
°°°~Happy Reading~°°°
"No mommy. Kallau adek bayi oek-oek ingin shapa-shapa kakak Mollin keunnapa eundak shuppik-shuppik aja. Dangan tundang-tundang pullut na mommy shepeulti itu. Eundak bolleh itu. Nanti pullut mommy shakit gimana?"
"Tidak sayang. Tidak apa-apa. Mommy malah senang kalau adek menendang di dalam perut mommy. Itu tandanya adek sedang bahagia di dalam perut mommy, sayang."
"Maura kau lama sekali. Kita akan terlambat?"
Membuat ketiganya sontak menatap pada sosok Mallfin yang tengah berdiri di ambang pintu. Bocah itu terlihat sangat kesal karena Maurin yang terlalu lama padahal mereka harus segera berangkat ke sekolah.
"Apin shini Apin... Mollin mau kashih tau Apin shekellet. Tadi adek bayi oek-oek na tundang-tundang pullut na mommy, Apin. Kashihan mommy ya Apin, Pullut na mommy pashti shakit kena tundang adek bayi oek-oek. Apin mallahin itu adek bayi oek-oek na Apin..." Seru Maurin dengan wajah penuh keseriusan.
"Benarkah, mommy? Apa mommy sakit karena adik bayi?"
Ana mendes*ah frustasi, belum selesai dengan permasalahan Maurin, kini bertambah si kecil Mallfin.
"Tidak sayang, mommy tidak apa-apa. Adek bayi memang biasanya suka menendang kalau masih ada di dalam perut. Seperti Maurin sama Mallfin dulu juga seperti itu. Kalian akan menendang kalau mommy mengajak kalian mengobrol."
"No mommy. Mollin eundak peullnah tundang-tundang mommy. Mollin duga eundak membell kallau peullnah dallam pullut na mommy. Beullalti Mollin eundak peullnah tundang-tundang mommy." Bela Maurin tak ingin menjadi yang tertuduh.
* membell : remember/ ingat
Baiklah. Anggap saja seperti ini. Jika ia menimpalinya lagi sudah dipastikan anak-anak akan terlambat nanti.
"Baiklah, sayang. Tadi Maurin sudah merasakan tendangan adek bayi. Mallfin juga ingin merasakannya?"
Ragu Mallfin mengangguk. Perlahan tangan itu mengulur menyentuh perut sang mommy. Hingga gerakan kecil itu terasa menggelitik di telapak tangannya yang kecil.
"Kami dulu juga seperti itu, mommy?"
"Ya, tentu saja sayang."
"Apa itu sakit? Apa kami menyakiti mommy dulu?"
"Tidak sayang, tidak sama sekali. Ini malah menjadi kebahagiaan mommy waktu mengandung kalian dulu."
Membuat Ana bisa bernafas lega. Jika tidak seperti ini, mungkin mereka akan berdebat sampai matahari terbenam.
🍁🍁🍁
"Mommy mommy, kita mau pulliksha adek bayi?" Seru Maurin berbinar.
"Ya, sayang. Maurin dan Mallfin mau ikut periksa adek bayi?"
"Mau mau mau. Mollin tudjuh mommy. Mollin mau ganti badju dullu biall tantik shepeulti plincess. hihihi... ."
Mobil itu berhenti tepat di pelataran rumah sakit. Tak ada perlakuan istimewa yang didapatkan, ini adalah permintaan khusus Ana pada Marcus untuk diperlakukan layaknya pasien lainnya. Hanya yang membedakan, kini Ana akan langsung menuju ruangan dokter tanpa harus capek-capek mengantre, ini permintaan Marcus agar istrinya itu tak harus menunggu panjangnya antrean.
"Onty... ."
Baru saja memasuki lobi rumah sakit, gadis kecil itu sudah memekik kuat kala mendapati Stephanie yang tengah melenggang bersama rekan-rekan dokternya. Membuat rekan-rekan Stephanie itu sontak menatap Marcus sungkan. Jika mereka bisa biasa saja dengan Stephanie, maka tidak dengan Marcus yang selalu saja menampilkan wajah dinginnya.
"Heiii, keponakan aunty ada disini. Sedang apa kalian disini?" Perempuan itu memilih bergabung dengan keluarga kecil itu dan membiarkan teman-temannya berlalu lebih dulu.
"Mollin mau lihat adek bayi oek-oek shudang beullmain mashak-mashak onty, hihihi... ."
"Masak-masak? Jadi adik bayimu perempuan?"
"Yesh onty. Adek bayi oek-oek na Mollin tantik sheukalli lohhh... Hihihi... ."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕