
°°°~Happy Reading~°°°
"Maukah Mallfin memaafkan daddy?"
Bocah laki-laki itu merengkuh erat sang mommy sebelum akhirnya mengangguk tanpa suara.
"Putra mommy memang hebat." Perempuan itu mengusap kepala sang putra, mengecupi wajah itu bertubi, sebelum akhirnya kembali merengkuhnya. Lega rasanya, setidaknya setelah ini ia tak akan ragu lagi dengan pilihannya.
"Apa mommy akan menikah dengan daddy?"
Pertanyaan itu membuat Ana termenung sejenak. "Apa Mallfin akan menyukainya? Jika ya, maka akan mommy lakukan."
"Apa mommy akan bahagia jika menikah dengan daddy?" Jawab Mallfin kembali melempar pertanyaan.
"Kebahagiaan mommy adalah kebahagiaan kalian, Sayang. Jika kalian bahagia, maka mommy akan bahagia." Tatapannya menghangat, jelas Ana tulus mengucapkannya. Kebahagiaan anak-anak jauh di atas segalanya.
"Jika menikah dengan daddy, apa mommy tidak akan bekerja keras lagi? Apa kita akan tinggal di rumah daddy dan tidak bertemu lagi dengan mommy nya Bobby?"
"Ya, tentu saja sayang. Daddy memiliki uang yang banyak, jadi mommy tidak akan bekerja lagi."
"Jadi kita tidak akan tinggal di rumah ini lagi? Kita akan tinggal di rumah daddy?" Ulang Mallfin memastikan.
"Ya, kita akan tinggal di rumah daddy, Sayang."
"Kalau begitu, Mallfin setuju mommy menikah dengan daddy. Karena, jika menikah dengan daddy, mommy tidak akan bekerja keras lagi, tangan mommy tidak akan terluka karena mencuci banyak baju di malam hari, mommy tidak akan dihina lagi oleh mommy nya Bobby, dan Maurin akan sangat senang karena ada daddy."
"Mallfin selalu memikirkan mommy dan Maurin. Mallfin harus memikirkan perasaan Mallfin sendiri, Sayang." Tangan itu mengusap wajah penuh keseriusan itu.
"Mallfin akan senang jika mommy dan Maurin senang."
"Tidak. Coba katakan pada mommy, bagaimana perasaan Mallfin pada daddy." Tuntut Ana meminta kebenaran.
"Eummm--"
"Tidak apa sayang, katakan saja pada mommy, heummm... ."
"Sebenarnya-- tadi daddy sangat keren sekali saat mengusir orang-orang jahat itu, mommy. Mallfin menyukainya."
"Baiklah, jadi Mallfin sudah bisa menerima daddy sekarang? Sudah bisa memaafkan daddy?"
"Ya. Mallfin sudah memaafkan--Daddy?"
Membuat Ana sontak mengernyit saat tatapan sang putra kini tak lagi fokus menatap ke arahnya. Ana berbalik, menatap pada sosok yang kini mematung di ambang pintu.
"Masuklah." Ana menyingkir, mempersilahkan Marcus untuk mendekat pada sang putra.
Dengan jantung berdebar, laki-laki itu kemudian mendekat pada sosok Mallfin yang kini juga terkejut akan kedatangannya.
Tubuhnya luruh, manik matanya menatap sang putra penuh tak percaya.
"Benarkah? Kamu sudah memaafkan daddy?"
Ragu Mallfin mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Terimakasih karena sudah memaafkan daddy, Boy."
Marcus melepaskan rengkuhannya, menatap dalam pada wajah sang putra dengan manik mata berkaca-kaca.
"Maafkan daddy karena selama ini daddy tidak ada di samping kalian. Daddy janji, daddy akan berusaha membahagiakan kalian. I promise."
Laki-laki itu bahkan tanpa sadar telah meluruhkan tangis. Sebahagia itu Marcus saat ini, saat sang putra akhirnya bersedia memaafkan dirinya, dunia seolah kembali menemukan sinarnya.
"Coba panggil daddy, boy. Daddy ingin mendengarnya."
Ragu Mallfin mulai membuka mulutnya. "Daddy." Lirihnya. Membuat senyum itu akhirnya terkembang.
"Sekali lagi."
"Daddy... ."
Membuat Marcus kembali merengkuh tubuh mungil itu. "Terimakasih. Daddy sangat menyukai panggilan mu. Mulai saat ini panggil daddy seperti itu, heummm... ."
Mallfin menatap Ana penuh tanya. Dalam suasana mengharu biru itu Ana mengangguk. Membuat Mallfin akhirnya membalas rengkuhan itu. "Iya, Daddy... ."
Suasana pecah. Apalagi saat Mallfin akhirnya mau menerima Marcus sebagai daddy nya. Rengkuhan itu membelit kuat. Rasa rindu itu nyatanya kini berhasil meluruhkan kebencian yang sebelumnya tertanam kuat dalam hati kecilnya.
Hingga akhirnya suara itu berhasil menyadarkan ketiganya.
"Daddy... ." Sosok kecil itu berkacak pinggang di depan pintu kamar dengan tubuh polosnya. Membuat Marcus sontak saja melepaskan rengkuhannya. Laki-laki itu kemudian berbalik menatap pada sosok itu dengan penuh keterkejutan.
"Daddy tinggalin Mollin sheundilli!!!" Sungut si kecil Maurin tak terima.
"Daddy--daddy tidak sengaja girl." Nyalinya menciut. Apalagi saat menatap pada wajah si kecil Maurin yang terlihat sangat kesal dengannya.
Gadis kecil itu tidak menghiraukan permintaan maaf sang daddy. Maurin beralih menatap pada sang kembaran yang menatapnya dengan kernyitan dahi seolah mengejeknya.
"Apin tullang. Apin tullik daddy na Mollin."
Baru saja Mallfin akan membuka mulutnya, gadis kecil itu sudah menangis histeris. "Hwaaaa mommy... Daddy shama Apin dahat, hwaaa..." Gadis kecil itu berlari merengkuh pada sang mommy. Membuat Marcus sontak gelagapan. Bagaimana jika putri kecilnya itu marah padanya.
"Girl, dengarkan daddy."
"Eundak mau. Daddy tinggal-tinggal Mollin shendilli shana. Mollin mallah shama daddy, hwa... Mommy... ."
Sial. Harus bagaimana ia menghadapi gadis kecil yang tengah uring-uringan itu.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading semua
Saranghaja 💕💕💕