
°°°~Happy Reading~°°°
Gadis kecil itu mengernyit. "Mommy na Mollin mommy Ana glanny, eundak mommy munantu. Glanny pikun ya?"
Membuat mama Elena seketika itu tergelak. "Iya iya. Anggap saja granny pikun. Granny pusing bicara sama kamu." Tangannya bergerak mencubit hidung kecil itu, membuat gadis kecil itu sontak memekik. "No... Shuttop glanny, nanti hidung Mollin tellputush."
"Ganti dengan belalai gajah kan bisa?"
"No no no..." Tolak Maurin. "Nanti Mollin eundak tantik. Mollin eundak shuka."
"Baiklah, terserah kamu saja."
"Ya, teullshellah Mollin shaja. Mollin eundak mau teullshellah glanny." Timpal gadis kecil itu tak ada habisnya. Membuat Ana mau tak mau akhirnya memberikan peringatan pada gadis kecilnya. "Sayang... ."
Lihat saja. Hanya seperti itu saja, gadis kecil itu langsung menurut pada perintah mommy nya. "Shiap mommy." Gadis kecil itu pun beralih pada mainannya yang sudah berserakan. Benar-benar gadis yang patuh.
"Mama kesini memang ada apa ma? Tidak biasanya mama berkunjung tanpa mengabari Ana terlebih dulu?" Seru Ana merasa heran saja. Biasanya, mama mertuanya itu akan mengabarinya terlebih dulu jika akan berkunjung.
"Tidak, tidak apa-apa. Mama hanya takut jika Maurin akan membuatmu kerepotan. Dan benar kan perasaan mama?"
"Tidak kok mah. Ana tidak kerepotan sama sekali." Sangkal Ana.
"Baiklah. Kamu bisa bilang begitu, tapi lain kali jangan menggendong Maurin lagi. Kamu akan kelelahan Ana. Jaga kesehatanmu juga. Jangan terlalu kecapean."
"Eummm... Baik ma."
"Kalian akan periksa kapan?"
"Insyaallah besok ma. Takutnya mual mas Marcus makin parah kalau tidak segera diperiksakan... ."
"Baiklah."
🍁🍁🍁
Usai Marcus berjibaku dengan mual muntahnya di pagi hari, Ana memutuskan untuk segera membawa suaminya itu bertandang ke rumah sakit. Takut jika lama dibiarkan, penyakit suaminya itu akan semakin serius nantinya.
"Untung mama tidak telat, An. Gara-gara papa nih..." Gerutu mama Elena pada tuan Regar yang baru saja turun dari mobilnya.
"Ma?! Apa yang mama lakukan disini?" Seru Marcus dengan suaranya yang lirih. Singa garang yang biasanya mengaung itu mendadak menjadi kalem karena telah dikalahkan dengan mual muntahnya di pagi hari.
"Mama mau temenin kalian periksa." Seru mama Elena tanpa basa-basi.
"Marcus tidak apa-apa, ma." Timpal Marcus. Tak ingin orang tuanya itu sampai mengkhawatirkan dirinya padahal kondisinya juga tidak terlalu buruk. Hanya mual muntah yang sangat mengganggu.
"Siapa juga yang khawatir sama kamu." Sinis mama Elena. Membuat Marcus seketika itu berdecak. Lalu, jika bukan dengan dirinya, mamanya itu khawatir dengan siapa sampai harus bela-belain kesini.
"Ayo An, dokter Laura sudah menunggu kamu." Mama Elena menggandeng paksa tangan Ana sampai perempuan itu dengan terpaksa melepaskan tangan suaminya. Mama Elena pun melenggang, meninggalkan Marcus yang hanya bisa mematung di tempatnya bersama sang papa.
"Ada apa dengan istri papa itu?"
"Sebentar lagi kamu juga tau." Seru tuan Regar sembari melenggang masuk dengan penuh wibawa. Menciptakan sebaris kerutan di dahi Marcus.
"Sama-sama aneh." Decaknya kemudian segera menyusul langkah lebar sang papa.
Sebenarnya, siapa disini yang tengah sakit. Kenapa ia, sang pasien, malah ditinggal dan tidak diperhatikan disini.
Sesampainya di ruang dokter Laura, Marcus memicingkan mata menatap pada dokter muda itu. Apa dokter perempuan itu yang akan memeriksa dirinya nanti? Tidak. Ia tidak sudi. Hanya istrinya yang berhak menyentuhnya.
"Ganti dokternya. Cari dokter laki-laki saja. Aku tidak mau tau!!!"
"Kamu mau istrimu di sentuh laki-laki lain?"
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕