sudah terbangun dari tidurnya. Antusiasme yang tinggi membuat gadis kecil itu tak ingin terlambat. Membuatnya tak segan membangunkan sang daddy dan kembarannya yang masih asik terlelap.


"Daddy! Banun banun!! Ayo teupat banun!! Mau peullgi beullibull!!!"


"Teng teng teng!!!"


"Apin, teupat banun Apin. Shudah shiang. Kallau eundak mau banun nanti Apin tinggal lumah sheundilli!!!"


Berkali-kali gadis kecil itu mengguncang kedua tubuh itu, namun hasilnya nihil. Keduanya masih asik terlelap seolah tak sedikitpun merasa terusik dengan pekikan keras seorang Maurin.


Hingga pintu kamar itu terbuka, menampilkan sosok Ana yang baru saja selesai menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga kecilnya. Meski ada chef kepercayaan Marcus disana, namun perempuan itu tak ingin melupakan kewajibannya.


"Mommy! Daddy shama Apin eundak mau banun-banun itu. Kita shillam shaja pakai aill biall teupat banun. Nanti teullambat. Kalau kubullu tutup, nanti eundak bisha mashuk." Rutuk Maurin.


"Nanti mommy saja yang bangunkan. Sekarang Maurin mandi dulu ya..." Bujuk Ana.


Tanpa penolakan seperti biasanya, gadis kecil itu segera melenggang masuk ke dalam kamar mandi. Disana Ana sudah menyiapkan semua keperluan mandinya juga air hangat di dalam bath up.


Selesai urusan dengan sang putri, Ana kini beralih pada suami juga putranya. Ia harus cepat membangunkan dua laki-laki yang masih terlelap nyenyak dalam tidurnya sebelum akhirnya menyusul sang putri di kamar mandi. Tentu Ana tak akan membiarkan sang putri berada di kamar mandi seorang diri. Bisa-bisa gadis kecil itu tak keluar-keluar dari dalam sana karena terlalu asik bermain air.


"Mas, bangun... ."


"Mas... ."


"Mas Marcus."


Berkali-kali panggilan juga guncangan kecil itu ia layangkan, namun laki-laki itu tak kunjung membuka matanya. Hanya menggeram sebentar, kemudian kembali terlelap. Membuat perempuan itu akhirnya beralih pada sang putra. Setelah guncangan ketiga, bocah laki-laki itu akhirnya mengerjap.


"Iya, mommy." Angguk Mallfin. Dengan malas bocah laki-laki itu akhirnya beranjak.


Mallfin sudah beres. Tinggal Marcus yang sedikit sulit untuk dibangunkan.


Berkali-kali panggilan itu ia suarakan, juga guncangan kini mulai ia layangkan di lengan kekar itu, membuat sang empu akhirnya mulai mengerjap perlahan.


"Ini akhir pekan Ana, biarkan aku tidur sebentar lagi." Seru Marcus dengan suara serak khas bangun tidur. Ahhh, suaranya terdengar begitu se*xy di telinga.


"Semalam mas sudah janji mau ajak anak-anak ke taman bermain. Mas lupa?"


"Ahhhh iya. Aku melupakannya." Memaksa Marcus beranjak dari tidurnya. Dengan muka bantalnya laki-laki itu menatap pada Ana yang duduk didepannya. "Anak-anak dimana, sudah siap?"


"Belum. Mereka sedang mandi."


Laki-laki itu tiba-tiba tertawa. "Sepi sekali rumah ini kalau Maurin tidak berulah."


Baru saja mulut itu terkatup, suara pekikan itu kembali menggema. "Hwaaaa... Apin. Apin shana. Mommy mommy... Apin nakallll... ."


Membuat kedua manusia yang saling berhadapan itu dibuat tercengang. Sedetik kemudian tawa menggema, Marcus dan Ana, mereka tertawa bersama. Saling menertawakan diri yang mengira akan mendapatkan ketenangan dari sosok Maurin si pembuat onar.


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading


Saranghaja 💕💕💕