
°°°~Happily Reading~°°°
Universal studio Singapura tampak begitu megah dan indah, membuat ketiga gadis kecil itu menatapnya penuh binar.
"Wowww, beushall sheukalli." Seru Arshi menatapnya tanpa berkedip.
"Iya Ashi. Emiijing."
"Ashi mau pakai badu plinsess." Seru Arshi tiba-tiba. Membuat ketiga pasang suami istri itu dibuat gelagapan. Jika sang paduka ratu Arshi sudah bertitah, tentu mereka tak dapat mengelak. Apalagi dengan si kecil Maurin yang akan selalu mendukung ide-ide absurd Arshi yang terkadang di luar nalar.
"Iya Ashi, iya. Ide badush. Mollin tudjuh. Pashti nanti kita jadi millip shepeulti pllinsess, Hihihi... ."
"Tapi Ashi, kita eundak bawa badu plinsess. Shepeulti ini shaja eundak pappa." Timpal Maura tak ingin para daddy dibuat kerepotan sendiri.
"Eundak pappa Molla, daddy kita kan shutan?"
Arshi kemudian mengalihkan pandang, menatap ketiga daddy itu dengan wajah dibuat semenggemaskan mungkin.
"Daddy shutan. Ashi mau badu pllinsess, bolleh?" Mengedip-ngedipkan matanya sok imut.
Marvell menghela nafas dalam, bagaimanapun mengelaknya, Arshi pasti akan tetap keras kepala. "Baiklah, kalian main yang lain dulu, biar nanti bawahan daddy carikan."
"Hihihi, teullima kashih daddy shutan. Daddy shutan teullbaik."
Gadis kecil itu berbalik dan segera menyusul kedua temannya.
"Belleshh Molla, ahahaha..." Lapor Arshi cengengesan.
"Oh iya daddy, Ashi lupa..." Tiba-tiba gadis kecil itu menghentikan langkahnya.
"Daddy shama mommy shama onty oncle, tullush Asha shama Apin duga hallush pakai duga ya, nanti kita main plinsess shama-shama. Hihihi..." Seru gadis kecil itu cepat sebelum kemudian kabur tak menerima bantahan. Membuat Marcus sontak menggeram kesal. Apa lagi ini Tuhan.
"Oh no, shhhhit. Apa putrimu itu tidak bisa berhenti sejenak saja untuk tidak membuat ulah, heuhhh..." Decak Marcus tak terima.
Satu jam kemudian, ketiga keluarga kecil itu sudah bertranformasi menjadi keluarga kerjaan lengkap dengan baju-baju princess yang dikenakannya. Wajah para lelaki kini tampak kesal, bagaimana mereka yang seorang CEO kini malah berubah jadi badut di tengah keramaian demi menuruti keinginan absurd gadis kecil itu. Juga Arsha dan Mallfin, keduanya tampak menatap ketiga gadis kecil itu dengan tatapan sengit tak terima.
"Mereka benar-benar menyebalkan." Keluh Arsha menatap sinis pada trio cadel.
"Rasanya hidupku tidak pernah damai semenjak mereka bersatu." Timpal Mallfin menatap mereka jengah.
"Exactly."
Brakkk... .
Suara benda dibanting. Marvell tak segan-segan membanting ponsel itu hingga kini hancur berkeping-keping.
"Are you crazy?!!!" Seru pengunjung laki-laki itu tak terima.
"Kamu yang gila. Berani-beraninya kau mengambil gambar istriku huhhh... Mau ku cincang sekarang juga dan kujadikan tubuhmu menjadi sup?"
"Ck, memang siapa kau hah. Kau tidak berhak menggertakku disini. Kau tidak tau siapa aku? Orangtuaku orang terpandang disini. Hidupmu akan hancur jika macam-macam dunganku."
Membuat Marcus sontak saja ikut maju. "Heh, bocah ingusan. Kau yang tidak tau siapa kami."
Seketika, orang-orang berjas hitam dengan kacamata yang tersemat di atas hidungnya kini mulai menampakkan diri. Sangat banyak, hingga berjumlah lebih dari dua puluh.
"Perlu saya bereskan, tuan?" Seru sang kepala pengawal.
"Kasih dia paham, siapa yang telah dia usik kali ini."
"Dan untuk pelaku yang lain. Cari mereka dan singkirkan foto-foto yang mereka ambil di ponselnya."
"Ayo anak-anak, kita lanjutkan jalan-jalannya." Seru Marvell mengomando.
"Daddy, tadi keunnapa?"
"Tidak apa-apa, hanya seekor tikus kecil."
"Apa ada masalah, mas?" Seru Anelis khawatir.
"Tidak ada, sebaiknya kita lanjutkan saja jalan-jalannya. Tidak perlu khawatir."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
saranghaja 💕💕💕