
°°°~Happy Reading~°°°
"Mallfin mau pulang ke rumah saja, myh." Sahut Mallfin tiba-tiba. Membuat Ana yakin, sedikit banyak bocah laki-laki itu mendengar percakapannya dengan mama Elena. Padahal jelas-jelas tadi Mallfin masih terlelap nyenyak di atas ranjangnya.
Mendapati kebisuan sang mommy, bocah laki-laki itu kembali membuka suara. "Mallfin ingin tinggal di rumah saja, myh. Kita pulang ke rumah saja ya... ."
Ana menghela nafas dalam.
"Sayang, nenek Elena tadi menawarkan untuk tinggal bersama di rumahnya. Mallfin tidak ingin tinggal disana? Disana Mallfin akan sangat senang."
Meski sebenarnya enggan, namun Ana tak berhak melarang sang putra untuk tinggal di rumah mama Elena. Bagaimanapun, mereka masihlah keluarga terdekat dari kedua buah hatinya. Mereka memiliki hak atas keduanya.
Mallfin menggeleng. "Tidak mau. Kita pulang saja, ya myh?"
"Heummm. Baiklah, Sayang." Ana mengangguk menyetujui. Jika sudah seperti ini, Mallfin akan tetap keukeh dengan pendiriannya. Terpaksa ia harus menolak permintaan mama Elena kali ini.
"Nyonya, maaf. Anda tadi mendengar sendiri, Mallfin ingin pulang ke rumah saja. Saya tidak ingin memaksanya."
Mama Elena menghembuskan nafas berat, kemudian mengangguk, setengah tak rela. "Baiklah, jika itu keputusanmu. Tapi biarkan kami mengantar."
Dua iringan mobil mewah itu mulai memasuki sebuah pemukiman di pinggir kota. Berjalan beriringan, membuat sekelompok warga yang tengah sibuk bergosip itu sontak menatapnya heran. Jarang-jarang ada mobil mewah melewati pemukiman ini. Apa ada pejabat yang ingin menyurvei lokasi itu? Mereka menerka dengan segala asumsinya. Hingga mobil itu akhirnya menghentikan lajunya tepat di depan rumah paling sederhana diantara yang lainnya.
Membuat semua orang sontak mengernyit bingung. Untuk apa mobil-mobil itu mendatangi rumah perempuan rendah*n itu. Perempuan yang jelas-jelas memiliki anak haram di luar pernikahan.
"Apa Ana kali ini telah menyinggung seseorang di dalam mobil itu?" terka sosok ibu-ibu berbadan tambun.
"Ya, sepertinya. Aku yakin sekali, pasti perempuan itu telah berbuat kesalahan yang sangat fatal."
"Aku harap dia dipenjara dan pergi dari kampung ini. Aku sangat muak dengannya. Dia selalu saja mengg*da laki-laki di sini."
"Kita lihat saja nanti."
Satu per satu sosok di dalam mobil itu mulai membebaskan diri dari kenyamanan mobil miliaran rupiah itu. Hingga terlihatlah sosok Ana dengan Mallfin di gendongannya. Sedang Maurin, gadis kecil itu terus saja menempel di gendongan Marcus.
Membuat semua orang terperanjat. Kenapa kesannya mereka sangat dekat. Kenapa pula gadis kecil yang suka membuat ulah itu bahkan di gendong oleh sosok tampan itu.
Menghiraukan tatapan-tatapan itu, Shilla mengajak serta Marcus juga kedua orang tuanya untuk masuk ke dalam rumahnya. Rumah sederhana itu terlihat bersih dari segala sampah dedaunan juga debu-debu yang menebal, sehari sebelum kepulangannya, Ana menyempatkan diri untuk pulang dan membersihkan rumah yang hampir sebulan ini ia tinggalkan.
"Maaf jika kediaman saya kurang nyaman untuk anda."
Sahut Ana sungkan saat mempersilahkan keluarga konglomerat itu untuk duduk di kursi kayunya.
"Tidak Ana, ini sangat nyaman." timpal mama Elena tanpa pikir panjang.
Apa selama ini mereka tinggal disini, dengan keadaan seperti ini?
Apa mereka tidak apa-apa?
Tiba-tiba hatinya merasa sesak. Di saat dirinya bergelimang harta dengan segala kemewahan yang tentu tak murah, anak-anaknya harus rela tinggal di rumah kumuh itu dengan menahan segala ketidaknyamanan.
Mengapa ini sangat tidak adil?
"Maaf, saya tinggal sebentar."
Ana undur diri, perempuan itu membawa serta sang putra ke sebuah ruangan kecil yang hanya ditutupi kain yang menjuntai. Direbahkan nya tubuh mungil itu di kasurnya dengan hati-hati.
"Mommy tinggal sebentar ya sayang." Izin Ana pada sang putra. Tidak mungkin ia membiarkan sang putra ikut mengobrol disana. Ia takut sang putra akan kelelahan dan membuat kesehatannya memburuk nantinya.
"Mommy tidak apa-apa?"
Membuat Ana sontak mengernyit bingung. "Ya, mommy tidak apa-apa. Mallfin menghawatirkan mommy?"
Angguk Mallfin. "Ya, mommy. Mallfin takut mereka akan mengganggu mommy."
"Tidak sayang. Mereka baik."
"Tapi laki-laki itu tidak baik. Mallfin takut dia jahat dengan mommy."
"Tidak sayang. Tidak apa-apa. Tidak ada yang jahat pada mommy. Mallfin tidak perlu khawatir.
"Heummm. Baiklah, mommy."
"Sekarang mommy tinggal Mallfin dulu tidak apa-apa?"
Angguk Mallfin. "Mommy hati-hati."
"Baiklah sayang."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕