Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Mencoba Saling Mengenal


89_______________


Lihatlah, wajah panik Ana begitu kentara hingga membuat laki-laki itu ingin meledakkan tawa.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan berharga, Marcus kemudian bergerak mendekat, mengikis jarak diantara keduanya hingga menyisakan jarak yang tak seberapa. Membuat Ana seketika itu menelan ludah kasar di tengah kegugupannya.


Apa ia tidak bisa melarikan diri saat ini?


Oh tidak.


Apa yang harus ia lakukan?


Tangan itu mencengkeram kuat pinggiran bathtub demi bisa mengurai segala kegugupan yang mendera. Sudah tak dapat dijabarkan lagi bagaimana perasaannya saat ini, bahkan wajahnya kini sudah merona tanpa bisa ditutupi. Dan wajah penuh kegugupan itu, membuat Marcus akhirnya tak tahan untuk meledakkan tawa yang sedari tadi ia tahan mati-matian.


"Mandilah. Aku tidak akan macam-macam. Sudah cukup untuk pagi ini." Seru Marcus menepuk halus pucuk kepala itu, membuat Ana sontak dibuat melongo. Jadi, laki-laki itu hanya mengerjainya?


"Kalau terlalu lama, aku tidak akan melepaskanmu." Seru Marcus yang sudah melenggang pergi meninggalkan kamar mandi.


Membuat Ana sontak beranjak dan segera mengunci kamar mandi itu rapat-rapat. Takut jika di tengah ritual mandinya, laki-laki itu tiba-tiba saja melenggang masuk tanpa permisi darinya. Bisa berabe urusannya nanti.


Hari beranjak siang, seharian itu Ana juga Marcus hanya menghabiskan waktu di atas ranjang sembari menonton tayangan televisi yang sungguh membosankan untuk Ana. Mengurus anak-anak jauh lebih menarik untuknya dari pada hanya duduk diam menonton tontonan yang sungguh membuatnya jenuh luar biasa.


"Ayo jemput anak-anak aja yuk mas..." Ajak Ana untuk kesekian kalinya. Tapi sedari tadi laki-laki itu terus saja menolaknya, mencari seribu alasan untuk bisa menghindar dari permintaannya.


"Ini kan akhir pekan. Biarkan saja mereka menginap di rumah mama dulu. Jarang-jarang mereka bisa menginap disana."


"Bagaimana kalau anak-anak malah merepotkan mama nanti, mas?" Seru Ana mencoba mencari alasan.


"Mama malah suka sekali direpotkan. Lihat saja, pasti nanti mama nagih minta anak-anak menginap disana lagi."


Ana tak lagi menimpali. Sepertinya akan susah membujuk suaminya untuk menjemput anak-anak hari ini.


Ana akhirnya mengangguk menyetujui. Tidak salah laki-laki itu meminta waktu berdua, karena setelah pernikahan mereka, keduanya tak sedikitpun memiliki waktu berdua. Membuat hubungan keduanya pun tak mengalami banyak peningkatan.


"Aku menyadari kita bahkan tidak saling mengenal dengan baik, mungkin dengan berbincang membuat kita lebih mengenal satu sama lain." Tutur Marcus mencoba membuka percakapan.


Keduanya kemudian mulai berbincang dengan hangat. Meski Marcus telah mencari semua informasi tentang Ana dulu, ternyata banyak yang tidak ia ketahui tentang sosok perempuan itu. Begitu juga dengan Ana. Kini Ana mengerti, Marcus bukan hanya sosok berwajah dingin yang irit bicara. Nyatanya, laki-laki itu begitu hangat dan ya, sangat perhatian.


🍁🍁🍁


Mobil mewah itu menghentikan lajunya tepat di kediaman tuan Regar. Setelah merengek seharian, akhirnya sore itu Ana bersama dengan suaminya menjemput kedua buah hatinya yang sudah dua hari ini mereka telantarkan. Memasuki kediaman megah itu, keduanya langsung di sambut dengan pekikan girang si kecil Maurin.


"Mommy... ."


Gadis kecil itu langsung berlari merengkuh sang mommy penuh kerinduan, binar bahagia itu terlihat jelas dari wajah menggemaskan itu, membuat Ana tak tahan untuk menjembel pipi chubby nya.


"Putri mommy cantik sekali. Maurin rindu mommy, tidak?"


"Ya mommy, Mollin lindu beullat-beullat. mau tium mommy banak-banak."


Gadis kecil itu pun melabuhkan kecupannya di wajah Ana. Sepertinya Maurin benar-benar merindukan sang mommy. Atau, apa ada maksud lain?


"Mommy, peushanan Mollin dah jadi?"


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading


Saranghaja 💕💕💕