
°°°~Happy Reading~°°°
Sepanjang meeting kali itu entah mengapa Marcus merasakan gelisah sepanjang acara. Entah apa yang sebenarnya terjadi, laki-laki itu merasa tak nyaman dan terus memeriksa jam tangan di pergelangan tangannya. Baru pukul sembilan pagi, namun entah mengapa ia ingin cepat-cepat pulang dan melihat bagaimana keadaan istrinya saat ini.
"Kita lanjutkan meeting nya esok hari." Putusnya, membuat manager keuangan yang tengah melakukan presentasi itupun menghentikan kalimatnya. Seluruh peserta meeting itupun dibuat tercengang saat mendapati Marcus kini mulai bergerak meninggalkan ruang meeting tanpa konfirmasi.
"Ada apa, tuan? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Seru Felix sang asisten yang juga dibuat kebingungan atas tingkah Marcus yang tiba-tiba saja meninggalkan ruang meeting.
"Aku ingin pulang." Seru Marcus singkat.
Membuat Erick seketika itu memicing, tidak mungkin laki-laki itu berubah menjadi kekanakan dengan meninggalkan ruang meeting begitu saja hanya karena ingin segera kembali ke rumah dan memeluk istrinya, bukan?
Tapi, bukankah ini juga pernah terjadi dulu? Namun bedanya, dulu Marcus tidak sedang memimpin meeting, jadi sah-sah saja jika laki-laki itu memutuskan melanjutkan pekerjaannya di rumah.
"Apa ada sesuatu yang terjadi, tuan?"
Laki-laki itu berdecak. "Kau cerewet sekali, Fell."
"Saya harus membuat konfirmasi dengan para manager, tuan. Agar mereka tidak berasumsi yang tidak-tidak." Timpal Felix membela diri.
Membuat langkah itu seketika terhenti. "Aku bukan pria mes*um yang tiba-tiba saja pulang karena merindukan istriku, Fell. Catat itu." Tegas Marcus menunjuk wajah sang asisten dengan kejamnya.
"Baik, tuan."
"Tolong kau handel perusahaan saat tidak aku. Aku harus segera pulang." Putusnya lalu melenggang cepat meninggalkan Felix yang tampak mematung di tempatnya. Hatinya kini bertambah gelisah saja. Laki-laki itu bahkan tak segan mengendurkan dasi yang melingkar di lehernya. Sesak sekali rasanya.
🍁🍁🍁
"Sayang... ."
"Sayang... ."
"Honey?"
Pekikan itu menggema begitu pintu utama itu terbuka dan menampilkan sosok Marcus yang terlihat gelisah. Terlihat sekali dari garis wajahnya.
"Dimana istriku?"
"Nyonya Ana di dalam kamarnya, tuan."
Marcus segera melangkahkan kakinya menuju ruang kamarnya yang terletak di lantai 2 mansion mewah itu. Begitu pintu kamar terbuka, terlihat Ana yang kini terperanjat menatap ke arahnya. Mungkin perempuan itu kaget karena pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dengan sedikit kasar karena Marcus yang membukanya dengan tidak sabaran.
"Mas sudah kembali?" Seru Ana, setengah terkejut.
"Ya, kamu baik-baik saja kan?"
Perempuan itu tersenyum simpul. "Ana baik-baik saja, mas." Perempuan itu kemudian menurunkan pandangannya pada perut buncitnya. "Sepertinya adek sudah tidak sabar untuk melihat mas dan si kembar." Seru Ana sembari mengusap lembut perut membuncit itu.
"Maksud--"
"Ehmmm..." Ana memekik tiba-tiba, tangan kirinya seketika mencengkeram tangan kekar itu. Membuat Marcus seketika itu dibuat panik akan pekikan kesakitan sang istri.
"S-sayang, ada apa? Apa ada yang sakit, heummm... Dimana yang sakit?"
Perempuan itu masih memejam sembari mencengkeram lengan suaminya, membuat Marcus sontak saja bertambah khawatir.
"Kita ke rumah sakit, heummm... Mas khawatir. Mas takut kamu kenapa-napa."
Perlahan, rasa nyeri itu tak lagi menjalar, membuat Ana menghembuskan nafasnya kasar.
"Tidak apa-apa mas. Nanti saja. Mungkin sekarang masih awal pembukaan.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕