
°°°~Happy Reading~°°°
"Molla... Ashi... ."
Gadis kecil itu memekik girang kala mendapati kedua sahabatnya kini berangsur memasuki ruang rawat sang mommy. Maurin sontak beranjak, berlari, kemudian merengkuh keduanya penuh kerinduan.
"Molla Ashi tau eundak, adik bayi oek-oek na Mollin dah mullutush hihihi, Mollin sheunang sheukalli." Seru Maurin menggebu. Manik mata itu menatap keduanya penuh binar bahagia.
"Syukull syukull Mollin. Ashi shama Molla sheunang duga. Adek bayi oek-oek na gull oll boyi?" Timpal Arshi ingin tau.
"Eummm, adek bayi oek-oek na Mollin boyi Ashi." Seru Maurin sedih.
"Eundak pappa Mollin. Kita duga shama-shama boyi, hihihi..." Seru Maura menenangkan.
"Ayo, masuk dulu sayang. Jangan di depan pintu." Interupsi Anelis. Membuat ketiganya bergerak menuju sofa di dekat jendela besar.
"Adek bayi panggil shapa Mollin? Kummon shuppik-shuppik. Kashih tau kita bulldua." Seru Arshi ingin tau.
"Adek Acell, Ashi."
Gadis kecil itu tampak mengernyitkan dahi. "Kok shama shama adek bayi oek-oek na Ashi?" Protes Arshi.
"Bukan sayang, mereka berbeda. Adeknya Maurin namanya Marcell. Kalau adeknya Arshi, Arshell. Itu berbeda." Timpal Anelis mengoreksi.
"Memang siapa namanya, tuan Marcus?" Seru David ingin tau.
"Marcello Antonio Willson." Jawab Marcus. Dengan bangganya laki-laki itu memperkenalkan nama sang putra.
"Kau yang memberi nama?" Celetuk Marvell mulai memprovokasi.
"Tentu saja. Aku kan ayahnya." Ketus Marcus menimpali. Marvell selalu saja mengganggu kesenangannya. Benar-benar menyebalkan.
"Aku meragukannya." Benarkan? Marvell benar-benar menjengkelkan. Laki-laki itu seperti tidak pantas di panggil dengan ayah tiga anak. Laki-laki itu terlalu kekanakan. Berbeda dengan sang putra yang malah terlihat lebih dewasa.
"Shhhht. Kau tidak percaya?" Umpat Marcus tak terima.
"Nope." Jawab keduanya.
Membuat Marcus sontak saja meradang. Dengan kesal, laki-laki itu kemudian merogoh ponsel di celana miliknya. Membuka layarnya dan memperlihatkannya pada kedua temannya itu.
"Lihat, aku bahkan mencari banyak referensi. Apa sampai disini kalian masih tidak percaya?"
Dua detik pertama hening, namun di detik berikutnya tawa seketika menggelegar. Marvell dan David bahkan sampai terbahak hingga berhasil membangunkan bayi kecil itu dari tidur lelap nya.
"Apa kalian tidak bisa lebih keras lagi?" Seru Anelis memperingati. Jika tidak ditegur, ketiganya bisa saja semakin menjadi.
"Tuan Marvell hati-hati saja nanti malam." Celetuk David saat mendapati Marvell di amuk sang istri.
"Kamu juga tuan David." Bukan Marvell yang menimpali. Melainkan sosok Hanna yang kini sudah melemparkan tatapan sadis. Membuat gelak tawa itu semakin memekakkan telinga. Karma di bayar instan.
"Baiklah. Apa perlu aku ambilkan pemukul bisbol agar kalian bisa diam?" Anelis mengambil suara kala mengambil bayi mungil itu dari box nya. Marcell kecil harus segera menyu*su pada ibunya.
"Ampun sayang. Tidak lagi." Timpal Marvell takut terkena pinalti.
"Kalian para lelaki keluarlah dulu. Baby nya mau menyu*su dulu." Perintah Hanna.
"Apa kami juga termasuk?" Seru Mallfin ambil suara.
"Of course boy. Kalian juga seorang pria. Atau kalian ingin bergabung dengan gadis-gadis itu?"
"Oh come on dad. Mereka sangat berisik." Keluh Mallfin.
"Mereka selalu berisik entah itu dimana. Benar-benar gadis cerewet." Timpal Arsha menatap gadis-gadis itu dengan tatapan dinginnya.
Para pria itu memutuskan untuk keluar ruangan sebelum akhirnya Ana menyu*sui bayinya. Sedang gadis-gadis kecil itu kini sudah mendekat kala sadar jika bayi menggemaskan itu mulai membuka mata.
"Woahhhh, gemoyi sheukalli." Seru Arshi menoel-noel pipi chubby itu gemas.
"Millip adek Luish ya myh..." Timpal Maura gemas menatap pada adek keduanya yang juga tengah menyu*su dari dot susu nya. Sedang adik pertamanya tengah asik bermain di atas karpet dengan mainan-mainan yang dibawanya dari rumah.
"Molla shellu sheukalli ada adek bayi dua. Mollin tuma shatu."
"Ashi duga tuma shatu Mollin. Eundak pappa. Kata glanny dangan banak adek, nanti banak jajan. Daddy bisha mishkin Mollin."
Membuat tawa itu sontak menggema. Ana yang baru merasakan jahitan di pusat tubuhnya sontak mengeluh linu. Terpaksa ia menahan tawanya saja dari pada harus menahan sakit yang begitu melilit.
"Ya, begitulah. Anaknya udah ajaib, di tambah bisikan-bisikan dari granny nya. Makin ajaib jadinya." Keluh Anelis.
"Dan bisikan itu berlanjut pada anak-anak kita, An." Timpal Hanna tak habis pikir.
Hahahaha... .
"Sungguh mereka tidak tertolong." Timpal Ana.
"Ya, kadang aku menyerah untuk tidak menimpali saat mereka bertanya yang tidak-tidak."
"Kau juga begitu? Ku kira hanya aku saja." Keluh Hanna.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Siapa nih yang kangen sama trio cadel, hihihi
Happy reading semua
Saranghaja 💕💕💕