
°°°~Happy Reading~°°°
"Tidak apa-apa mas. Nanti saja. Mungkin sekarang masih awal pembukaan." Seru Ana dengan nafas tersengal.
Sudah sejam tiga jam lalu, ia sudah mulai merasakan adanya kontraksi. Namun ia masih dapat menahannya. Berdasarkan pengalamannya dulu, mungkin ini masih di tahap awal pembukaan, jadi ia belum ada niatan untuk menghubungi suaminya. Takut jika laki-laki itu terlalu heboh karena saking khawatirnya, mengingat Marcus yang begitu over protektif semenjak dirinya dinyatakan hamil buah hati mereka.
"Pembukaan? Pembukaan apa sayang? Perusahaan cabang?"
Membuat Ana sontak menghela nafas dalam. Pikiran suaminya itu tidak jauh-jauh dari pekerjaan, pekerjaan, dan pekerjaan. "Jalan lahir, mas... ."
"Ohhh... Jalan lah--" Marcus tercekat. Bola mata itu seketika membeliak.
"Jalan lahir!!! Kamu mau melahirkan?!!!"
Kan kan. Ana sudah dapat menebak jika Marcus akan seheboh ini nantinya. Persis seperti yang di wanti-wanti Anelis juga Hanna padanya.
"Iya, mas. Tapi mas tenang dulu--"
"Bagaimana mas bisa tenang, kamu mau melahirkan, sayang." Laki-laki itu bergerak cepat menuju ambang pintu.
"Mas mau kemana?" Seru Ana menatap bingung pada suaminya yang kini bergerak gelisah.
"Mau kasih tau bibi Yu untuk mempersiapkan persalinan kamu." Seru Marcus cepat. Laki-laki itu pun berlari meninggal Ana yang kini hanya bisa menghela nafas di tempatnya. Padahal di dalam kamar mereka tersedia interkom yang tentu saja dapat menyambungkannya pada pelayan di lantai bawah. Memang dasarnya Marcus saja yang tiba-tiba terlihat bodoh di situasi krusial seperti ini.
Tak berselang lama, laki-laki itupun kembali dengan keringat memenuhi keningnya. Apa laki-laki itu turun ke lantai bawah dengan anak tangga?
"Ayo sayang, kita ke rumah sakit."
Baru laki-laki itu membawa Ana dalam gendongannya, Ana terdengar menggeram kesakitan. Belitan tangannya menguat di leher Marcus. Wajahnya yang menahan sakit kini ia tenggelamkan di ceruk leher itu agar Marcus tak dapat melihat setiap kesakitannya.
"S-sayang... ."
"Ana tidak apa-apa." Seru Ana terengah. Semakin kesini kontraksi itu semakin kuat ia rasakan. Ngilunya semakin tidak tertahankan. Membuat Marcus yang melihatnya sontak dibuat tak tega. Isak itu akhirnya tumpah.
"Apa sakit? Mana yang sakit, heummm... Maafkan mas ya. Hiks." Tanpa malu, laki-laki itu menangis sembari merengkuh istrinya yang masih merasakan kesakitan.
"Tidak mas, ini tidak sakit kok..." Perempuan itu berusaha menguatkan suaminya yang kini malah terisak di tengah kesakitannya. Perempuan itu tak dapat membayangkan bagaimana jadinya jika suaminya itu harus melihatnya melalui setiap proses melahirkan yang tentu saja tidak mudah nantinya.
"Ayo kita ke rumah sakit, mas." Seru Ana sembari mengusap isak itu dengan jemari tangannya.
"Cepat keluarkan bayinya. Istriku sudah kesakitan." Seru Marcus begitu sampai di ruangan yang telah disiapkan untuk Ana jauh-jauh hari.
"Mohon maaf tuan, nyonya Ana masih pembukaan 4, jadi kita harus menunggu beberapa jam lagi sampai pembukaannya sempurna."
"A-apa kau bilang!!! Kau mau menyiksa istriku, huh!!!" Seru Marcus tak terima.
"B-bukan begitu tuan. Tapi memang prosedurnya seperti itu."
"Pokoknya aku tidak mau tau, keluarkan bayinya sekarang!!!"
"T-tapi, sekarang belum waktunya tuan."
"Mas--" rintih Ana sembari menahan sakit kontraksi yang ia rasakan.
"Ikuti saja apa kata dokter." Pinta Ana. Jika tidak begini, bisa saja laki-laki itu akan semakin menjadi.
"Sayang, mas tidak ingin membuatmu kesakitan terlalu lama. Kita keluarkan bayinya sekarang, heummm... ."
"Belum waktunya, mas." Ana maklum, Marcus benar-benar nol pengalaman dalam hal persalinan.
"Mas tidak tega sayang. Kita keluarkan bayinya sekarang ya... ."
"Mas keluar saja kalau begitu."
"K-keluar?"
"Mas berisik."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Ada yang kangen ngga sama othor, ehehehe
Happy reading semua
Saranghaja 💕💕💕