
°°°~Happy Reading~°°°
"Mas janji tidak akan melewati batas kali ini."
Laki-laki itu kemudian meraup bibir istrinya, menciumnya, meluma*tnya hingga menciptakan deru nafas yang tak beraturan diantara keduanya.
"Cukup, mas." Kedua tangan itu mendorong dada bidang Marcus agar laki-laki itu segera menjauh dari wajahnya. Ana sangat sensitif saat ini. Ini tidak boleh dilanjutkan lagi.
"Kenapa, heummm..." Menempelkan keningnya di dahi Ana yang tersengal dengan nafasnya, membuat perempuan itu memejam. Tindakan Marcus barusan membuat Ana semakin tak karuan.
"Mas, cukup." Kedua tangan itu kembali mencoba mendorong dada bidang itu, namun laki-laki itu malah mencekal kedua tangannya dan menciuminya.
"Maaf mas, kita harus menghentikannya saat ini." Seru Ana mencoba berpikir rasional. Tidak mungkin mereka melakukannya disini.
"Harum, mas suka."
"Ana memakai sabun yang sama dengan mas." Lapor Ana, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Mas tahu. Tapi mas lebih suka harum ini ada di tubuhmu."
Cup... .
"Sedikit saja, biar mas merasakannya lebih banyak."
Marcus perlahan menyingkap hijab itu, laki-laki itu kemudian mencium leher jenjang Ana, membuat perempuan itu memejam kuat. "Mas... Cukup. Ana mohon." Rintih Ana tak kuat menahan semua goda*an yang suaminya berikan. Membuat laki-laki itu seketika tersenyum penuh smirk.
"Baiklah. Pemanasannya cukup sampai disini. Nanti malam kita akan masuk ke bagian intinya. Mas harap, kamu mempersiapkan diri."
Sesampainya di tempat tujuan, mereka serempak menuruni badan mobil. Anak-anak sudah terlihat sangat antusias kala mendapati jika SEA Aquarium menjadi destinasi pertamanya. Sedang Marcus dan David, kedua laki-laki itu tampak tak sependapat.
"Vell, kau gila? Istriku sedang hamil dan kau menyuruh kami jalan-jalan tidak jelas di tempat ini?" Sungut Marcus tak terima.
"Ya, istriku juga sedang hamil, tuan Marvell. Apa anda melupakannya juga?" Timpal David membenarkan ucapan Marcus.
"Kalian tidak menyewa kursi roda untuk istri kalian selama liburan disini?" Seru Marcus menatap kedua suami itu tak percaya.
"Ck. Dasar bodoh. Itu digunakan kalau istrimu nanti kelelahan, Marc. Ya sudah, nanti ku pesankan saja kursi roda untuk istri kalian. Sekarang kalian tunggu saja disini. Kami akan berkeliling sebentar. Lihat, anak-anak sudah tidak sabar masuk ke dalam sana."
"Awas saja kalau sampai kau tidak bisa menjaga anak-anak. Habis kau di tanganku." Ancam Marcus.
"Ck, memangnya aku pengasuhnya, huh..." Dengus Marvell tak terima.
"Daddy, cummon teupat-teupat. Daddy long-long sheukalli shuppik-shuppik na. Daddy telliwish shepeulti pellempuan." Sungut Arshi mengolok sang daddy, membuat Anelis sontak memperingati sang putri yang terkadang sedikit melampaui batas kesopanan.
"Sayang, tidak boleh seperti itu. Tidak baik."
Membuat gadis kecil itu sontak menunduk dengan raut wajah bersalah. "Sholli mommy, eundak enjin-enjin."
"Minta maaf sama daddy." Tegas Anelis.
"Sholli daddy. Ashi shallah. Eundak enjin-enjin."
"Baiklah, no problem, girl. Ayo, sekarang kita masuk."
Marvell bersama Anelis lengkap dengan anak-anak perlahan memasuki akuarium itu meninggalkan Marcus juga David yang lebih memilih menemani istri-istrinya menunggu di luar karena takut jika berjalan jauh akan membuat istri-istrinya kelelahan.
"Ku lihat anakmu masih sangat kecil, tuan David?" Seru Marcus melirik pada bayi kecil yang kini tengah meminum susu dari dot susunya.
"Ya, usianya baru 7 bulan. Tapi, yah... mau bagaimana lagi, kami kecolongan."
"Sepertinya anda kurang berhati-hati."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading semua
Saranghaja 💕💕💕